Assalamualaikum Beijing kode pertemuan kita

AB

“Besok insyaallah mau ke Bogor”.

Singkat, namun mengirim berjuta harap. Itulah sebait kalimat yang sahabatku kirim via whatsapp. Vina, sesosok yang kurindu. Sahabatku sejak jaman seragam merah putih. Orang yang melankolis akut menurutku. Semua kenangan tentang aku dan kami masih dia ingat. Padahal terkadang aku sendiri tak ingat tentang aku bagaimana di masa lalu. Tapi, kerennya dia mengingat bahkan sampai hal terkecil. Seperti patung-patungan hello kitty yang ada di kamarnya. Saat aku tanya, “Nha (panggilan sayangku untuknya) itu patung-patungan beli dari mana?” Dia berdecak sambil setengah mentertawakanku, “Itu kan dari kamu, Nay (panggilan akrabnya untukku)”. Semakin aku mengingat tentangnya, semakin tak sabar untuk bertemu. Rasanya ingin segera esok datang menghampiri. (Izinkan aku untuk tetap hidup di esok hari Yaa Allah dan bertemu dengannya).

Alhamdulillah Sabtu, 10 Januari 2015 masih Allah hadiahkan untukku. Aku bertekad hari ini harus lebih baik dari kemarin. Pagi ini pun aku isi dengan hal positif insyaallah berkah. Syuro Menspir (Manajemen Spiritual) Asrama TPB. Berbeda dari biasanya yang syuro di dalam ruangan atau lobi atau paling jauh di halaman depan gymnasium, hari ini kami melakukan perjalanan cukup jauh, ke daerah Cifor. Ku gas motor dengan santai, sambil menikmati sejuknya udara Bogor di pagi hari sebelum polusi kendaraan mengotori. Kurasakan partikel-partikel dalam angin menerobos masuk dalam kulit, menyampaikan salam kebahagiaan. Ah aku terlalu suka suasana seperti ini. Alam. Hijau sepanjang perjalanan. Suara burung yang saling memanggil bersahutan. Bisikan angin pada celah dedaunan. Fabi ayyi aalaaaa i robbikumaa tukadzdzibaan?

            Jam 11 pun tiba. Untungnya aku sudah sampai asrama. Karena saat itu Vina kembali menghubungiku bahwa dia sudah hampir sampai. Oh My Allah, sementara aku masih belum siap-siap. Baiklah, aku gercep alias gerak cepat menyiapkan diri. Tak sampai setengah jam, lalu aku langsung caw pergi ke Bogor kota. Namun, perjalanan tak semulus yang diharapkan. Memang sudah ku duga. Bogor belum saja lepas dari yang namanya kemacetan mulai dari kabupaten sampai ke kota, sama saja. Apalagi saat di daerah stasiun KRL, hampir setengah jam aku sabar menanti riuhnya kemacetan yang menyegat perjalananku.

BTM tempat Vina dan kakaknya, A Zaki, menantiku. Jujur, hampir empat tahun aku kuliah di Bogor, baru pertama kali aku masuk ke BTM. Ok fine, memang aku orang rumahan yang sangat sangat sangat jarang main ke tempat-tempat sejenis itu. Bukan apa-apa, hanya saja aku suka tiba-tiba pusing, sakit kepala, bahkan parahnya serasa mau pingsan kalau lihat banyak orang mondar-mandir ke sana-ke mari. Sehingga kalau pun harus ke luar untuk jalan-jalan aku lebih suka diajak ke tempat berlatar alam, entah itu dataran tinggi alias pegunungan ataupun dataran rendah alias pantai.

Aku terus melaju ke lantai paling atas gedung itu tanpa banyak melihat ke kanan ataupun ke kiri, khawatir sakit kepalaku kambuh. Ternyata Vina dan A Zaki sudah menungguku lama di lobi bioskop itu. Ku ucap salam dan langsung ku peluk orang yang kurindukan ini. Serasa berpuluh-puluh tahun tidak bertemu, padahal baru beberapa bulan saja kita berpisah. Serasa jarak yang memisahkan kita tersekat samudera dan benua, padahal hanya jarak Bogor-Cianjur yang bisa ditempuh dengan waktu sekitar tiga jam. Kocak parah hati ini. Kadang tak dapat ditebak dan dimengerti.

Tujuan kami memang ke bioskop. Merealisasikan keinginan Vina untuk menonton Assalamualaikum Beijing. Awalnya kami mau menonton saat tanggal ulang tahunnya, 2 Januari 2015. Namun, Allah berkehendak lain dan mentakdirkan kami bertemu di tanggal ini, insyaallah jauh lebih indah. Masih ada waktu setengah jam lebih untuk kami masuk ke ruang tonton. Aku ajak Vina dan A Zaki untuk makan terlebih dahulu. Ternyata mereka sudah duluan tadi. Mungkin saking lamanya menungguku. Gomenasai. Akhirnya, aku makan sendiri meski ditemani kakak beradik itu. Aku bingung memilih menu apa. Rasanya tak ingin makan nasi ataupun mie. Di sudut kiri ku lihat penjual pempek, aku bilang bahwa aku ingin membeli itu saja. “Hmmm.. dari SD pempek mulu”, sahut Vina padaku. Tuh kan apa aku bilang, lagi-lagi dia mengingat apa kesukaanku. Padahal aku gak ngeh bahwa waktu kecil aku suka beli makanan ini. Makin gemes aku sama dia.

Ternyata tak hanya aku, ada beberapa orang teman juga dari kampusku, IPB. Aku kenalkan juga pada Vina. Semoga menjadi penyambung silaturrahmi. Tepat jam 14.30 film diputar. Kami duduk di bangku C10, C11, dan C12. Bersyukur masih mendapat tempat yang strategis. Kami mulai tak bercakap-cakap, fokus pada film. Bahkan makanan dan minuman yang dibeli A Zaki pun teracuhkan.

Banyak hikmah dan pelajaran dari film tersebut. Secara tidak sadar kita diingatkan bahwa antara laki-laki dan perempuan bukan mahrom tidak boleh bersentuhan. Secara lembut kita diingatkan bahwa di setiap kejadian pasti ada hikmah yang lebih membahagiakan. Karena baik menurut kita belum tentu baik menurut Allah untuk kita. Mbak Asma Nadia memang selalu memukau ku lewat karya-karyanya. Sempat terpikir suatu saat aku akan ke sana juga. Mengunjungi tempat-tempat bersejarah dan terutama ingin ke Yunan untuk melihat langsung patung Ashima. Boleh kan ya mimpi dulu? Hehe.

Ada salah satu tokoh yang aku soroti, bukan tokoh utama, ia adalah Sekar yang dalam film itu merupakan sahabat dari Asmara, tokoh utama. Ba’da pemutaran film, aku mendapat sebutan baru dari sahabatku ini, “Sekaaar Sekaaar, jangan kebanyakan nonton film Korea”. Waduh, kok jadi aku yang kena sih?! Vina bilang karakter tokoh Sekar mirip aku. Selalu ceria, konyol, dan dramatis dalam membahasakan ‘cinta’, serta yang paling Vina soroti adalah keriweuhan-nya yang mirip sangat denganku. Oh My Allah, ternyata bagi Vina aku masih terkesan seperti itu. Vina belum tau saja aku yang dulu bukanlah yang sekarang (loh kok malah nyanyi). Vina sayang, asal kamu tau, sekarang aku sudah tak se-riweuh dulu, masih sih tapi kadarnya berkurang, hehe. Better lah ya dibanding dulu yang panikan akut. Meski begitu, aku akan tetap menjadi Munay yang ceria seperti dulu, dalam kondisi bagaimana pun, tak perduli kondisi hati sedang dihujani tangis. Setidaknya di hadapanmu. Karena aku tau ketika aku bersedih kamu akan ikut merasakannya. Seperti halnya rasa sedih Sekar saat tau Asmara dikhianati Dewa, atau saat tau Asmara mengidap penyakit parah. Tapi, lihatlah Sekar pun tak pernah menangis di hadapan Asmara meski sakit merobek-robek jiwanya, sebaliknya dia selalu membuat suasana menjadi ceria bahkan kita sebagai penonton pun ikut tertawa. Bukankah katamu aku sepertinya?

Vina satu hari ini begitu berarti untukku. Terimakasih atas waktu yang kau berikan untukku. Terimakasih juga A Zaki atas waktu yang telah diberikan untuk kami, sampai bel-belaan izin dari jadwal kerja. Karena bagiku pemberian yang paling berharga adalah “waktu”. Sebab, waktu adalah suatu perkara yang tak akan kembali, meski satu detik. Sebab, waktu adalah hal yang tak dapat ditemukan di toko-toko termahal sekalipun. Sebab, waktu adalah anugerah terindah yang Allah berikan. Terimakasih juga untuk segala pemberian yang tak terbayar hanya dengan sebungkus kado dariku. Itu tak imbang. Semoga kelak dapat berjumpa kembali. Sesuai rencana kita, insyaallah kita jelajahi Jepang, kota impianku sejak zaman dahulu kala, dan Eropa, tempat impianmu yang penuh dengan sejarah-sejarah kejayaan Islam. Kita harus yakin ini bukan hanya sekedar mimpi, Allah pemilik langit dan bumi, jika kita ingin semakin dekat dan dapat mencapai mimpi-mimpi kita maka dekati pemiliknya, dekati Allah. Kuatkan doa! Doakan aku dan kita. Karena doa merupakan pintu penghubung insan yang satu dengan insan yang lain tanpa sekat jarak dan waktu.

Bogor, 12 Januari 2015 15.12

LSI IPB

@muniranaylatama

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s