Aku Tak Hidup Sendiri

2Butiran bening ini terus menetes dari pelupuk mataku. Mengguyur pipi hingga jatuh ke muara hijau kasurku. Sesak. Berat. Entah apa yang membuatku begini. Tiba-tiba sedih menyelimuti jiwa yang lelah kini. Cahaya, kemana engkau yang selalu menerangiku di kegelapan? Sutera, kemana engkau yang selalu membelai lembut kusutnya jiwa? Sandaran, kemana engkau yang selalu menopang beratnya beban hidup? Pegangan, kemana engkau meninggalkanku hingga ku kini gontai karena tak mampu berpijak dalam kerasnya dunia? Sumber kekuatan, kemana engkau semua? Aku membutuhkanmu sekarang! Aku sedang lelah, berada di puncak kelelahan. Membutuhkanmu untuk dapat turun mencari kekuatan di lembah sana.

Mamah, aku rindu. Biasanya dalam keadaan seperti ini, engkaulah yang berada di sampingku. Menyalakan cahaya agar aku membuka mata. Karena kau tahu aku takut dalam kegelapan. Di sampingku, sambil mendekapku engkau selimutkan halusnya belaian suteramu. Lembuuuutt. Ketulusan cintamu damai ku rasa. Menerobos pori-pori kulit, mengikuti aliran darah. Memberi kesegaran udara yang ku hela dan menyejukkan hembusan napasku.

Bapak, ksatria hidupku. Ku butuh engkau. Kau setegar baja, walau ku tahu tulangmu mulai keropos kini. Hidup ini memang keras. Namun, pundakmu tak rapuh kau tegakkan untuk sandaranku. Ya, sandaranku di saat ku lemah seperti ini. Aku rindu masa itu. Saat ku terjatuh dan engkau menggendongku. Membasuh darah di lukaku dengan air cintamu. Lalu, kau salurkan kekuatan lewat doa dan nasihat-nasihat bijakmu, agar aku tidak larut dalam kesakitan hidup ini.

Mamah, bapak, anakmu kini telah dewasa. Aku sadar itu. Namun, aku takut. Aku belum siap mengarungi samudera kehidupan ini sendirian. Aku masih butuh mamah dan bapak untuk membantuku menyiapkan perahu, mengajariku untuk menjadi nahkoda handal. Karena aku masih belum bisa membayangkan jika suatu saat ada ombak besar menerjangku. Aku takut perahuku terbalik dan tenggelam. Atau saat nanti ku temui batu karang yang menghalangiku untuk dapat melaju. Aku tak mau diam di tempat, perjalananku masih sangat jauh untuk sampai tujuan. Lantas apa yang harus aku lakukan, mamah? Apa yang harus aku perbuat, bapak? Tolong, tolong, tolong jangan tinggalkan aku dalam kesendirian!

Seketika aku terhentak. Ku seperti mendengar lembut suara mamah. Berbisik menyampaikan kasih sayang tulusnya. “Nak, mamah masih di sampingmu dimanapun kamu berada. Bukankah lantunan ayat-ayat Illahi lebih bercahaya untuk menerangi hidupmu? Bukankah kain jilbab itu lebih lembut dari sutera untuk menjagamu dari segala kesedihan dan kejahatan?”

Benar, mah! Saat ku takut dalam gelapnya hidup, ALLAH yang menerangiku dengan cahaya-NYA. Lewat Kalam-Kalam Suci-NYA, aku ditunjuki cahaya agar bisa tetap berjalan mengarungi luka-liku kehidupan. Benar, mah! Jilbab ini rasanya lebih lembut dari sutera. Aku merasa selalu terjaga dari kenistaan. Jilbab ini menjaga kehormatanku. Menjaga rasa malu ku dan mengajariku tentang bagaiman seorang muslimah harus bersikap.

Sejenak kemudian angin kembali membisikan suaranya. Kali ini bukan suara lembut yang ku dengar. Namun, suara penuh ketegasan. Aku tahu ini suara bapak yang dititipkan pada angina untuk disampaikan padaku. “Nak, kau bisa menjadi setegar batu karang, yang tetap bertahan meski ombak besar terus menghantam. Kau punya kekuatan yang amat dahsyat. Kau bisa mengumpulkan kekuatan itu minimal lima kali dalam sehari. Bapak yakin kau tahu itu! Ya, kau benar, kekuatan itu ada pada sholat wajib lima waktu. Jangan sampai meninggalkannya walau ragamu sudah sangat lelah, bahkan darah berhamburan. Jaga ia, jaga sholatmu, minimal sholat yang lima waktu! Itu nak rahasia bapak bisa kuat sebagai sandaran mu, kapanpun”.

Benar, Pak! Aku memang merasakan kekuatan dahsyat itu saat sholat. Rasanya langit dan bumi memberikan kekuatannya padaku. Apalagi di saat sepertiga malam. Sesuai janji ALLAH, aku benar-benar merasakan para malaikat turun dan memberikan kemuliaan pada hamba ALLAH yang berdzikir lewat qiamullail pada-NYA. Atau pada saat matahari naik sepenggalah. Aku merasakan seakan dunia dan seisinya menjadi milikku.

Subhanallah, alhamdulillah, laa ilaaha illallah, allahu akbar. Beruntungnya aku dilahirkan sebagai muslim. Sehingga aku yakin dapat mengarungi samudera hidup ini hanya dengan perahu dan pengayuhnya. Karena yang menggerakkannya bukan angina, bukan aliran air, bukan pula mesin-mesin canggih. Tapi, ALLAH yang menggerakkan itu semua. Aku juga yakin, bukan aku yang dapat mengayuhnya hingga ke tepi tujuan. Tapi, ALLAH yang menggerakkan sel-sel dalam tubuh ini agar bisa tetap mempertahankanku untuk mengayuhnya.

Aku juga beruntung memiliki seorang mamah sepertimu. Mamah yang mengajariku akan hebatnya seorang wanita menjaga kehormatannya. Menjaganya dalam ucapan, perbuatan, dan akal. Aku pun beruntung memiliki bapak sepertimu. Bapak yang mengajariku bahwa tiada kekuatan selain ALLAH. ALLAH yang menjadikan hidup terasa hidup. Terimakasih Yaa ALLAH, termakasih Tuhan ku, telah memberiku hidup yang luar biasa dan telah menganugrahkan orang-orang luar biasa di sampingku.

Bogor, 3 November 2012

Munira Naylatama Muttaqin

Di kamar sederhanaku, di Asrama Etos Putri

Tulisan yang sempat tertunda dalam buku catatan teman setiaku

sumber gambar: http://photos-a.xx.fbcdn.net/hphotos-ash3/574873_454008361291727_806271819_a.jpg

Keyakinan yang Terbalut Kabut Kesabaran

Hujan mengiringi aliran bening buah ketidakpahamanku kini. Ya, entah bodoh, tolol, bego atau apalah namanya. Hingga kini ku masih belum juga faham dengan ini semua. Apa yang sebenarya ku rasakan? Apa yang sebenarnya ku inginkan? Apa yang sebenarnya ku beri?

Satu tahun ku lalui ini semua. Mulai semester 2 ku hidup dalam lingkungan yang entah apa namanya, ku tak mengerti. Awalnya fine ku tampil PeDe bahkan mendominasi ruang itu. Sejenak ku merasa nyaman karena adanya pengakuan akan keberadaanku di sana. Lambat laun ego masing-masing mulai memuncak. Laksana lahar, asling meletup-letup satu sama lain. Yang satu menutup yang lain, yang satu mendominasi yang lain. Di sana mulai ku rasa ada hal yang aneh, tidak beres.

Entah tergeser atau memang aku yang menggeser sendiri keberadaanku di sana. Sedikit demi sedikit aku mundur. Pelik melihat semua. Jadi, aku pikir lebih baik menyelinap daripada ikut berdesakan dalam suhu tak normal itu. Semakin lama, ku rasa semakin tak nyaman. Seperti ada yang mendalangi semua ini. SIAPA? Itu pertanyaanku! APA? Apa maksudnya jika memang iya ada dalang di balik ini semua?

Dunia memang fana. Banyak misteri yang sebetulnya belum terkuak. Terkadang heran melihat ini semua. Untuk apa semua ini mereka lakukan? Tenar? Sungguh, ALLAH yang patut  dilihat dan dijunjung selalu. Jabatan? Sungguh, ALLAH yang menguasai langit, bumi, dan segala yang berada di dalamnya. Lantas apa, puja dan puji? Apalagi ini, ALLAH yang pantas diberi puja dan puji, tiada selain-NYA.

Aku harus memaksa diri untuk menerima kenyataan bahwa mereka memang blum paham. Aku tak dapat memaksakan kehendak, memaksakan pemahaman, atau pun memaksakan prinsip yang ku ambil. Hanya dapat bersabar dalam do’a, suatu saat nanti mereka akan paham akan maksudku. Tak mengapa jika sekarang aku harus sakit. Tak mengapa jika air mata ini bersedia menjadi saksi perjuangan. Tak mengapa jika hati ini sanggup kebal terhadap tusukan-tusukan meyakitkan dari mereka. Karena ku yakin kemenangan itu mutlak. Suatu saat nanti. AKU YAKIN !!!

 

Ku menulis ini setelah praktikum dendrologi (12-12-12)
Ditemani kecambuk di hati sampai berderainya mata ini
Berderai oleh aliran suci, murni dari hati

Kursi di pojok belokan itu menjadi saksi

Bogor, 12.12.12