Duhai Jiwa

Munira/ Bogor, 15 Februari 2013

nachdenklich

Pada kepingan suci itu ku termenung

Menelusuri arti adanya raga ini

Kosong, hampa, sepi

Butuh genderang agar ramai bersuara

Hingga pecah keheningan jiwa

Bukan, bukan masalah takdir yang kau kira

Ini tentang jiwa yang hampa

Jiwa yang berteriak lelah

Seakan rontok dari akarnya

Butuh penopang agar tak tumbang

Jangan sampai sesal telat berjumpa

Menghampiri di penghujung cerita

Sukma ini lelah dengan semua!

 

Sumber gambar: http://2.bp.blogspot.com/-VAiyIedRAEg/TwbobIek4zI/AAAAAAAABKM/NCXUJefMXVw/s1600/frust-menonggeng.jpg

Biomassa

12 Januari 2013

biomassa

TARGET 2013 TIDAK TELAT !!!

Jargon itulah yang tertanam di jiwaku sebagai resolusi 2013. Bukan tidak berhasil. Namun, butuh waktu alias proses. Pagi ini di jam kimia kayu yang kuliahnya mulai jam 08.00, aku terlambat masuk. Untungnya dosen belum memulai pelajaran, masih membacakan kontrak kuliah. Lah iya, ini kuliah pertama di semester genap tahun pertamaku di fakultas.

Dengan ter-engos-engos napas aku meminta izin masuk kelas, dan alhamdulillah diizinkan. Seperti burung elang yang mencari mangsa. Mataku dengan tajam mencari kursi kosong. Yap! Aku dapat. Lumayanlah di baris ke tiga, masih terlihat jelas sorotan slide dari proyektor di depan. Di sampingku ada wajah baru. Siapa dia? Seperti biasa aku selalu ‘sksd’ alias sok kenal sok dekat dengan orang baru. Setelah ku telusuri dengan mewawancara, kini ku dapat juga datanya. Beliau mahasiswa kimia angkatan 46 yang mengambil supporting cours kimia kayu. Namanya cantik, Ima Rahmawati. Kesan pertamaku mengenal beliau sih bagus. Semoga dapat terajut jalinan ukhuwah di antara kami, seperti ikatan lignin pada selulosa dengan topangan hemiselulosa di dalam sel kayu.

Kini ku bungkam. Berusaha tidak mengganggu orang di sekitarku dan fokus terhadap pembelajaran, Manahan kantuk yang terkadang datang tak diundang. Asyik juga ternyata matkul yang satu ini. Benar-benar menyenangkan. Membuka wawasan tentang pengetahuan baru.

Biomassa, inspirasiku pagi ini. Energi baru yang satu ini ternyata dapat menghasilkan 200 kali pasokan konsumsi minyak bumi di dunia saat ini jika 1% saja potensinya dikonversi menjadi energi. Bagaimana jika yang dikonversinya total 100%? Wow, bisa dibayangkan! Selain potensinya yang besar, energi alternatif yang satu ini juga bersifat renewable. Sehingga, kita tidak perlu khawatir kehabisan bahan baku. Tinggal bagaimana kitanya saja dalam mengelola. Mampukah untuk menjaga bahan bakunya untuk tetap ada? Memang perlu kesadaran, yang justru kesadaran inilah yang sulit dibangkitkan dalam diri seseorang. Tapi, aku pastikan “itu bukan aku!”.

Selamat datang ilmuan baru

Selamat datang inovator dunia

Selamat datang MUNIRA

Selamat berjuang mengelola pemanfaatan sumber daya alam lestari dengan ILMU dan IMAN : )

Satu Hari Bersama-mu di Kota Kembang

Mulai: Cianjur, 28 Jan 2013

Gawat! Bisa-bisa aku tlat nih. Haduuuuh segera ku bergegas berharap waktu berputar lambat. Hemm tapi itu mustahil. Yasudahah terima saja. Akhirnya tanpa sarapan, hanya berbekal biskuit sisa dari Bogor dan air mineral yang nasibnya juga sama dengan biskuit, aku pergi sekitar jam setengah delapan diiringi restu orang tua menuju kota kembang, Bandung.

Nita, temanku sudah menunggu dari tadi di pertigaan Cikidang. Wah, kasian dia gara-gara aku harus menunggu setia hanya ditemani berpuluh kendaraan yang lalu lalang sedari tadi. Maaf yaaa sahabatku sayang, hehe. Kami putuskan naik bus biru ber-AC. Kami menghindari kemungkinan asap rokok. Berangkat jam delapan. Sorot mentari menerobos beningnya kaca bus. Sebagian orang memilih menutup arus cahaya itu dengan menutupkan gorden dan nyenyak dengan tidurnya. Tapi aku tidak, aku justru senang dengan cahaya semangat itu, matahari di pagi hari, heemmm indahnya.

“Tahu, lantak, sukun, kacang”. Berbagai tawaran makanan dari pedagang saat pemberhentian bus membuat sebagian orang terpengaruh. Begitupun dengan perutku ini yang sedari tadi belum cukup terisi, hanya lima potong biskuit rasanya masih kurang untuk memenuhi energi dalam beraktivitas hari ini. Sehingga kuputuskan merogoh kocek Rp 2.000 untuk membeli tahu. Lumayanlah buat mengganjal kelaparan ini (sedih banget, haha).

Sekitar dua jam perjalanan kami habiskan dari Cianjur menuju terminal Leuwi Panjang, Bandung. Selanjutnya kami berburu damri menuju Dago. Mobil reot yang menjadi idola. Jika dites kelayakan, aku yakin bus mini ini akan masuk dalam golongan tidak layak. Ya, tapi karena harganya yang merakyat, banyak juga ternyata peminatnya, sampai-sampai penuh dengan orang-orang yang rela berdiri berdesak-desakan. Peminatnya termasuk aku dan temanku ini yang lagi ngirit-ngirit, maklum bulan depan mesti bayar SPP (hehe, curhat). Tepat di pojok paling belakang dekat pintu keluar kami duduk. Gak mau ngebayangin kalau nanti damri ini ngerem ngedadak, bisa jadi kami tersungkur dan terlempar keluar. Wih, serem. Untungnya bapak sopir menjalankan dengan lembut penuh kehati-hatian. Sehingga kami nyaman-nyaman saja duduk manis di pojokan ini.

“Hayoh yeuh Dago, ITB”. Bapak kondektur menyuru para penumpang yang mau turun di daerah Dago atau ITB. Kami turun di pertigaan itu. Menuju kampus ITB hanya perlu berjalan beberapa meter saja. Sebagai orang yang belum tau letak ruangan di kampus teknik terbaik di Indonesia ini, maka kami bertanya pada satpam agar tidak tersesat. “Pak, punteun kalau aula timur di sebelah mana ya?”, tanyaku campur sari dengan bahasa Sunda. “Oh, itu neng yang ada mobil parkir tuh”, sambil nunjuk ke mobil yang diparkir di ujung kiri pandanganku. “Oh iya Pak, hatur nuhun, Pak”, ucapku sebagai tanda terimakasih dan langsung menuju ke aula timur.

Aula timur ITB ternyata terletak dekat pintu masuk yang di sebrang jalan pintu masuk itu adalah Masjid Salman. Masjid dengan arsitektur luar biasa memukau, lantai berkayu, sehingga menyesuaikan dengan suhu di luar. Walaupun di luar cuaca panas, di dalam masjid terasa tetap sejuk. Kebetulan karena peserta Japan Educational Seminar membludak, jadi dibagi menjadi tiga kloter, dan kami mendapat kloter kedua. Sehingga bisa jalan-jalan dulu. Kemudian aku mengajak Nita untuk ke masjid Salman dulu, mumpung masih sempat untuk sholat dhuha. Wow, atmosfernya langsung berubah. Kayak pesantren. Banyak orang-orang yang lagi kumpul-kumpul juga, sepertinya sedang rapat atau sejenisnya. Terlihat wajah-wajah aktivis bertebaran di sana. Berbagai sudut masjid maupun halaman masjid penuh dengan lingkaran-lingkaran orang-orang yang penuh semangat. Jadi rindu teman-teman di kampus, rasanya ingin segera berakhir saja liburan ini. Rindu kumpul-kumpul dengan teman-teman seperjuangan. Teriakan jargon, kabar-kabari nge-RUJAK, curhat-curhat gak jelas tapi membuat lebih dekat, dan berbagai aktivitas yang terkadang trlihat tak penting justru hal itu yang membuat kekompakan semakin kuat. Semoga hati-hati kita selalu terikat dalam lingkaran ukhuwah ya sahabat.

Sambil menunggu kami manfaatkan waktu untuk sedikit menjelajah ITB. Keluar dari masjid Salman, kami menuju taman di samping masjid, entah apa namanya. Tamannya bagus, sayang sedikit kurang terawat kebersihannya. Namun, iklimnya bagus, nyaman, karena banyak pohon-pohon. Kami lanjutkan perlajanan ke fakultas Seni Rupa dan Desain. Karya luar biasa, dari sebongkah batu bisa disulap menjadi patung-patung unik. Tak sembarangan ilmu untuk dapat membuatnya.

Default Co. LtdDefault Co. Ltd

Nampaknya kloter dua sudah boleh masuk, kami mencoba ikut dalam antrian berdesak-desakan. Akhirnya, tiba juga giliran kami untuk masuk. Tak diduga, di dalam kam bertemu teman ku yang dari IPB, Nopi dan Fitri. Ternyata mereka juga pemburu yang haus akan ilmu.

Gaduh, beratus orang berkumpul dalam ruangan aula bercakap, saling melempar kata guna mendapat dan memberi informasi untuk masa depan yang lebih baik. Bahasa yang tak ku mengertipun bersahutan. Pantaslah, ini seminar dari program kuliah yang menggunakan bahasa Inggris di Jepang. Lucu saja melihat orang-orang kulit putih bermata sipit itu berbicara menggunakan Bahasa Inggris. Masih terdengar ‘kagok’ hehe. Ada 13 universitas top dari Jepang yang memberikan informasi secara langsung kepada kami di acara ini, diantaranya dari universitas: Tohoku, Tsukuba, Tokyo, Nagoya, Kyoto, Osaka, Kyushu, Keio, Sophia, Meiji, Waseda, Doshisha, Ritsumeikan. Setiap universitas tersebut memberikan pelayanan terbaiknya kepada kami untuk memberikan informasi seputar kampus, kuliah, beasiswa, bahkan kehidupan di Negeri Sakura itu. Aula itu ditata sedemikian rupa dengan stand-stand dan dua ruangan untuk seminar giliran dari tiap universitas tersebut, tak ketinggalan ada mushola di dekat pintu alternative keluarnya. Baguslah, sesibuk apapun jangan lupakan sholat.

Waktu tak terasa mengalir tanpa permisi. Kumandang adzan dzuhur segera menggaung. Terdengar dari suatu rumah peradaban, Masjid Salman. Maka, langkah kami pun terhenti dan segera menyudahi perburuan mencari informasi. Kami lantas menuju Masjid Salman. Walaupun di dalam ada mushola, aku memilih Masjid Salman, lebih nyaman di sana dan biar sekalian pulang. Sempat berfoto dulu dengan seorang Sensei dari universitas Tsukuba, hehe sok narsis gitu. Semoga dua tahun lagi saya bisa bertemu bapak di Tsukuba, amin y

ra. Tunggu aku Tsukuba, tunggu aku akan membawa segudang wadah untuk menampung ilmu darimu! Atau Kyoto dengan lingkungan yang begitu memikat minatku sejak aku pertama kenal denganmu. Dimanapun, yang pasti Japan wait me! I will coming 🙂

Default Co. Ltd

Keluarlah kami untuk memenuhi panggilan cinta dari ALLAH, melaksanakan sholat dzuhur. Ruang masjid yang waktu dhuha tidak begitu terisi, sekarang berkebalikan, penuh dengan orang yang hendak menunaikan kewajiban atau memang merindu panggilan-NYA. Atmosfer sejuk itu kembali ku rasa. Lantai kayunya memberi sensasi sejuk di tengah panasnya suhu bumi. Ku tunaikan sholat empat raka’at berjamaah. Disusul sholat sunnah ba’da lalu disempurnakan dengan membaca Kalamullah. Benar-benar nikmat ku rasa.

Aduh, panggilan dalam menyapa, kok sakit banget ya perutku? Hoalah baru sadar belum makan dari tadi pagi. Tak mungkin ku dzolimi terlalu lama jasadku ini. Maka, aku memutuskan mencari tempat makan. Setelah berdiskusi dengan sohibku mau makan apa, munculah suatu keputusan untuk makan soto. Dua porsi ku pesan. Sementara menunggu pesanan diantar, aku mendatangi tukang buku di pinggir jalan gang masjid. Huaaaa ada buku yang ku inginkan, buku yang menceritakan kebudayaan dan kekayaan Riau! Tapi sayang, aku tak pandai menawar. Harga kurang bisa ditekan. Hingga akhirnya tak jadi ku beli karena ‘kantong’ tidak mencukupi.

Siang ini menunya soto ayam with jus mangga. Cukup mengenyangkan dengan harga yang standar. Memulihkan semangat dan pastinya membuat lambungku menari riang karena ada yang bisa ia dapatkan setelah seharian menunggu penuh harap. Sekarang aku tak khawatir melanjutkan perjalanan, menemani sahabatku ini mencapai rasa penasarannya, menonton film Habibie dan Ainun. Bandung Indah Plaza atau yang terkenal dengan BIP menjadi tujuan kami. Lantai tiga tepatnya tempat kami nonton, di Cinema XXI. Mencari jadwal yang pas. Akhirnya ditemukan jadwal yang tidak melewatkan waktu sholat. Hanya saja kami harus sabar menunggu sekitar satu jam lebih. Tak masalah. Kami gunakan waktu itu untuk bernostalgia tahun 2010 saat pertama kali aku menginjakkan kaki di Plaza ini dengan orang yang sama. Ya, saat itu kami masih kelas XI SMA. Kami mencoba mengadu nasib ke Bandung mencari sponsor untuk sebuah kegiatan besar, Planet SMANDA. Kegiatan tahunan icon SMA kami, milad sekolah kami, SMA Negeri 2 Cianjur. Saat itu kami bermaksud pulang naik kereta api, dan seperti sekarang, kami harus menunggu. Menunggu jadwal keberangkatan di sore hari. Maka, kami putuskan untuk jalan-jalan dan mengenal BIP. Sebuah kalung bergantungan Hello Kitty (benda kesukaanku) menjadi tanda perjalanan pertamaku di BIP.

Adzan ashar berkumandang, aku cari-cari mushola di dalam bioskop itu. Astaghfirullah, di ruangan yang semegah itu tidak ada mushola? Macam mana pula ini. Parah! Akhirnya, ku temukan di sudut mall terkenal di Bandung sebuah moshola. Lumayanlah, tidak begitu mengkhawatirkan kondisinya. Cukup rapi, tempat ikhwan akhwat berhijab, air wudhunya pun lancar. Barulah setelah sholat ashar kami masuk ke ruangan gelap dengan kursi empuk (nyaman buat tidur, hehe) dan layar besar di depan penonton. Oalah ini toh yang dinamakan bioskop. Maklum ini adalah yang pertama bagiku, dan mungkin menjadi yang terakhir juga.

Cukup dengan film Habibie dan Ainun yang menginspirasi untuk berbakti pada negeri, lantas kami langsung pulang karena hari mulai gelap. Tapi sayang, di film itu tidak ada ‘sensor’. Sehingga beberapa kali aku harus menundukkan pandangan untuk menghindari gambar yang tak seharusnya dipublish di muka umum. Sebelum benar-benar menuruni escalator untuk pulang, aku sempatkan kembali ke ruangan di pojok mall tadi untuk melaksanakan sholat ashar. Sempat termenung sejenak. Akankah mushola ini ditempatkan di tempat yang lebih baik, layaknya took-toko atau café-café yang berjejer megah di Plaza itu? Semoga suatu saat ia ditempatkan di paling atas dan paling megah. Berharap.

Naik angkot dua kali menuju terminal awal, Leuwi Panjang. Kemudian naik bus. Gak dapet bus yang tadi pagi, akhirnya harus merogoh kocek agak mahal untuk ongkos bus AC kali ini. Aku memutuskan untuk menginap di rumah Nita karena malam sudah larut saat itu. Menuju rumah Nita harus menggunakan ojeg berbayar lima ribu. Tak mengapalah, terpaksa karena darurat. Padahal aku anti banget ojeg. Aku siasati saja dengan menggunakan tas sebagai penghalang alias hijab dudukku. Amanlah lumayan.

Subhanallah, baik banget keluarganya. Jadi malu aku bertamu. Rasanya gak mau lagi, serasa sangat merepotkan. Datang-datang langsung disuguhi makan dan segelas air susu pengantar tidur. Nikmat, sudah diprediksi tidurku akan lelap. Memang, jika sebelum tidur minum susu, aku selalu saja terlelap. Karena belum sholat ashar, maka setelah makan aku melaksanakan sholat dan menambah lembaran tilawah.

Subuh-subuh aku sudah siap untuk pulang. Tak tega melihat Nita yang tertidur pulas, maka aku bergerak diam-diam agar tidak mengganggu. Aku kemudian pamit ke orang tuanya. Hoalah ternyata dia mendengar maksud kepulanganku, dan terbangun. Lagi-lagi aku dibuat gak enak hati. Ternyata ibu Nita telah menyiapkan segelas susu coklat kesukaanku dengan kue hijau bertabur kelapa yang juga kebetulan kue kesukaanku. Hemm nikmat, alhamdulillah. Aku sampai di rumah lebih cepat dari yang ku kira. Karena Nita sudi mengantarku dengan motor barunya. Terimakasih sob 🙂

Sekarang aku sudah kembali di rumah. Menata ulang mimpi-mimpi yang sempat ku coretkan dulu. Mimpi untuk pergi ke negeri Sakura, mengambil ilmu di sana untuk dibaktikan di negeri tercinta, Indonesia. Insyaallah 2015 target! ALLAH Rahman Rahim 🙂

Selesai: Bogor, 1 Feb 2013