FITRAH CINTA

“Tuhan memiliki seratus Rahmah (Cinta dan Kasih Sayang). Satu di antaranya diturunkan ke dunia ini. Dengan satu Rahmah itulah umat manusia (secara fitrah) saling berbagi cinta dan kasih sayang.”
(HR. Ahmad)

Tiga hari terakhir ini matahari nampaknya tidak terlalu berani untuk menampakan ‘keperkasaannya’. Ia lebih memilih besembunyi di antara tumpukan mega yang berjejer di langit. Sehingga sinarnya yang menyengat tak sempat sampai ke permukaan bumi.
Semilir angin bertiup lembut di antara pepohonan, menyebabkan daun-daun menguning berguguran mengisi halaman di depan mushola. Nampak sebuah kursi panjang tertata di bawah sebuah pohon rindang di depan mushola SMA Al-Muttaqin. Warnanya yang memudar seakan mengisyaratkan bahwa usianya sudah terlalu tua.
Beberapa jam yang lalu, tempat itu sepi. Sekarang, di saat jam pulang sekolah, seperti biasa kursi panjang itu sudah terisi oleh seorang gadis belia kelas XI Bahasa yang biasanya sedang menunggu ketiga sahabatnya.
Gadis itu memiliki wajah yang cantik. Alis tebal dan bulu matanya yang lentik memberi kesan indah karena dipadukan dengan matanya yang bening. Tampak kejujuran yang terpancar darinya. Hidungnya yang mancung, nempak memperindah wajahnya yang berbentuk oval dengan bibir merah saga yang sungguh menarik.
“Dhhaaaarrrrrrrrr … !” Candaan Ita membuat Nayla kaget. Sampai-sampai buku yang sedari tadi dibaca terjatuh ke tanah.
“Astaghfirullah … , kebiasaan jelek deh, suka ngagetin orang!” terlihat raut kekesalan dalam wajah cantik itu.
“Uppss! Iya deh, maaf maaf?! Habis dari tadi kelihatannya seriuuus banget. Emang lagi baca buku apa sih Nay?” ungkap Ita sambil membenarkan tasnya dan duduk di samping Nayla.
“Iya, iya, ana (Arab: saya) maafkan. Awas saja kalau sampai diulangi lagi!” jawab Nayla sambil bercanda. Walau bagaimanapun kejahilan Ita, tetap saja Nayla akan memaafkannya. Sebab Nayla sudah faham betul sikap jelek Ita, yang merupakan ¬first friendship-nya di SMA.
Tampak dari arah utara seorang gadis dengan tas biru sambil membawa beberapa buku paket di tangan kanannya setengah berlari menghampiri mereka berdua. Semilir angin yang sedari tadi bertiup lembut membuat ujung jilbab putihnya menari-nari indah. Tak sampai kurang dari jarak satu meter, bibirnya mengembang sambil mengucapkan salam. “Assalamu’alaikum…”.
“Wa’alaikumussalam…” jawab Ita dan Nayla nyaris bersamaan.
“Ma, maaf ya tadi aku enggak nungguin? Habis tadi aku lihat di kelas kamu lagi ada pelajaran Pak Hasan. Yaa.. curiga telat pulangnya. Eh, ternyata iya. Maaf, ya?” Ita membuka pembicaraan.
“Ya, tak apa, ana ngerti. Ah, lama nunggu ya?” jawab gadis yang akrab dipanggil Ima itu dengan lembut. Ima memang anak yang baik. Selain sikapnya yang lemah-lembut, tutur katanya juga ramah. Tak heran banyak orang yang menyukainya.
“Iya lumayan lama juga sih, nan de monai (Japang: tidak apa-apa)” jawab Nayla sambil mengisyaratkannya untuk duduk di kursi panjang itu.
“O..ya.. kenapa Asti belum juga datang?” lanjut Nayla.
“Tuh kan hampir saja lupa. Tadi ia ngirim sms ke ana. Katanya afwan (Arab: maaf) izin telat. Karena pulang sekolah nanti ada sedikit pembinaan dari wali kelasnya. Tapi kayaknya sebentar lagi juga datang deh!” jawab Ima.
Persis seperti yang dikatakan Ima, tak lama –hanya selang beberapa menit– sosok yang ditunggu akhirnya sampai juga di hadapan mereka. “Assalamu’alaikum sobat. I’m sorry I’m late” sapa Asti. Asti memang menyukai Bahasa Inggris. Sehingga tak jarang menyelipkan kosa kata Bahasa Inggris dalam percakapannya.
Di kursi panjang di bawah pohon rindang depan mushola itu kini telah diduduki oleh empat orang remaja putri yang tergabung dalam ikatan persahabatan sejak kelas X. Mereka akan melaksanakan mentoring. Suatu kegiatan yang di dalamnya berisi topik yang berbau religious yang dituangkan ke dalam bentuk diskusi, sharring, pengkajian dan lain sebagainya. Mentoring ini biasa dilaksanakan setiap satu minggu sekali dan mereka berempat memilih hari Jumat sebagai jadwal mentoringnya.
Drreeett… drreeett… HP Nayla bergetar tanda sms masuk:
Assalamu’alaikum…
Adik2 ‘afwan utk Jumat skarang,
Tteh tdk dpat ngmentor.
c’ade kecelakaan & skarang tteh lg d RS
Mhon doa-nya ya dr klian smua.
“Innalillahi wa inna ilaihi raajiun” ucap Nayla setelah membaca pesan singkat dari pementornya, Teh Eni. Sontak kata-kata dan mimik wajah Nayla memberi kesan astonished bagi sahabatnya. Mereka bertanya-tanya gerangan apakah yang membuat mimik wajah Nayla menjadi kaget. Dengan tenang ia menjelaskan hal tersebut kepada ketiga sahabatnya.
Jadwal yang seharusnya dipakai oleh kegiatan mentoring, kini dialihkan menjadi kunjungan ke RS. Mereka menjenguk anak pementornya yang tadi siang terserepet mobil ketika sedang menyebrang.
***
Pagi ini nampak sedikit berbeda. Ternyata sikap malunya matahari untuk menampakkan diri selama tiga hari kemarin adalah suatu isyarat bahwa di pagi ke sembilan di bulan Februari ini akan turun hujan. Siswa-siswa yang mungkin tidak memakai payung nampak berlarian menyelamatkan diri dari basahnya hujan menuju ke kelasnya masing-masing. Ada juga yang mengalih fungsikan tas menjadi alat pelindung kepalanya. Namun, walau bagaimanapun aktivitas belajar mengajar harus tetap dilaksanakan sebagaimana biasanya. Bahkan titik-titik hujan tidak dapat mengurungkan niat para siswa untuk belajar di sekolah.
“Astaghfirullah…”
Nayla kaget ketika ada mobil sedan nyerepet di sampingnya. Mobil itu melintasi genangan air di jalan yang sudah agak rusak. Sehingga air kotor itu mengenai rok abu yang ia pakai.
“Uuwhh… siapa sih? Gak lihat apa di depan ada genangan air! Gak tahu apa ada orang lagi jalan di pinggir! Tuh kan rok ku jadi kotor gini!”
Kata-kata itu melontar begitu saja dari mulutnya. Kesal. Namun, entah kepada siapa ia tujukan. Karena memang tidak ada orang di sekitarnya.
Sepuluh menit lagi! Aku harus cepat-cepat. Kalau terlambat bisa repot. Batinnya.
SMA Al-Muttaqin adalah salah satu SMA yang terkenal dengan disiplinnya. Setiap pagi jarang sekali terlihat siswa yang terlambat. Paling hanya satu atau dua orang saja. Itupun tidak setiap hari. Kalaupun ada, mereka langsung diberi sanksi. Biasanya berupa sanksi membersihkan halaman sekolah sampai tidak ada satupun sampah yang terlihat.
“Hey! Tunggu!” suara seorang pria, berat namun lembut tertuju ke Nayla. Tangannya ia acungkan sambil menyusul langkah Nayla.
Nayla hanya menoleh –tak menghiraukan– dan kembali meneruskan langkahnya. Yang terpikir dalam benaknya sekarang hanyalah bagaimana caranya agar ia cepat sampai di kelas sebelum guru mata pelajaran Sejarah yang terkenal fussy itu datang mendahuluinya.
Akhirnya berkat kerja kerasnya ia sampai juga di kelas sebelum gurunya datang. Walaupun nampak nada ngos-ngosan. Capek!
***
“Saya cukupkan sampai di sini dulu. Jangan lupa PR-nya harus dikerjakan!” Ibu Neni mengakhiri pembelajaran di kelas XI Bahasa SMA AL-Muttaqin. “Assalamu’alaikum..” lanjutnya.
Ternyata belajar matematika di jam terakhir salama dua jam membuat otak Nayla pusing. Biasanya ia langsung me-refresh-nya dengan membaca ayat-ayat Al-Qur’an. Dan tempat ternyaman baginya yaitu di mushola sekolah, An-Nur Hikmah.
Ayat demi ayat ia baca dengan tartil. Makhroj huruf serta tajwid sedikit-sedikit mulai ia terapkan. Rapi. Jelas. Indah. Satu halaman. Dua halaman. Sampai pada beberapa halaman Al-Qur’an ia baca dengan lantunan yang sedap didengar. Akhirnya kepenatan belajar tadi mulai teratasi. Kini ia merasa lebih baik.
Shodaqallahul’adziim.
Ekhm..! Assalamu’alaikum, mbak” suara sapaan seorang pria jangkung nan tampan mengagetkan Nayla yang sedang memakai sepatu untuk berkesiap pulang.
Ternyata tanpa ia sadari, pria itu sudah memperhatikannya sejak ia masuk ke mushola.
“i.. iya.. wa’alaikumussalam”
“Eh, maaf, kaget ya mbak?”
“Oh, ya, nan de monai” ups keceplosan lagi tuh Nayla bicara Bahasa Jepang. Maklum, ia memang sangat menyukai pelajaran Bahasa Jepang. Tapi, buru-buru ia membenarkan. “Emhh, maksud saya, ya tak apa-apa.”
“Eeu..mbak, yang tadi pagi kena cipratan air di pinggir jalan itu ya?”
“Iya. Kenapa?”
“Maaf ya mbak maaf, tadi sopir saya tidak sengaja, kurang hati-hati.”
“Oh, jadi tadi itu anda?! Emh ya tidak apa-apa kok. Hanya kotor sedikit, tak masalah.”
Sebenarnya Nayla kesal banget. Namun, entah mengapa setiap ada yang meminta maaf, ia pasti memaafkan.
“Terimakasih ya mbak. Oh iya, nama saya Yasha. Inuyasha. Pindahan dari Aceh. Sekarang kelas XII IA 1” Tanpa diminta pemuda itu memperkenalkan diri sambil menyodorkan tangan. Isyarat untuk berjabat tangan.
Nayla menghimpitkan kedua telapak tangannya, mendekatkannya ke dada, menjauhi tangan pemuda itu. Namun, tetap anggun dan sopan. Si pemuda paham dengan prinsip yang ia pegang.
“Maaf. Saya Nayla. Nayla As-Silah. Saya kelas XI Bahasa. Jadi, seharusnya kakak tidak memanggil saya dengan sebutan ‘mbak’.”
“Nama yang indah.”
Seindah orangnya. Lanjutnya dalam hati.
Nayla tampak salah tingkah. Ia melihat jam tangan ungunya. Jarum pendek menunjuk angka 2 dan jarum panjang menunjuk angka 5. Pukul 14.05.
“Arigatou. Eh, maksud saya terimakasih. Kak, maaf saya harus pulang. Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumussalam. Douzo! Mata aimashou (Jepang: Silakan! Sampai jumpa lagi).”
Nayla kaget. Ternyata Yasha juga bisa berbahasa Jepang.
“Kakak, bisa Bahasa Jepang juga? Padahal kan di kelas XII IPA tidak ada pelajaran Bahasa Jepang.” Selidik Nayla.
Yasha tersenyum.
“Iya, lumayan. Waktu SMP saya sempat sekolah di Jepang.”
“O..ya..?! Hebat!” puji Nayla dengan mata yang berbinar. Takjub.
Yasha tersenyum kembali. Tidak ada sedikitpun air muka kesombongan.
“Katanya mau pulang. Kenapa masih berdiam diri?”
“Oh, iya Kak, saya pulang sekarang. Assalamu’alaikum.”
Kini Nayla benar-benar pergi. Sebenarnya ia masih ingin berdialog dengan Yasha. Ia ingin tahu lebih banyak tentang ‘Negeri Samurai’ itu. Tapi, apa boleh buat, waktulah yang mengharuskannya pulang ke rumah.
***
Drreeett… drreettt…
Satu sms masuk ke HP Nayla.
Senyumnya mengembang. Matanya berbinar. Aliran darah serasa lebih cepat mengalir dalam tubuhnya. Hatinya bersemi, berbunga-bunga. Jantungnya berdegup, kencang.
“Hey, kenapa senyum-senyum sendiri? Aneh!” lagi-lagi Ita yang baru selesai wudhu mengagetkannya.
“Eh, eng..enggak!” jawab Nayla terbata-bata. Entah gugup atau kaget. HP yang sedang ia pegang erat di depan dadanya, kini ia masukkan ke dalam tas.
“Ayo kita mulai ngajinya!” Ima menginstruksi.
“Iya, yuk! I must go to course this afternoon.” Timpal Asti seraya mengambil mushaf dari dalam tasnya.
Lantunan ayat-ayat Al-Qur’an terdengar indah. Diawali Ima, Asti, Ita, dan kini sampai pada giliran Nayla.
Baru saja membaca satu ayat, tiba-tiba suara Nayla berubah. Wajahnya tertunduk. Kedua telapak tangannya menopang wajahnya yang tertunduk. Darahnya seakan berkumpul di kepala dan dadanya sesak. Terlihat beberapa butir air terjatuh ke lantai keramik putih yang mereka duduki. Nampaknya ada hal yang sedang bergelut di benaknya. Sedikit demi sedikit terdengar isak tangis. Nayla menangis!
“Nay, ada apa?” tanya ketiga sahabatnya hampir berbarengan. Heran.
Nayla tidak dapat menjawab. Ingin bicara tapi tidak bisa. Ia hanya dapat berdialog dengan batinnya.
Mengapa?
Mengapa hatiku tidak berdebar saat membaca surat dari-Mu Yaa Robb?
Terasa hampa! Seakan tak bermakna!
Apakah benar hatiku sudah ternodai, menghitam?
Apa hanya karena sms itu?
Yang hanya berisi tiga kata!
Apa karena si pengirim adalah pemuda yang pernah bersekolah di Jepang itu, yang baru saja ku kenal?
Yaa Allah… Yaa Tuhan ku…
Jangan Engkau bekukan hatiku!
Jangan Engkau butakan mata hatiku oleh cinta yang fana ini!
Aku hanya ingin cinta yang hakiki.
Cinta yang abadi.
Fitrah cinta tulus-Mu, Yaa Robbi…

(Juara 1 Lomba Cerpen Islami se-Cianjur yang diselenggarakan oleh HAMIMA tahun 2010)

Iklan

5 respons untuk ‘FITRAH CINTA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s