Ada Tembok di antara Kita

Ku rindu suasana itu. Saat kita bisa tertawa lepas bersama. Bertemu, memang kita masih bisa seperti dulu dzohirnya. Namun, sial! Rasanya senandung ukhuwah ini seperti kaset lawas yang macet saat diputar, seakan ada sekat, tembok pembatas antara hatiku dengan hati kalian.
Entah! Entah aku yang menjauh, atau kalian malah yang mencoba menjauh dariku. Senyuman itu kini tak ku lihat setulus dulu. Jabatan itu kini tak ku rasa seerat dulu.  Dekapan itu kini tak sehangat dulu.
Sahabat, akankah tali persaudaraan yang masih awal dirajut ini akan terputus sekarang?
TIDAK!
Tidak sahabat! Aku tak rela, sungguh. Kalaulah hatiku harus terluka. Tak mengapa, aku rela. Ungkapkanlah! Jika memang hal itu dapat merekatkan untaian persaudaraan kita. Biarlah… Jangan pedulikan robeknya hatiku. Justru lebih remuk rasanya menghadapi situasi seperti ini.

#Sahabat yang merasa kehilangan

5 Juni 2012

ditemani selingkar purnama yang tersenyum cantik, yang mungkin kini merasa iba pada seseorang di pojokan kasur sana mendekap bantal sambil berlumur air deras melewati pipinya

Iklan