Kepastian yang Tak Terelakkan dalam Hidup

(SR)
Bogor, 11 Januari 2015.
01.10

Rasaya aku baru menutup mata sekitar 3 jam yang lalu.
Tiba-tiba suara yang tak asing itu membangunkan dengan kelembutannya yang khas.
“Kak, bangun! Kakak dengar suara orang nangis teriak-teriak?”
Seketika aku bangun. Aku teliti sumber suara itu. Astaghfirullah aku kenal suara itu. Suara yang berasal dari Lorong 9. Segera aku lari menghampiri.
Jujur, yang terpikir olehku saat itu adalah ‘kemasukan’ & aku ketakutan. Bukan apa-apa, hanya saja saat dulu di pelatihan SR ada materi ruqiyah aku malah gak ikut karena ada agenda lain. Walhasil aku gak punya ilmu tentang hal seperti itu. Tapi, bagaimana pun aku harus tetap ke sana.
Bismillah. Ku ketuk pintu & kubuka lewat gagangnya.
Oh my Allah… benar saja adik lorongku ada yang menangis bak orang kesurupan. Satu yang membuatku agak lega, ternyata dia tidak kemasukan. Namun, hal ini justru menjadi pertanyaan baru. Hal apa gerangan yang membuatnya nangis separah ini?
Aku genggam erat kedua telapak tangannya yang hampir kejang, keras sekali akibat luapan emosi dari tangisan yang tak tertahankan. Sementara, rekanku memeluknya, membuat posisi adik ini lebih santai.
Otakku dibuat berputar-putar. Yang ada hanya pertanyaan: Kenapa ini? Ada apa? Terus seperti itu. Sambil aku memandang ke sekitar berharap ada barang bukti yang mampu menjawab tanyaku.
Sempat keluar pikiran konyol saat melihat laptop yang masih menyala di depannya dengan sebuah film drama. Aku kira dia nangis karena sedih menonton film itu. Tapi, ah masa iya? Itu mustahil. Sesedih-sedihnya film gak akan membuat nangis separah ini.
Masih belum turun emosi tangisannya. Tiba-tiba HPnya berbunyi dan tangisannya semakin menjadi. Deg! Aku terpikir, bisa jadi ada sesuatu di sebrang sana dari keluarganya.
Aku angkat telpon itu dan mencoba berbicara dengan suara yang sepertinya sebaya dengan adik lorongku ini. Aku sampaikan bahwa aku kakak asramanya. Akhirnya dia (orang yang menelpon) mau menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
Sempat kaget. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Seketika setelah mematikan HP aku teringat ayat Allah swt. QS. Al-Anbiya ayat 35:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan”.

Ku simpan HPnya dan kembali ku hampiri adik asrama ku tadi. Ku pegang erat lagi kedua tanganya. Mencoba merasakan apa yang dia rasakan. Berusaha menyalurkan energi positif lewat sentuhan jari jemari ku padanya. Lambat-laun dia mulai bisa tenang. Ku beri minum. Semakin tenang. Sampai pada saatnya, aku beranikan diri untuk bicara.
“Dek, sayang, bisa dengerin kakak?”
Dia mengangguk sambil masih mengontrol napas, menenangkan diri.
“Bagus sayang. Kakak tanya, kamu milik siapa?” Dia hanya mengangguk. Aku paham apa maksudnya. Hanya saja dia belum bisa bicara karena masih mengatur napasnya yang masih kejar-kejaran.
“Iya sayang”, aku menjawab bahwa apa yang dia pikirkan benar. Kembali ku bertanya. “Kakak milik siapa?”, jawabannya sama hanya mengangguk. Tak masalah aku paham. “Ibu kamu milik siapa?”, respon masih sama. “Kalau begitu, adekmu milik siapa, sayang?”.
Ya benar, semuanya milik Allah. Maka akan kembali pada Allah. Kita juga sama. Tinggal menunggu waktu dan kita akan lepas dengan raga yang sempurna ini. Karena setiap yang bernyawa akan merasakan mati.
Alhamdulillah dia mulai tenang. Ku tuntun dia untuk berwudhu. Dan pada akhirnya dia bisa tertidur.
Aku tau apa yang dia rasakan. Dia ingin mentari segera bersinar. Agar dapat menunjukkan jalan kembali pulang. Menguatkan ibunya dan keluarga yang ditinggalkan. Melihat jasad adik kesayangannya untuk terakhir kali sebelum dimakamkan.
Kepada all reader, sejenak saya mengajak Anda untuk khusyuk membaca Al-Fatihah.
Semoga segala amal sholih almarhum dapat Allah terima & kelak mendapat syafa’at dari Rasulullah saw., serta keluarga yang ditinggalkan diberi kesabaran dan keikhlasan yang murni.
Jazakumullah khoiron katsiron bagi Anda yang telah membaca Al-Fatihah dan mendoakan.

View on Path

Iklan

Satu respons untuk “Kepastian yang Tak Terelakkan dalam Hidup

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s