Ku Ingin Kau Menggapai Mimpimu

Pesantren. Wow, tempat yang tak pernah terbayang olehku sampai detik ini. Iya sih aku suka hal-hal yang berbau agama. Tapi, bukan tempat seperti ini yang ku mau, setidaknya aku berharap dapat melanjutkan kuliah di Universitas Islam terkenal di negeri ini, syukur-syukur bisa kayak guru PAI-ku yang lulusan Universitas Islam terkenal seantero dunia, Al-Azhar.
Tidak! Ini bukan dunia angan-angan. Ini dunia nyata. Aku tersadar, teringat diskusi dengan orang tua kemarin malam, setelah siangnya aku melakukan acara perpisahan sekolah. Mimpiku memang terlampau melambung jika dibandingkan dengan keadaan keluarga yang pas-pasan, sangat pas-pasan, bahkan bisa makan tiga kali sehari pun sudah sangat bersyukur. Bapak hanya seorang buruh harian lepas yang gajinya mengikuti kuantitas konsumen di matrial bosnya. Ibu hanya seorang ibu rumah tangga, yang bekerja sampingan dengan berjualan nasi dan masakan alakadarnya. Dua tahun lalu aku sempat ikut lomba bela diri, dan hadiahnya lumayan bisa bantu ibu buat buka warung kecil-kecilan itu. Gaji dari mereka berdua benar-benar minim. Untungnya adikku dapat beasiswa untuk melanjutkan sekolah SMA-nya. Gak kayak aku sih, dia setingkat lebih pintar dariku. Adikku yang bungsu, untungnya dia masih SD, sehingga sekolahnya gratis karena program BOS. Jadi, cuman aku yang butuh pengeluaran lebih gede dibanding kedua adikku itu. Namun, segede-gedenya uang jajanku, gak akan sanggup buat beli bakso di sekolah. Makanya, aku bersyukur punya banyak teman, walaupun uang minim, perut tetap bisa kenyang.
Ok, balik ke moment diskusiku tadi malam dengan bapak dan ibu, yang lebih akrab aku panggil ‘abah’ dan ‘emak’. Terang-terangan abah mengutarakan ketidaksanggupannya untuk menanggung biaya kuliahku. Bukan beliau tak tahu bagaimana tingginya keinginanku untuk kuliah, tapi karena memang kondisi ekonomi yang mengguratkan episode tragis dalam hidupku ini. Mungkin kalian berpikir, bagaimana dengan beasiswa? Yap, tepat! Aku bukan orang yang berprestasi di sekolah, mana ada beasiswa yang mau menyalurkan bantuannya untuk anak yang biasa-biasa saja sepertiku. Akhirnya, dengan berbagai pertimbangan, kami putuskan masa depanku berlanjut di bangku pesantren. Perfect! Apa kata teman-temanku nanti? Padahal kan dulu aku ‘ogah’ banget dengan hal-hal berbau pesantren. Kuno. Tapi, baiklah kini aku harus makan kutukanku sendiri.
Langit semakin mendung. Aku masih termenung di bawah pohon beringin tua dengan segudang lamunanku. Aku tidak terima dengan semua keputusan itu. Mau disimpan dimana muka ku jika bertemu dengan teman-teman dan mereka tahu. Seorang Takin yang sangat tinggi mimpinya, ternyata hanya bisa berangan-angan saja. Tak dapat mewujudkannya. Hufth, hati kecilku kembali menasehati. Seandainya aku terus memaksakan diri, lantas bagaimana dengan nasib adik-adikku. Apakah aku tega mengorbankan impian mereka? Tidak tidak! Aku tidak boleh egois. Lamunan ku terus berdialog. Hingga tak sadar hujanpun turun. Aku terjebak.
“Aa (aa adalah panggilan kakak laki-laki di suku Sunda), ayo pulang!”, ternyata adikku sudah berada di sampingku dengan membawa dua payung.
“Iya Ra ayo. Terimakasih ya Rara udah jemput aa”.
Setibanya di rumah, kami langsung makan bersama. Inilah suasana yang sangat membuatku bersyukur. Karena tak semua orang dapat berkumpul bersama seperi ini. Walaupun bukan daging ayam yang terhidang, walaupun hanya dua butir telur ayam yang dicampur dengan sedikit terigu agar menjadi banyak dan cukup untuk makan kami berlima. Namun, di sinilah letak nikmatnya, berbagi dalam keterbatasan yang ada. Di sela-sela makan malam ini adik bungsuku berceloteh.
“Tadi teman-teman kelas pada jenguk Ayas, dia sudah 3 hari tidak masuk sekolah. Kasihan Ayas, badannya kurus, mukanya pucat. Kalau sudah besar, Ifa mau jadi dokter biar bisa bantu teman-teman Ifa yang sakit”.
Aamiin. Semuanya mengaminkan.
“Kalau Teteh (teteh adalah panggilan kakak perempuan di suku Sunda), mau jadi apa sudah besar nanti?”, Ifa dengan polos bertanya pada kakak perempuannya.
“Kalau teteh mau jadi pengusaha, pengusaha kayu. Biar abah gak harus kerja di tempat orang lain, tapi punya perusahaan sendiri. Jadi, abah gak perlu capek-capek lagi berangkat subuh pulang sore.”
Masyaallah, impian adik-adikku tak boleh terombang-ambing sepertiku. Mereka harus bisa mendapatkannya. Nampaknya, masa depan adik-adikku dan semedi ku dengan berdialog pada diri sendiri berujung keputusan setuju untuk menuju pesantren. Sesekali abah mengintip dari balik pintu, bahagia karena aku mau menuruti kemauannya. Emak yang sedari tadi membantuku merapikan baju, tak hentinya berbicara menasehati. Khawatir aku pergi tanpa keihklasan. Ingin ku sampaikan pada emak, anakmu ini insyaallah sudah ikhlas.
Nampaknya dunia pesantren mulai membuatku jatuh cinta. Kebersamaan dengan teman-teman yang se-visi, haus akan ilmu, terutama ilmu agama. Lingkungan yang kondusif. Mengajariku bagaimana menghargai waktu, menjalankan hal wajib tanpa telat, mengamalkan hal yang sunnah dengan lebih banyak, menjauhi hal yang makruh, membuat hati-hati terhadap hal yang subhat, semuanya di sini ku dapatkan. Arti kerja keras, arti kasih sayang, arti saling berbagi. Tiga tahun sudah aku ditempa di sini. Sesekali aku pulang ke rumah, melepas kerinduan dan memastikan keluarga kecilku tercinta baik-baik saja.
Setelah aku sholat subuh dari masjid samping rumah, aku hendak ke kamar mengambil Al-Qur’an untuk mengaji. Namun, ku urungkan. Dari celah pintu ku lihat sesosok gadis yang sedang berdoa penuh harap, masih lengkap dengan mukenanya di atas sajadah. Hatiku teriris mendengar isak tangis adik tercintaku. Aku tidak boleh tinggal diam. Aku tak boleh membiarkan dia menghapus impian-impiannya. Aku harus membantu mewujudkannya. Adikku ingin kuliah. Mimpinya jauh lebih hebat dibanding aku.
“Mak, boleh Takin bicara?”, aku memulai percakapan di sore itu, hanya berdua dengan emak.
“Iya Takin, ada apa?”
“Mak, Rara sudah kelas 3 SMA. Apakah dia sudah menentukan pilihannya kelak setelah lulus? Ataukah emak dan abah sudah ada rencana untuknya?”
“Takin, emak dan abah tahu bagaimana keinginannya untuk melanjutkan sekolah tanpa dia memberi tahu kami. Dia anak yang baik dan pintar, Takin. Emak dan abah sangat ingin membantu mewujudkan impiannya. Tapi, apa boleh dikata, abah kerjaannya begitu-begitu saja, emak juga. Padahal kebutuhan hidup sudah lebih meningkat. Mungkin, jika dia tidak berhasil mendapatkan beasiswa, emak dan abah akan membiarkan dia bekerja dulu. Setelah uangnya cukup untuk kuliah, dia bisa ikut kuliah paruh waktu.”
Tidak. Bukan masa depan seperti itu yang adikku mau. Aku harus berbuat sesuatu. Esoknya ku sampaikan pada emak dan abah bahwa aku ingin berhenti pesantren. Aku bilang waktu tiga tahun sudah cukup sebagai bekalku untuk dapat membaca kitab kuning. Selebihnya aku bisa belajar sendiri. Sebenarnya ini juga agar pengeluaran keluarga agak berkurang, karena tidak lagi membayar uang iuran makan di pesantren, sehingga emak bisa sedikit menabung. Lantas sekarang, aku ke sana ke mari, menghubungi teman-teman untuk mencari pekerjaan.
“Apa? Hanya ijazah SMA! Lihatlah satpam saja sudah ada yang ijazah S1. Beraninya kamu ini melamar kerja di kota besar seperti ini hanya dengan modal ijazah SMA”. Tak sedikit penolakan dan hinaan yang ku dapat untuk memperjuangkan pekerjaan yang hanya bermodal ijazah SMA ini. Aku tidak boleh menyerah, untuk adik-adikku, untuk keluargaku. Sampai akhirnya aku bertemu seorang teman SMA-ku dulu. Dia sudah lulus D3 dan sekarang diterima kerja di sebuah kantor swasta. Nampaknya ia lebih merasa iba dibanding peduli padaku. Tapi tak apalah, apapun dia memandangku, yang penting aku mendapat kerja. Setidaknya aku harus mempunyai uang untuk biaya masuk kuliah adikku, Rara. Sekarang aku sudah mendapat kerja. Memang susah mencari kehidupan yang halal di kota besar ini. Status SMA hanya bisa sampai cleaning service.

Aa, mohon doa ya, pekan depan Rara mau UN.
Oh iya a, Rara ikut daftar beasiswa juga, doakan semoga lulus ya, a..
Rara sayang aa, semoga aa selalu dalam lindungan Allah.
Jangan telat sholat ya a, jangan lupa makan!

Sebuah pesan melewati kabel satelit dan sampai juga di handphone jadulku ini. Aku semakin semangat karena adikku jauh lebih semangat dariku. Dalam hati ku menjawab, aa juga sayang kamu Ra, emak, abah, dan Ifa, semoga kalian juga selalu dalam lindungan Allah, semoga Allah memudahkan Rara dalam ujian dan mendapatkan apa yang Rara cita-citakan.
(bersambung)
Bogor, 5 Nov 2013/ 21.43 WIB

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s