Gerimis Romantis

20150121_181351


Hujan sempat menyiutkan tekadku. Kalau bukan karena janji, aku tak mau untuk melangkahkan kaki. Hanya saja janji ini terlanjur mengikat hati yang dirudung rindu menggebu. Kerinduan untuk suatu pertemuan yang lama ku tunggu.


Wanita itu, tak asing wajahnya bagiku, tapi aku sangat mengapresiasi atas perubahan yang ada padanya. Dia duduk sendiri di pojok Masjid Agung tanah kelahiranku. Rintikan hujan syahdu menetes mengiringi detik-detik yang kian berlalu. Wanita itu tetap setia menunggu. Senyumnya terkembang saat ku datang menghampiri. Jabat tangannya hangat penuh doa agar segala dosa berguguran sehebat rintikan hujan di bumi Allah ini, insyaallah. Sartika. Wanita yang satu ini begitu anggun dan cantik dengan gaun sederhananya yang syar’i. Semoga Allah memberikan keistiqomahan kepadamu untuk tetap melaksanakan perintah Allah menjadi duta agama kita di muka bumi dalam menutup aurat. Karena bukan tidak mungkin, penampilan itu akan menginspirasi banyak orang, membuat orang-orang penasaran akan indahnya Islam, bahkan bisa jadi meng-Islam-kan.


Kami berdua melanjutkan perjalanan ke tempat yang menjadi rekomendasi salah seorang teman. Perlukah ku sebutkan di sini nama tempatnya apa? Baiklah, kami menuju tempat makan yang bernama “Twank kitchen”. Aku rasa kata ‘twank’ ini diadopsi dari Basa Sunda, yaitu tuang yang artinya makan. Sehingga, jika digabung akan berarti dapur makan. Entahlah, itu hanya perkiraanku.


Sedetik. Semenit. Sampai bermenit-menit. Kami hampir mengering di bawah guyuran hujan di atas bumi. Hingga akhirnya orang yang kami tunggu datang juga satu persatu. Mayang. Teman yang merekomendasikan tempat ini sebagai setting pertemuan. Katanya sih di sini ada ‘ramen’, makanan yang didamba-dambakan Sasar (panggilan akrab kami untuk Sartika). Hanya saja, Allah berkehendak lain, tak kami dapat satu pun tulisan ramen di daftar menu. Tak apa, yang penting Mayang datang itu sudah membuat ku bahagia. Terlebih melihatnya bahagia melepas penat selepas UAS sore tadi. Tetap semangat ya May, revisi proposalnya jangan lupa! Semoga masih tersisa tenaga untuk bergadang malam ini.


Tak berapa lama dari kedatangan Mayang, bertambah lagi satu personil, Rani. Uniknya ia datang ke sini dengan memakai kendaraan yang berbeda dari yang kami pakai, bukan motor bukan pula angkot. Ada yang mau nebak? Okelah biar aku beri tau, Rani ke sini menaiki becak. Saya hendak tamasya berkeliling-keliling kota sambil melihat-lihat pemandangan yang ada, saya panggilkan becak, kereta tak berkuda, becak..becak..coba bawa saya… Tuh kan jadi nyanyi, ingat masa lalu saat bocil suka banget sama lagu ini, makanya nempel sampai sekarang. Coba saja dulu sukanya sama Al-Qur’an, mungkin sekarang sudah jadi hafidzoh, hehe.


Aku sibuk membalas bbm dari seorang yang kewalahan di perjalanan. Kompleks sekali apa yang ia alami. Mulai dari ketinggalan dompet (untung uangnya gak ketinggalan ya bu), terus gak jadi naik motor karena hujan, salah naik angkot, dibawa muter pula sama sopir angkot, sampai serasa nge-date bareng abang angkot. Sabar ya neng. Makanya kalau mau keluar rumah itu minta doa restu orang tua dulu, hehe. Semoga kesabaran menjadi penggugur dosa dan perjuangan menjadi pemberat amal. Tenang saja, kami setia menunggumu di sini, dengan kamera HP dan tongsis yang nampaknya sudah mulai lelah. Alay-nya anak masa kini. Namun, maafkan aku yang kepegelan menunggu di luar ruangan, berdiri mematung lama ternyata melemahkan sendiku. Akhirnya, ku kembali pada kenarsisan yang sedang menjangkit teman-teman lain, di depan meja tanpa makanan.


Pizza dan strawberry milk shake nampaknya menjadi makanan pembuka di pertemuan kita ini. Aslinya gak kenyang. Lagi pula gairah untuk merealisasikan target masih menggebu. Perjalanan kami lanjutkan memburu penjual ramen. Kami sangat berharap dua orang pejantan tangguh, Adit dan Tresna, dapat ikut. Namun, terlalu pahit untuk menelan ludah. Mereka tak cukup tangguh untuk menerjang hujan seperti kami cewek-cewek kece ini, yang ada hanya Pe Ha Pe. Baiklah tak apa, semoga kelak Allah pertemukan kita di tempat yang lebih baik dengan kondisi yang lebih baik juga.
Aku mau memberikan pengakuan. Sesungguhnya dan senyatanya aku ini baru pertama kali merasakan ramen di lidah. Tepatnya, aku hanya tau ramen di sebuah film favoritku, Inuyasha. Jadi begini toh rasanya ramen. Nothing special I think. Rasanya terasa sama saja seperti mie instan biasanya. Hanya ada campuran bahan lain yang tak ku temukan di kemasan mie instan manapun. Tak ku kira ramen ini membuatku kenyang gak ketulungan. Pedasnya sampai menghabiskan berhelai-helai tisu untuk menahan meler. Sepertinya aku ingin merasakan menu ramen lainnya, di lain waktu kali ya.


Kosongnya mangkuk ramen mengakhiri pertemuan kami di kedai Rock Ramen hari ini. Ada rasa bahagia saat perlahan ku perhatikan lekukan-lekukan senyuman di wajah mereka. Ada doa yang mengalir tulus saat ku jabat tangan mereka sambil bercakap pamit. Ada getaran hebat dari qolbu yang mengartikan bahwa ku menyayangi mereka. Sangat bersyukur dengan perasaan cinta yang Allah beri ini. Karena aku tau tak setiap manusia dapat merasakan cinta, karena aku tau di luar sana ada hati yang membeku, karena aku tau rasa ini sangat sulit dan mahal yang tak akan kau temukan di ujung dunia sekalipun jika Allah tidak Berkehendak, tapi akan kau dapat dengan sangat mudah jika Allah telah Berkata “Kun!”.


Semoga kelak kita dapat berjumpa kembali dengan lengkap pasukan IMPEEZA 20. Tak apalah walau hanya sekedar bertemu, mengobrol, menanyakan kabar, dan hal-hal ringan lainya. Ku harap hanya wajah ceria dari teman-teman untuk mengobati kegersangan hati yang merindui. Jangan pernah remehkan harapan ini. Seperti dalam suatu hadits: “Janganlah kamu meremehkan kebaikan apapun, walaupun sekadar bertemu saudaramu dengan wajah ceria.” (HR. Muslim)


Tetap semangat untuk yang masih kerja, ujian, dan agenda-agenda kece lainnya, semoga Allah Mudahkan segala urusannya. Cepat sumbuh untuk yang sedang sakit, semoga sakitnya menjadi penggugur dosa. Aku harap tak ada alasan yang menghalangi pertemuan kita di lain waktu. Aku mencintai kalian insyaallah karena Allah 🙂


Cianjur, 21 Januari 2015

IG/ Path/ Twitter: @muniranaylatama

Iklan

4 respons untuk ‘Gerimis Romantis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s