Tidak Meminta Tapi Tidak Menolak

Entah apa yang ada dalam pikirmu. Sering kali kita berbeda pendapat, atau mungkin diri ini terlalu bodoh untuk memahami apa yang kau maksud. Teringat saat itu, kau sakit dan aku panik. Sungguh aku menyeyangimu karena Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Pagi harinya engkau tak terbangun seperti biasa, kau terbaring lemah di kasur. Ku tunggu sampai agak siang, sekitar jam 8 pagi. Namun, kau tak kunjung bangun dari kelelahan malam tadi. Aku berinisiatif membuatkanmu masakan untuk makan pagi. Karena ku tahu kau tak makan sejak tadi malam. Lantas, aku pergi ke dapur dan sengaja memasakkan makanan yang menurutku baik untuk kondisimu sekarang. Sedih memang ketika ku tawarkan dan kau “menolak”. Tapi, hal ini masih dapat aku maklumi karena pada akhirnya ku tahu bahwa jenis makanan ini tak kau gemari. Bukan hanya ini. Sungguh, terlampau sering kau menolak apa yang aku tawarkan, barang maupun jasa. Sebenarnya apa yang salah denganku sehingga kau tak mau menerimanya? Atau mungkin kau tak ingin terlihat lemah di hadapanku? Atau bisa jadi kau telah punya segalanya dalam hidup ini tanpa kekurangan? Entahlah, aku tak tahu, semua kemungkinan dapat terjadi.
Walaupun kau tak jarang kau menolak pemberianku, tapi aku tak pernah membalas dengan hal yang sama. Teringat akan pesan Bapak, “Jangan sekali-kali kamu meminta, nak! Tapi, jangan pula kamu menolak pemberian orang lain”. Prinsip inilah yang aku terapkan dalam hidup. Tak pernah menjadi seorang yang “meminta-minta”. Namun, tak juga menjadi orang yang angkuh, yaitu orang yang menolak pemberian orang lain.
Sore itu aku masih ingat. Saat aku sedang makan bareng dengan teman-teman yang lain. Lalu, kau datang. Terlihat gurat wajah kecapean dalam mimikmu. Spontan aku menawarimu untuk ikut makan bersama dan istirahat sejenak sebelum sebentar lagi kau akan pergi kembali mengisi agenda-agenda lainmu di luar sana. Tersentak hatiku saat kau menjawab dengan kata-kata yang menurutku kurang baik. Sayangku, kalaupun harus menolak, tolaklah menggunakan kata-kata yang baik, yaitu kata-kata yang tidak menyinggung dan dengan gaya bicara yang baik pula. Terkadang sisi jahat dalam diri ini muncul membisikkan hal negatif. Ingin rasanya kembali mencabut kata-kata untukmu tadi. Tapi, tidak! Beruntungnya aku karena sisi baik diri ini selalu setia menasehati. Ikhlas, ikhlas, ikhlas. Yap, itu kuncinya agar setiap hal yang dilakukan tidak sia-sia dan berbuah pahala. Insyaallah.

Bogor, 23 November 2013

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s