Keyakinan yang Terbalut Kabut Kesabaran

Hujan mengiringi aliran bening buah ketidakpahamanku kini. Ya, entah bodoh, tolol, bego atau apalah namanya. Hingga kini ku masih belum juga faham dengan ini semua. Apa yang sebenarya ku rasakan? Apa yang sebenarnya ku inginkan? Apa yang sebenarnya ku beri?

Satu tahun ku lalui ini semua. Mulai semester 2 ku hidup dalam lingkungan yang entah apa namanya, ku tak mengerti. Awalnya fine ku tampil PeDe bahkan mendominasi ruang itu. Sejenak ku merasa nyaman karena adanya pengakuan akan keberadaanku di sana. Lambat laun ego masing-masing mulai memuncak. Laksana lahar, asling meletup-letup satu sama lain. Yang satu menutup yang lain, yang satu mendominasi yang lain. Di sana mulai ku rasa ada hal yang aneh, tidak beres.

Entah tergeser atau memang aku yang menggeser sendiri keberadaanku di sana. Sedikit demi sedikit aku mundur. Pelik melihat semua. Jadi, aku pikir lebih baik menyelinap daripada ikut berdesakan dalam suhu tak normal itu. Semakin lama, ku rasa semakin tak nyaman. Seperti ada yang mendalangi semua ini. SIAPA? Itu pertanyaanku! APA? Apa maksudnya jika memang iya ada dalang di balik ini semua?

Dunia memang fana. Banyak misteri yang sebetulnya belum terkuak. Terkadang heran melihat ini semua. Untuk apa semua ini mereka lakukan? Tenar? Sungguh, ALLAH yang patut  dilihat dan dijunjung selalu. Jabatan? Sungguh, ALLAH yang menguasai langit, bumi, dan segala yang berada di dalamnya. Lantas apa, puja dan puji? Apalagi ini, ALLAH yang pantas diberi puja dan puji, tiada selain-NYA.

Aku harus memaksa diri untuk menerima kenyataan bahwa mereka memang blum paham. Aku tak dapat memaksakan kehendak, memaksakan pemahaman, atau pun memaksakan prinsip yang ku ambil. Hanya dapat bersabar dalam do’a, suatu saat nanti mereka akan paham akan maksudku. Tak mengapa jika sekarang aku harus sakit. Tak mengapa jika air mata ini bersedia menjadi saksi perjuangan. Tak mengapa jika hati ini sanggup kebal terhadap tusukan-tusukan meyakitkan dari mereka. Karena ku yakin kemenangan itu mutlak. Suatu saat nanti. AKU YAKIN !!!

 

Ku menulis ini setelah praktikum dendrologi (12-12-12)
Ditemani kecambuk di hati sampai berderainya mata ini
Berderai oleh aliran suci, murni dari hati

Kursi di pojok belokan itu menjadi saksi

Bogor, 12.12.12

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s