Aku dipilih-NYA

Seketika semua harapku runtuh

Hanya dengan beberapa huruf di layar kaca itu

Aku tak berharap akan itu

Mengapa semua tidak sesuai prasangka?

Apa yakinku kurang atau berbelok?

Atau inikah ujian dari-MU

Karena KAU ingin tau seberapa kuatnya aku

Sungguh aku hanya tulang yang rapuh

Danging yang reot

Kulit yang kerut

Sepercaya itukah Tuhan kepadaku

Hingga ujian berat ini berada di pundakku

Berat ku menopangnya

Rasanya tulang-tulang rapuh ini akan segera remuk

Menyatu dengan tanah

Melebur

Tuhan, sandiwara apa lagi ini?

Mungkinkah ku dapat memerankannya?

Hingga detik ini aku masih percaya kepada-MU, Tuhan

Aku yakin ENGKAU tidak mungkin salah sasaran

Jika memang iya aku orang yang tepat

Bantu aku untuk menembus lorong ini

Melewati gerbong-gerbong gelap

Senyap, sunyi, hanya sendiri

Tapi, KAU tetap menemani

Aku kuat bersama-MU, Tuhan

Lewat tangan-tangan-MU aku mampu menahan beban ini

Lewat kaki-kaki-MU aku mampu tetap berdiri

Berlari, menuju cahaya di ujung lorong kehidupan

Akan ku raih sinar kemenangan itu

Ku ambil dan ku persembahan untuk-MU

Sebagai bukti bahwa aku memang tepat ENGKAU pilih

ENGKAU pilih dalam babak sandiwara ini

Dunia…

Semu, tiada yang kekal

Terimakasih Tuhan telah mengkokohkanku

Aliran kekuatan-MU nyata ku rasa

cahaya

29 Januari 2013; 17.54; di Cianjur

Ditulis saat merasa benar-benar jatuh, merasa sakit dan tak kuat akan ketentuan yang telah ALLAH berikan. Namun, sebentar kemudian langsung tersadar. Betapa lembut teguran ALLAH lewat kejadian itu. Masih ada semester genap untuk memecut semangat ini, hingga kencang larinya, dan sampai target dengan lebih cepat. Pasti bisa! ALLAH saja yakin denganku. Mana mungkin aku tidak yakin dengan diri sendiri. Astaghfirullah astaghfirullah astaghfirullah. Merasa sangat berdosa sempat berpikir negatif terhadap ketentuan ALLAH. Semoga ALLAH mengampuni.

Sekarang saatnya pasang target dan benar-benar sungguh-sungguh dalam menggapainya. Aku YAKIN BISA dengan izin ALLAH! Bismillah.

 

sumber gambar:

Bimasakti-ku

bimasakti

Bogor, 13 Januari 2013

Banyak cerita hikmah yang dapat diambil dari obrolan ringan bersama teman-teman. Berawal dari sebuah curahan hati, melebar mencari makna dalam kelamnya kabut kehidupan. Ternyata jika kita menyelamik kehidupan mereka lebih dalam, rasanya luar biasa dahsyat. Realita hidup ini tidak hanya sebatas mempertahankan, tapi juga memperjuangkan!

Dia, panggil saja Merkurius. Jangan tanyakan mengapa aku mengambil nama itu. Bagi yang sudah paham, jangan berisik! Merkurius, orang yang ku kenal sangaaaaat dewasa. Pantaslah begitu, kerasnya kehidupan menganugerahkan keluarga super tangguh kepadanya. Sedikit introvert, bisa jadi. Atau mungkin aku-nya yang belum siap membuka semua pintu untuk segudang kisahnya. Aku masih belum tau cara agar bisa lebih dekat dengannya. Tapi, ini sebuah prestasi, ketika dia mau sedikit bicara denganku. Semoga lambat-laun aku dapat lebih membuka pintu untuknya. Aku rela kok dijadikan ‘tempat sampah’. Tempat yang menampung sampah-sampah kesedihannya. Lalu ku daur ulang menjadi benda kebahagiaan yang mampu menyinari bola matanya. Aku suka melihatnya bahagia. Matanya memancarkan sinar, cantik sekali.

Planet selanjutnya, Venus. Planet kedua yang sebenarnya bontot ini jelas terlihat lebih manja. Wajarlah, aku tk menyalahkan. Ada rasa haru saat mendengar kisahnya. Hampir persis dengan yang aku alami. Berawal dari ‘gulung tikar’. Karir yang telah dibangun bertahun-tahun bahkan berpuluh, ludes hanya karena kedengkian orang lain. Bukan, bukan, bukan menyalahkan orang lain, bukan mengkambing hitamkan mereka atas takdir ini. Kini mencoba menerima segalanya dengan ikhlas. Belajar meyakini bahwa inilah takdir ALLAH. Bisa jadi bukti kasih sayang ALLAH kepada hambaNYA agar lebih mampu memaknai hidup. Bisa jadi ALLAH ingin melihat lagi kerja keras itu. Kerja yang dimulai dari nol untuk mencapai puncak kejayaan. Atau mungkin jalan menuju ke sana ada padamu Venus. Ya, mungkin ALLAH mengutusmu untuk membawa keluargamu ke puncak kejayaan itu. Semangat kawan! Eh, aku lupa, engkau tak suka kata semangat, bukan? Maaf ya.

Ada lagi, si cuek ‘Mars’. Cuek? Sebenarnya gak juga sih. Tapi, kalau dibandingkan di antara kita, sepertinya dia memang sosok tercuek. Hehehe, piiiiiiece sobat. Ini salah satu bukti perhatianku kepadamu. Katanya di Mars itu panas. Cocok nih buat dia yang selalu berambisi untuk segudang prestasi. Dari cerita-cerita yang Mars bagikan, aku menangkap sinyal bahwa ayahnya adalah sumber utama kekuatan. Bagai magma yang mendidih di pusat planetnya. Betapa sayangnya dia kepada keluarganya, terlebih kepada ayahnya. Sempat ngiri dengan suasana kehangatan keluarganya. Mungkin bukan hanya aku, tapi ‘kami’. Sepertinya keluarganya paling harmonis di antara keluarga kami. Bersyukurlah, Mars. Kebahagiaan sesungguhnya adalah itu. Jaga mereka! Jangan mengecewakan pengharapan mereka atas prestasimu. Kamu pasti bisa. Aku menangkap aura itu darimu.

Lah ini dia si tangguh Jupiter. Cewek macho katanya. Tapi, aku akui hatinya subhanallah lembut berkali-kali lipat dariku. Peka banget. Tapi, kayaknya dia bingung untuk mengekspresikan kepeduliannya itu. Bertolak belakang dengan Mars, Jupiter sempat bilang bahwa ia pernah merasa benci terhadap ayahnya. Lingkungan adatnya memang keras. Tapi, sungguh dia sangat sangat mencintai keluarganya. Dia baru menemukan makna pentingnya kebersamaan disbanding dengan liburan yang mewah, justru kini setelah dia beranjak dewasa. Tempat wisata sebagus apapun tidak dapat menggantikan kebersamaan keluarga, walau hanya sekedar makan bareng di pinggir sungai yang penuh dengan indahnya gemericik aliran air hulu ke lembah. Semoga kau dapat mengulangi moment itu Jupiter. Aku mendoakanmu. Jupiter memang terkadang mengesalkan. Tapi, aku kembalikan semua pada budaya adatanya. Sekarang yang pasti aku sangat menyayanginya. Semoga dia juga begitu.

Ada satu lagi, aku beri nama dia Saturnus. Aku suka planet itu. Cincinnya bagaikan tali ukhuwah yang mengelilingi kebersamaan kami. Salut banget aku padanya. Dibesarkan tanpa ayah dan ibu. Mereka ada, namun seperti tidak nyata baginya. Kasih sayang nenek yang mengalir dalam darahnya. Namun, itu semua yang menempanya menjadi planet yang sangat kuat. Saturnus orang yang luar biasa pengorbanannya yang perna aku kenal. Dikala dia merindukan kasih sayang, maka dia yang memberi kasih sayang itu lebih dulu. Aku merasakan ketulusan itu, menembus lewat pori-pori bersemayam dalam jiwa. Ku tau kau tak ingin nasib serupa menimpa adik-adikmu. Jaga mereka, kawan! Curahkan kasih sayangmu seluas angkasa. Aku yakin ayah dan ibumu bukan tanpa alasan meninggalkanmu dalam kesepian. Semua mereka lakukan untuk kebaikanmu. Kau hanya butuh waktu menyelami makna tersembunyi yang mereka berikan. Tetap semangat, Saturnus! Wujudkan mimpimu untuk mengumpulkan malaikat-malaikat duniamu itu. Good luck!

Itulah ceritaku, Bumi, tentang sekilas kisah-kisah menakjubkan teman-temanku. Ya sekilas, karena bisa jadi akan ku bagi lagi kisah-kisah inspiratif mereka yang lainnya di sini. Setiap hari kami berjalan beriringan mengitari matahari tanpa bicara tanpa berdebat. Hanya patuh dan tunduk pada perintah ALLAH. Di balik keteraturan lintasan kita, kalian banyak menyimpan makna. Lain kali sampaikan lagi kepadaku. Aku mau mendengarkanmu, menyimakmu, dan menjadi penyunting kisahmu. Semoga akupun bisa jadi penasihat yang bijak untukmu. Hanya saja terkadang aku bingung menyampaikannya.

Oh  iya, sobat, adakah kau bertanya tiga planet setelahnya? Kalau Pluto, ada kabar dia sudah dinyatakan menghilang. Semoga ALLAH menempatkannya di tempat yang lebih baik. Lalu, bagaimana dengan Neptunus? Hemm… dia kini sudah mempunya teman baru dalam dunia Perahu Kertas-nya. Lantas, Uranus? Aku belum menemukannya. Aku berharap Uranus akan segera datang padaku dan membagi dunianya pada makhluk di bumi ini. Aku menunggumu, Uranus. Bisa jadi itu engkau!

sumber gambar: http://microsite.kidnesia.com/faktabaru/images/stories/galaksi-bima-sakti.jpg

Ujian Oh Ujian

ujian

Luar biasa! Hari ini gue ujian terakhir departemen di semester awal masuk fakultas, semester 3. Gak kayak hari-hari sebelumnya, di matkul ini gue keluar lebih cepat. Dewa banget!! Hahaha… Bukan karena yakin akan jawaban. Tapi, gue udah mentok mikir. Hah daripada duduk terus di kursi panas sambil melongo gak jelas, kucap kiceup capluk! Mending udah aja keluar, lebih tenang kayaknya. Tinggal banyak doa. Kali aja keajaiban akan keberuntungan berpihak sama gue. Ngarep ALLAH membuat tulisan-tulisan jawaban gue jadi pada bener. Ngimpi pisan gue 😀

Padahal waktu masih nyisa buanyaaak loh, hampir satu jam lagi menuju waktu habis. Tapi, ya udahlah, mentok tok tok tok, gelap semua, gak ada cahaya buat nembus celah jawaban. Mending sekarang gue bergalau ria, bermunajat kepada ALLAH sambil menunaikan amalan sunnah di waktu matahari sepenggalah naik. Siraman air yang membasahi wajah, tangan, rambut, dan kaki terasa sejuk seakan menerobos pori-pori. Memberi aura positif pada sel-sel yang telah kecapean setelah keras berpikir tadi. Balutan kain putih membungkus diri ini, memberi kehangatan di tengah dinginnya Bogor yang tiap hari akhir-akhir ini diguyur hujan, gak pagi gak siang gak sore gak malem, pokoknya gak nentu. Saat takbir dikumandangkan, duuaaaaarrrrr!!! Seakan langit terbelah, memberi celah menuju ke Arsy yang mulia. Allahu akbar… allahu akbar… allahu akbar… nikmat rasanya!

Gue berdoa semoga ALLAH ngasih gue keajaiban di semester ini. Takut banget gue, cius deh! Pengharapan dengan kenyataan kayaknya sulit untuk sejalan. Tapi, keyakinan gue, beuuh… jangan diragukan lagi. Pokoknya banget, banget, banget! Gue yakin dengan dalil yang menyebut bahwa ALLAH itu sesuai prasangka hamba-NYA. Gue juga yakin bahwa doa itu adalah senjata utama umat muslim. Gue pun yakin dan sangat sangat pisan banget yakin bahwa ALLAH itu Maha Kuasa atas segala sesuatu. Kun fayakun!

Kini tinggal satu matkul lagi yang masih mengunci gue dalam perjuangan semester 3. Yaaa walaupun ntu matkul SC, tapi tetep aje gue mesti berusaha mati-matian, sampe berdarah-darah, dan terseok-seok dalam memperjuangkannya di jalan jihad ilmi ini. Harga mati bagi seorang da’I untuk meraih prestasi! Pokoknya, sabisa-bisa kudu bisa insyaallah pasti bisa! Ganbatte Munay-chan ^_^

Bogor, 15 Januari 2013