Tersesat ke Jalan Hidayah

(Episode 2)

Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang Mukmin, “Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.

[QS. Al-Ahzab: 59]

 

2_rima                Aku seorang gadis desa yang ingin merasakan hingar-bingarnya kota. Maka, tatkala aku beranjak SMA ku putuskan untuk memilih sekolah yang jauh dari rumah. Aku memilih SMA yang tepat berada di pusat kota. Aku kira aku benar-benar akan merasakan hingar-bingar itu. Aku kira aku bisa punya bejibun teman dengan agenda-agenda bermain, jadi anak gaul yang sering ku lihat di TV-TV. Ternyata aku salah, readers! Justru takdir berkehendak lain. Takdir memberiku jalan yang berbelok 360 derajat dari yang aku bayangkan. Aku tersesat! Ya, aku tersesat, readers. Tapi, sungguh aku bahagia karena aku tersesat ke jalan yang benar. Baiklah akan aku jelaskan padamu readers, apa yang aku maksud itu. Selamat menyimak 😉

Seperti biasa, aku pergi sekolah kurang dari waktu yang ditetapkan. Maklum, anak baru nan lugu, berusaha untuk taat aturan. Kukenakan dengan bangga seragam putih abu berlogo salah satu SMA terfavorit di tempatku. Ya, aku bangga karena aku merupakan salah satu siswa SMP terpilih yang dapat lolos seleksi dari ratusan orang yang juga ingin masuk SMA ini, apalagi titelku yang bercap anak desa, bagaimana mungkin aku tidak bangga? Mungkin orang-orang di sini tak sedikit yang bertanya-tanya tentang apa agamaku. Wajah chines-ku ini membuat orang lain mengira bahwa aku bukan muslim, apalagi didukung dengan kepalaku yang tak terbalut kerudung. Pantas saja ada seorang teman yang memberanikan diri mangatakan padaku bahwa dia awalnya mengira aku non muslim. Sedikit tersindir. Sungguh, aku tidak marah dikira seperti itu, karena memang wajar. Aku malah malu karena aku belum bisa menunjukkan identitas muslimku pada dunia. Ya, identitas seorang muslimah adalah kerudung.

Hari ini guru memberi kami tugas tambahan kelompok. Entah apa maksud Allah pada saat itu memberiku anggota kelompok orang-orang ‘alim’ semua. Nenden dan Mustika. Dua orang ini adalah anak rohis. Kamu tau, kawan, apa itu rohis? Ibarat negara, rohis itu adalah kemenag-nya. Sudah pasti orang-orang yang masuk rohis adalah orang-orang yang hebat ilmu agamanya, atau motif lain yaitu orang-orang yang ingin menjadi hebat ilmu agamanya. Entahlah, itu hanya pemikiranku.

“Rim, Rima!”, panggil Nenden setengah berlari menghampiri.

“Iya, Nen?”.

“Jangan lupa ya setelah pulang sekolah kita mengerjakan tugas di rumah Mustika. Jangan ditunda-tunda biar cepat selesai”.

“Siap Nen! Tapi, aku izin pulang dulu ya bentar, mau ganti pakaian”. Bel masuk pun berbunyi, pertanda waktu istirahat telah usai. Kami kembali ke kelas dan melanjutkan belajar.

Sepulang sekolah aku kembali ke rumah. Aslinya rumah saudara, karena rumahku sebenarnya di desa yang perjalannya lumayan sekitar 2 jam dari sini. Ku kenakan jeans dan kaos agar lebih santai, dengan rambut diikat model ekor kuda. Aku berangkat ke rumah Mustika.

Saat perjalanan pulang, terlintas dalam pikiranku pertanyaan-pertanyaan yang tak pernah ku sangka akan muncul. Aku merasa malu, kenapa aku tak bisa seperti mereka yang berani menutup mahkota terindahnya (read: rambut) dengan kerudung. Akhirnya, setelah melalui beberapa lama semedi aku putuskan untuk berkerudung juga ketika sekolah. Aku belum paham hukum menutup aurat saat itu, hanya menyesuaikan saja pergaulan dengan mereka, agar aku tak beda sendiri.

Teguran yang serupa Allah berikan lewat teman pulang kampungku. Di liburan akhir semester aku pulang bareng dengan temanku yang pulangnya satu arah. Lastri, aku baru mengenalnya di SMA. Di perjalanan, dia memberanikan diri bertanya padaku, “Kamu aslinya gak pakai karudung ya, Rim?”. Aku tak menjawab, hanya tersenyum. Karena memang benar aku memakai kerudung hanya sebatas di sekolah saja. Sementara, ketika berganti pakaian lain, kembali ku lepas hijab itu.

Readers, aku kini menempati kelas baru, dengan teman-teman baru, dan kisah baru yang menjadi titik tolak perubahan bagiku. Kalau dulu aku sekelas dengan anak rohis, sekarang lebih parah, aku sebangku dengan anak rohis. Munira namanya. Dia layaknya missionary. Tak bosan mengajakku ikut rohis, mentoring, dan mengisi waktu istirahat dengan dhuha. Aku yakin bahwa Allah Sayang padaku. Allah Mengirimkan teman-teman yang menunjukiku jalan kebenaran sedikit demi sedikit. Kini aku mulai terbiasa dengan sholat dhuha. Aku juga mulai mengikuti mentoring. Taukah readers apa itu mentoring? Bagiku ia adalah suatu yang menjadi pelantara Allah Mengantarkan hidayah-Nya. Memang benar, bahwa hidayah itu “harus dijemput”. Andai saja aku menolak untuk mengikuti mentoring saat itu, sepertinya aku tidak akan tersadarkan bahwa kerudung itu kewajiban dan bukan sekedar formalitas, bahwa rok atau gamis itu pakaian yang seharusnya wanita pakai agar tidak menyerupai laki-laki, bahwa batasan tangan itu bukan sampai siku atau lengan sehingga ku gunakan mangset sebagai penutup, bahwa kaos kaki itu bukan sekedar penyekat antara sepatu dan kulit tapi pelindung aurat kaki, juga bahwa pergaulan laki-laki dan perempuan itu jelas batasannya jangan sampai mendekati zina.

Alhamdulillah. Aku merasa menjadi manusia paling beruntung karena Allah menunjukiku jalan hidayah. Karena hidayah itu mahal. Bahkan kalaupun dunia dan seisinya atau langit dan segala benda yang ada di dalamnya ditukarkan dengan hidayah, maka tak akan cukup untuk membelinya. Hidayah hanya Allah Yang Berkenan Memberikan. Hidayah memang mahal, tapi akan sangat murah dan mudah ketika Allah Rihdo. Semoga Allah Menjaga diri ini dalam keistiqomahan menjalankan perintahnya dan menjauhi segala larangannya.

The real story by Rima Rahayu

IG: @rimanaylatama

Cianjur, 2 Februari 2015

Follow my IG/ Path/ Twitter on @muniranaylatama

Iklan

6 respons untuk ‘Tersesat ke Jalan Hidayah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s