Pelajaran Hidup dari Kupu-Kupu

Kamis, 18 Oktober 2012

Teradang banyak hal sepele di duia ini yang kita abaikan. Adakalanya hal itu dipandang sebelah mata. Ya, sebelah mata jika orang yang memandangnya tanpa makna. Padahal luar biasa kandungan maknanya. Seperti halnya sesuatu yang sangat kecil yang ku temui tadi siang saat praktikum. Siang ini aku praktkum perlindungan hutan, tapatnya bagian hama. Jika mendengar kata hama, apa yang kau pikirkan? Serangga bukan? Ya, benar. Berbagai jenis serangga akan ku orek-orek di sini. Mulai dari praktiku pertama, aku disuguhi belalang dan sekarang paktikum ke dua aku disuguhi lebih banyak jenis serangga, salah satunya kupu-kupu yang akan aku kuak keberadaannya dalam pemaknaan hidup ini (belagu banget gue! hehe).

Kupu-kupu adalah salah satu serangga yang dalam hidupnya mengalami metamorfose sempurna atau yang dalam praktikum kali ini aku baru tau istilahnya adalah holometabola. Artinya, dalam setiap perubahan wujud saat perkembangannya, dia selalu berbeda habitat, karena sumber makanannya pun berbeda. Bukan ini kawan! Aku tidak bermaksud mengajari. Tapi, di sini aku ingin berbagi arti keberadaan kupu-kupu dalam pemaknaanku. Dia berawal dari telur, seperti halnya kita yang berawal dari ovum. Walaupun begitu dia berbeda dengan kita. Kita nyaman ada di dalam balutan kasih seorang malaikat yang menjelma menjadi seorang ibu. Tak pernah ditinggalkan, selalu dibawa kemanapun pergi. Tapi, telur kupu-kupu tidak. Dia ditinggal sampai tiba saatnya menetas. Dia tidak protes. Dia tidak merasa diabaikan. Dia malah bersyukur karena Allah Swt., Tuhan mereka dan Tuhan kita masih memberi kesempatan yang luar biasa, yaitu kesempatan hidup untuk menebar kebaikan.

Lantas setelah dia menetas, apakah dia dimanja, diasuh, dan dirawat layaknya kita? Tidak, kawan! Dia harus hidup mandiri. Dia yang setelah menetas kita sebut dengan “ulat” harus merasakan dingin saat hujan dan bersembunyi di bawah daun atau buah-buahan yang ada. Saat lapar, dia harus merangkak sendiri mencari sumber tenaga dari pucuk-pucuk daun yang mungkin malah kita ambil. Betapa serakahnya kita, manusia. Ulat juga penyabar dan pantang menyerah. Saat dia diejek karena memang menjijikan, lantas dia malah bersungguh-sungguh untuk membuktikan pada kita bahwa dia mampu merubah dirinya menjadi lebih baik. Hingga kita malah akan berbalik memujinya.

Apakah kau kira ulat itu serakah karena kebun teh milikmu tak panen dengan baik? Sebab, pucu-pucuknya habis dimakan ulat? Jangan lihat hanya satu sisi. Perhatikanlah! Saat dia sudah kenyang, dia berhenti makan dan berpuasa. Dibungkus diriya dengan balutan-balutan sutera. Dia berdzikir di dalamnya. Memuji Allah Swt. atas segala kenikmatan yang telah diberikan kepadanya. Pernahkah engkau mendengar suatu dalil yang menyatakan bahwa siapa yang bersyukur, maka akan Allah Swt. tambah nikmatnya? Rupanya benar kawan, terbukti! Ulat bersyukur kepada Allah Swt. dengan  cara berpuasa itu, sering rupanya kita sebut dengan nama pupa atau yang lebih memasyarakat ‘kepompong’. Maka, atas syukur dan sabarnya, Allah Swt. mengubah dia menjadi bentuk yang sangaaaaat cantik, ‘kupu-kupu’. Orang-orang yang sempat mengejeknya dulu, kini berbalik memujinya karena warna dan benuk sayap yang sungguh menawan. Bahkan mereka iri. Allah Swt. pun memberi kebebasan kepadanya untuk mudah berpindah tempat dengan kemampuan terbangnya.

Subhanallah, luar biasa bukan serangga itu memberi makna hidup kepada kita? Malu rasanya jika kita sebagai manusia yang telah diberi kesempurnaan akal oleh Allah Swt. tidak dapat jauh lebih baik daripadanya. Sungguh, masih banyak hikmah yang dia berikan dari sisi pandang yang lain. Yuk, resapi hal-hal sekeil apapun yang ada di sekitar kita! Cobalah untuk lebih peka melihat sekeliling kita. Jangan lupa untuk selalu bersyukur kepada Allah Swt.  🙂

Wallahu’alam

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s