#hampa

Tak mengerti dengan rasa ini

Tak biasa ia begini

Menangis lirih tanpa air mata

Tersenyum palsu dihiasi tangisan

Apa yg sebenarnya terjadi?

Jangan tanyakan pada ku!

Aku pun tak tau

Mungkinkah aku takut jika harus sendiri?

Bukankah keheningan yang aku cari?

Lantas, mengapa sekarang harus berlari dari sepi?

Jiwa menghilang entah lari kemana

Raga menanti dg kekosongan

Menjerit, memanggil kembali yang tak tau apa yang harus kembali

Dada bergemuruh riuh meratapi

Ada sesal yg tak dapat terdefinisi

Ada takut akan kematian yg pasti datang menghampiri

Entah kapan itu terjadi

Mayat hidup merasuki, berjalan tanpa arah tujuan pasti

Hanya ingin pergi, berlari, menjauhi semua

Namun ku tak tau harus kemana

Bahkan kehampaan semakin mendekat menapaki jalanku tadi

Mengapa ketakutan semakin menyelimuti?

Mengerdilkan diri!

Pergi! Pergi kau sepi!

Biarkan aku menari bersama lamunan diri

Terkubur dan tak kembali

Bogor, 20.03.15

Iklan

Jika yang “menjaga” saja masih digoda, bagaimana dengan yang “mengumbar”?

siluet-akhwat

Saat itu ba’da maghrib. Langit tak menunjukkan tanda-tanda bahwa hujan akan turun. Tepat saat rasa lapar menyerang, Rin pergi keluar dari asrama untuk memenuhi hak fisiknya. Kantin samping asrama kampus menjadi pilihan tempat untuk ia menunaikan jadwal makan yang ke tiga di hari ini. Memang begitu, hidupnya terjadwal, ditambah ia mengidap penyakit lambung yang tidak boleh asal makan, apa dan kapan.

Hampir saja ia melupakan suatu hal. Saat kembali ke asrama, Rin melihat ada orang yang memegang schdule board ikut dalam antrian di suatu minimarket di samping kantin tempatnya makan tadi. Benda itu menghentikan langkahnya, membuatnya berpikir akan suatu hal yang telah lama ia catat dalam memori pikirannya. Ia mencari-cari. Continue reading “Jika yang “menjaga” saja masih digoda, bagaimana dengan yang “mengumbar”?”