Buku Catatan Kupu-Kupu

5 september 2013

Semua orang sibuk dengan aktivitasnya. Orang yang satu berbicara dengan orang yang lain, begitupun orang kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya. Menukar argumen yang kadang tak ada sinergis diantaranya. Kata-kata hanya terhambur tanpa makna. Keluar tanpa arti nyata.

Berbeda dengan pemandangan di sudut Barat. Mereka sibuk membidik, melihat sudut yang tertuju oleh jarum kompas. Sementara sisanya hanya duduk bercengkrama di bawah pohon Gmelina arborea dan pohon-pohon tetangganya, cukup meneduhkan di saat panas terik menyengat tanpa ampun ini.

Kirei, gadis berkerudung hijau lumut itu tengah asyik dengan pena dan buku catatan bersampul motif kupu-kupu yang setia menemaninya setiap saat. Satu dua kata, kalimat, paragraf, sampai lembaran-lembaran buku hariannya kini terisi dengan coretan-coretan pujangga. Entah saraf seperti apa yang merangkai otaknya sehingga begitu mudah rasanya setiap kata dirangkai dengan kata yang lain membentuk karangan yang mengalir indah. Hebatnya, tak perlu waktu lama untuk menyelesaikan semua itu. Kirei mengamati gerak-gerik teman-temannya, dengan segala kesibukan yang ada. Lalu, ia menyihir pemandangan tersebut dalam buku kecil yang selalu setia menemani.

“Kirei!”. Panggil kakak asisten. Ia langsung menutup buku catatannya dan menyimpannya di dekat pohon tempat ia meneduh tadi saat menunggu giliran praktikum, mengukur dimensi pohon. Segera ia menghampiri sumber suara yang memanggilnya tadi.

Hujan turun tanpa diduga memburu setiap orang yang di luar naungan atap. Bergegas semua orang mencari tempat berteduh. Kelompok praktikum yang sedari tadi melakukan pengukuran pohon berpindah tempat ke ruang laboratorium atas titah kakak-kakak asprak. Menyelamatkan diri dari kejaran hujan yang kian deras kini.

***

            “Mana ya? Seharusnya ada di sini”, gerutu Kirei dalam hati. Tangannya sibuk mencari di tas ransel hijau diiringi mata yang jeli melihat setiap sela-sela terdalam tasnya itu.

“Hai Kirei! Mencari sesuatu?”, tiba-tiba Yasha muncul dari samping kanannya.

“Hmm, iya Yash”, jawabnya singkat masih penas.aran mencari bukunya yang hilang.

“Buku catatan bermotif kupu-kupu?”, tanya Yasha dengan lembut.

“Hah, iya iya!”, Kirei tampak kaget, namun antusias.

“Ini”, sambil menyodorkan buku ke pemiliknya. “Aku menemukannya pekan kemarin sewaktu praktikum di Arboretum. Maaf, aku terpaksa membacanya karena ingin mengetahui siapa pemiliknya. Tak ada nama di cover. Baru kutemukan namamu di bagian tengah saat kau menuliskan pengaduanmu kepada Tuhan tentang penyakit yang menemanimu sampai saat ini”.

Kirei terlihat sangat kaget dengan ucapan Yasha. Speechless! Tak satupun kata terucap sebagai tanggapan. Hening. Suasana kini berubah. Hanya desiran angin yang terdengar lembut menyampaikan bahwa sebentar lagi hujan mungkin akan turun. Panorama langit pun ikut menyemangati dengan kumpulan awan gelapnya. Akhirnya, Yasha kembali angkat bicara, tak tahan dengan semua kebisuan itu. “Maaf, Rei, maaf banget. Aku tak bermaksud membaca apa yang selama ini kamu rahasiakan. Niatku hanya ingin tahu pemilik buku ini agar aku dapat mengembalikannya. Hanya itu. Tapi, tak apa apabila kamu tak memaafkan. Aku terima konsekuensi jika kamu harus marah padaku”. Wajah penyesalan dan rasa bersalah itu terasa tulus.

Kirei tetap tidak menjawab. Matanya sembab. Secercah air  menitik di sudut matanya.

(bersambung)

Iklan

5 respons untuk ‘Buku Catatan Kupu-Kupu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s