Belajar Mujahadah dari Syetan

Godaan syaitan Mujahadah. Makna kata tersebut sepertinya sudah tak asing di kalangan kita, para pencari ilmu. Mujahadah dapat diartikan sebagai sungguh-sungguh. Seringkali diibaratkan sebagai kesungguh-sungguhan dalam memerangi musuh, musuh di sini dapat disimbolkan sebagai nafsu. Praktik mujahadah ini tidak semudah yang diucapkan. Karena hal terberat dalam hidup ini adalah melawan nafsu.
Berbicara mujahadah bukan hanya pada perkara-perkara tercela yang harus kita lawan loh reader. Seringkali kita dengar, makanlah jika lapar dan berhenti sebelum kenyang. Ternyata jika kita makan ketika lapar, bisa jadi saat kita makan itu ditemani dengan nafsu. Hasrat yang meminta kita untuk mengisi perut yang kosong. Namun, tidak berarti kita juga terlarut membiarkan diri tidak makan berhari-hari ya reader. Sulit memang ya untuk bermujahadah dalam setiap tindakan ini.
Lantas siapakah yang paling bisa menjalankan mujahadah? Apakah kita sebagai seorang hamba biasa? Atau para alim ulama? Atau hanya Nabi dan Rasul? Mungkin sebagian di antara kita akan menjawab “iya” untuk beberapa pilihan tersebut. Namun, percayakah reader bahwa yang paling tinggi mujahadahnya dalam menjalankan hidup ini adalah SYETAN. Loh kok bisa?
Syetan memang sangat tinggi mujahadahnya. Karena syetan sangat bersungguh-sungguh, istiqomah, dan disiplin luar biasa dalam menjalankan tugasnya di dunia ini. Kita tengok kembali kisah pembangkangan syetan saat ALLAH memerintah makhluknya untuk sujud pada Adam. Saat itu hanya ada satu makhluk yang tak mau ikut sujud, yaitu iblis. Iblis ini adalah cikal bakalnya syetan. Sejak saat itu ALLAH murka dan mengusir syetan dari Surga. Namun, syetan meminta penangguhan waktu dan bersumpah untuk mengajak sebanyak-banyaknya umat manusia agar menemani dia di neraka kelak. ALLAH mengizinkan permohonannya. Oleh sebab itu, sampai saat ini iblis dan segala turunannya berjuang mati-matian dengan penuh kesungguhan dan disiplin untuk menjerumuskan umat manusia ke Neraka dengan segala tipu muslihatnya yang dibalut dalam beragam kenikmatan dunia sesaat. Tingkat mujahadah syetan dalam menjalankan tugasnya tersebut alasannya karena memang mereka sudah pasti masuk Neraka. Jadi, bagaimanapun juga mereka tidak mungkin merasakan kenikmatan Surga. Sehingga, hanya ada satu pilihan bagi mereka, yaitu membawa sebanyak-banyaknya manusia ikut bersama mereka di akhirat kelak.
Terlepas dari siapa yang paling tinggi mujahadahnya, tak apalah kita mengambil ibroh dari itu semua. Alangkah hebatnya jika kita bisa mengikuti jejak sifat syetan yang satu ini, yaitu “mujahadah” menjalankan aktivitas dalam kehidupan. Namun, satu yang mesti diluruskan, yaitu konteks mujahadahnya itu sendiri. Jika syetan berorientasi pada Neraka dengan membawa amal buruk di dunia, maka kita sebaliknya, mujahadah dalam melaksanakan amal baik di dunia untuk bekal di akhirat kelak menuju Surga. Jangan mau kalah dengan kegigihan syetan!

Bogor, 13 April 1992
Dicuplik dari:
Taujih Korwil Etos Bogor

sumber gambar: google

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s