Jerit Hati Bunda

“Kirei Qolby”. Hening. Setiap mata berlarian mencari sosok yang disebut. Dosen Ekologi Hutan mengulang kembali menyebut nama itu, mengabsen. “Kirei Qolby, hadir?”

“Kirei sakit sudah 3 hari, Pak”. Seorang gadis berkacamata cokelat angkat bicara.

***

                “Fa, tunggu!”

“Eh Yasha, ada apa?”

Setengah berlari menghampiri, “Kirei sakit lagi? Dimana dia? Di rumah sakit mana?” Yasha benar-benar ingin mengetahui.

“Kemarin aku ke rumahnya, bundanya bilang penyakit Kirei semakin menjadi. Kirei sekarang dirawat di RS. Afiat ruang Kenanga 1. Aku dan Eka mau jenguk dia sekarang, kamu mau ikut, Yash?”.

“Benarkah? Iya aku ikut!”. Tanpa pikir panjang Yasha lengsung meng-iya-kan.

Awan tebal masih menghalangi sorotan sinar Sang Surya, seperti hari-hari sebelumnya di bulan September ini. Tak ada panas terik di tengah siang kini. Syifa, Eka, dan Yasha mulai jalan menuju RS. Afiat. Syifa dan Eka memang sahabat yang selalu setia menyemangati Kirei, bahkan di saat kondisinya seburuk sekarang.

Sampai di depan ruang inap, Syifa, Eka, dan Yasha disambut oleh bunda –begitu mereka memanggil ibunya Kirei, karena terlampau dekat seperti ibu sendiri–, namun sentuhannya kini dingin, tak sehangat biasanya.

“Assalamu’alaikum, bunda”, ketiga remaja itu mengucapkan salam sambil bergantian mencium tangan.

Terlihat sedikit memaksakan diri untuk tersenyum, bunda berusaha menyambut lembut. Menyembunyikan kesedihan yang mengguncang jiwanya kini. “Wa’alaikumusalam warohmatullah, nak”.

“Bagaimana kondisi Kirei, Bun?”, tanya Eka dengan hati-hati.

“Hmm, semakin memburuk, nak. Kirei belum bisa dijenguk dulu. Kita hanya bisa melihat dari balik kaca pintu untuk sekarang ini. Tidak keberatan kan Dek Syifa, Dek Eka, dan Dek….?”

“Yasha, bunda.”

“Ya, Dek Yasha.”

“Oh, tidak apa-apa, bun”. Jawab Eka mewakili dua orang temannya yang lain.

“Bunda, apa yang terjadi dengan Kirei?”, rasa penasaran Yasha tak tertahan.

Bunda mengajak ketiga remaja itu duduk di kursi samping ruang inap Kirei, Kenanga 1.

***

                “Bu, mohon maaf saya harus menyampaikan ini. Kondisi Kirei semakin memburuk. Menurut catatan atas pemeriksaan kami, ia hanya punya waktu sebentar lagi, sekitar 2 bulan untuk mampu bertahan jika memang masih belum ada yang bisa dan cocok untuk mendonorkan organ hati”. Dokter langganan Kirei menuturkan dengan hati-hati, agar maksud sampai namun kondisi tetap jerhin. Itu kata-kata terakhir yang sangat mengejutkan Bunda kemarin malam.

Malam itupun seperti kiamat bagi Bunda. Anak semata wayangnya divonis oleh dokter. Untungnya Bunda masih punya iman di hati. Bunda yakin urusan maut telah ALLAH tuliskan bahkan saat manusia belum kenal dunia. Hanya itu yang kini menguatkan Bunda.

Ya, wanita berperangai lembut ini memang sangat tegar. Bahkan saat 16 tahun yang lalu, ketika Bunda dan Kirei kecil ditinggal pergi begitu saja oleh ayahnya. Rumah tangganya memang pecah, tapi kekuatan hati Bunda mampu menopang kehancuran hatinya saat itu. Kekuatan Bunda hanya satu, Kirei. Namun, apa jadinya jika sumber kekuatannya itu kini seakan mulai menjauh karena penyakit yang kian hari kian menggerogoti, mematikan.

***

                “Bunda, tak usah khawatir. Yasha yakin Kirei mampu melalui ujian ini. Bukannya ALLAH tak akan membebani di luar kemampuan hamba-NYA?”. Yasha mencoba memberi topangan agar Bunda semakin tegar.

“Iya, nak. Bunda juga yakin. Bunda hanya sedih melihat Kirei yang ceria kini terkapar tak berdaya dengan segala macam kabel medis yang tertempel di tubuhnya. Bahkan untuk tersenyum pun tak bisa. Bunda rindu, rindu senyuman manisnya, Bunda rindu sapaannya yang setiap pagi menjadi suplemen penyemangat Bunda, Bunda rindu ucapan selamat malamnya yang selalu mendoakan Bunda kala akan tidur, Bunda rindu Kirei satu-satunya buah hati Bunda”, tangan Bunda dengan segera mengusap air mata yang keluar dari ujung pelupuk matanya. Pada kondisi seperti ini Bunda masih mencoba memberikan kesan kuat. Padahal dunia tahu betapa rapuhnya hati seorang ibu yang tahu kondisi anaknya berada dalam jangka waktu hidup tak lama. Jika harus memilih, sepertinya Bunda lebih rela menjadi orang yang terkapar di tempat tidur serba putih itu, dengan tempelan kabel-kabel, dengan inpusan yang mengaliri cairan tubuh setiap detik, dengan oksigen yang terhubung ke hidung dan mulut. Namun, sang takdir berkata lain.

Terlihat dari sudut kanan seorang Bapak berpakaian putih setengah berlari. Menoleh pada arah berlawanan, pintu ruangan Kenanga 1 terbuka dan seorang suster datang menghampiri empat orang insan yang dirudung duka di kursi panjang dua meter itu. Suster tersebut menghampiri Bunda. Entah apa yang terjadi. Dokter semakin mendekat ruangan tempat Kirei dirawat. Kini, Bunda, dokter, dan suster memasuki ruangan serba putih bernama Kenanga 1. Kondisi Kirei semakin memburuk. Bunda kembali menguatkan hati. Menjerit doa dalam qolbu pada ALLAH.

Sementara Yasha, Syifa, dan Eka masih tercengang, bertanya-tanya tanpa jawaban.

(bersambung)

Iklan

2 respons untuk ‘Jerit Hati Bunda

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s