Cocok Gak Cocok Hanya Penilaian Manusia

(episode 1)

Assalamu’alaikum warohmatullahi wa barokatuh

C360_2015-01-21-17-19-55-815Aku termasuk orang yang cukup memperhatikan penampilan dan senang sekali mengikuti trend fashion dari tahun ke tahun. Aku merasa lebih percaya diri ketika mengikuti trend fashion pada saat itu. Termasuk pada saat rame-ramenya mengenai hijab fashion.  Akupun termasuk orang yang ikut-ikutan mengenakan hijab dan berpenampilan layaknya hijaber yang banyak aku lihat di majalah-majalah fashion.  Pada saat itu aku merasa kalau aku sudah berbuat baik, bahkan merasa sudah menjadi hamba Allah yang lebih mulia karena aku sudah mengenakan hijab dan mengikuti apa yang Allah perintahkan untuk para muslimah, yang seharusnya sudah aku lakukan dari sejak lama. Astagfirullah. Merinding sekali ketika mengigat masa itu. Padahal yang sebenarnya aku lakukan adalah hanya menutup kepala, tidak berhijab. Karena pada saat itu, walaupun kepalaku berkerudung, pakaianku tidak banyak berubah. Seringkali aku mengenakan celana ketat, baju ketat, dan memperlihatkan bentuk tubuh, yang berbeda hanya sekarang rambutku ditutup kain yang disebut jilbab, yang seringkali jilbab tersebut hanya menutupi kepala tidak menutupi dada. Sekali lagi aku memohon ampun, astagfirulloh. Parahnya lagi, aku merasa bangga dengan penampilanku, karena aku banyak mendapatkan pujian-pujian dari orang lain. Di sinilah penyakitnya!

Aku merasa ada yang salah ketika aku bertemu dengan teman-teman yang lebih benar hijabnya. Aku selalu merasa sangat nyaman ketika bertemu dengan teman-teman yang berkerudung panjang dan berpakain gombrang (tidak memperlihatkan bentuk tubuh). Mereka anggun sekali, tutur mereka santun, wawasan agama mereka luas. Selalu dibuat kagum oleh mereka. Pada saat itu, jauh di lubuk hatiku berkata bahwa ingin seperti mereka. Namun, selalu ada pikiran negatif yang mematahkan keinginan itu. Pikiran-pikiran seperti,  “Gaya seperi itu kuno! (atau) Kalau kamu berpenampilan seperti mereka kamu tidak akan cocok, akan seperti ibu-ibu, kamu akan diejek oleh teman-temanmu! (dan lain sebagainya)”, pikiran-pikiran ini yang mengahalangi niatku untuk berhijrah. Sering batin bertanya, kenapa pikiran ini terus muncul? Kini ku tau, karena aku berpakain bukan untuk Allah, tapi demi penilaian manusia. Ini yang salah. Dan ini yang harus aku perbaiki.

Pada suatu waktu, dengan seijin Allah aku mengenal seorang hamba Allah. Dia memiliki tubuh yang indah, dikaruniai wajah yang cantik, dan mata yang bersinar. Aku tidak mengenalnya secara langsung, namun pertama kali melihatnya aku sangat-sangat kagum, dan jujur saja iri dan berharap menjadi seperti dia. Dia berprofesi sebagai model. Lamaaa sekali aku tidak bertemu dengannya. Hingga pada satu saat aku melihatnya dengan penampilan yang sangat-sangat berbeda. Dia mengenakan gamis dan kerudung panjang yang menjulur menutupi dadanya. Subhanalloh. Aku tercengang. Seketika aku berpikir, bagaimana bisa dia yang hidupya bergantung pada tubuhnya, rambutnya serta wajahnya yang indah memutuskan untuk menutupi semuanya dan kini dia berjalan di jalan Allah?! Aku merasa tertampar! Dia saja yang seperti itu mampu, lalu kenapa aku yang berparas biasa saja dan hidupku juga tidak bergantung pada hal-hal yang berbau kecantikan dan fashion sulit sekali memutuskan untuk berhijrah.

Sejak saat itu aku mulai memperbaiki penampilanku, sedikit demi sedikit aku melonggarkan apa yang aku kenakan, aku panjangkan kerudungku. Aku pun jadi banyak belajar mengenai hijab yang seharusnya itu seperti apa. Walaupun banyak sekali godaanya. Pikiran-pikiran negatif yang dulu ada seringkali muncul kembali. Namun, aku menguatkan diriku dengan mengingat bahwa apa yang aku lakukan adalah untuk Allah. Apapun komentar orang di sekitarku, cocok atau tidak cocok itu hanyalah penilai manusia. Biarkanlah itu berlalu, karena yang akan menolong ku kelak adalah Allah SWT.  Sampai saat ini aku masih berusaha keras untuk terus beristiqomah dan aku masih terus belajar mengenai hijab, belajar untuk terus memperbaiki hijabku. Aku berharap semoga Allah Ridho dan Meluruskan niatku, semoga Allah memudahkanku agar tetep beristiqomah menjaga apa yang seharusnya aku jaga.

Semoga bermanfaat, maafkan atas segala kekurangan yang diperbuat.

Follow IG: @sasartikaa

Cianjur, 1 Februari 2015

Terimakasih Sartika Gustiroyati. Wanita yang sangat menginspirasi bagiku. Semoga tulisanmu ini kelak akan menginspirasi wanita-wanita lainnya di belahan bumi Allah yang lain. Lawan segala kekhawatiran yang menghadang dalam melaksanakan apa yang Allah syariatkan. Insyaallah, ketika kita memilih pilihan Allah dan meninggalkan pilihan kita yang tidak Allah Ridhoi, maka hasil terindah yang akan kita rasakan. Semoga kelak bertemu di surga-Nya Allah bersama wanita-wanita pilihan yang Allah Janjikan lebih dulu masuk Surga.

Follow my IG/ Path/ Twitter: @muniranaylatama

Iklan

2 respons untuk ‘Cocok Gak Cocok Hanya Penilaian Manusia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s