Jika yang “menjaga” saja masih digoda, bagaimana dengan yang “mengumbar”?

siluet-akhwat

Saat itu ba’da maghrib. Langit tak menunjukkan tanda-tanda bahwa hujan akan turun. Tepat saat rasa lapar menyerang, Rin pergi keluar dari asrama untuk memenuhi hak fisiknya. Kantin samping asrama kampus menjadi pilihan tempat untuk ia menunaikan jadwal makan yang ke tiga di hari ini. Memang begitu, hidupnya terjadwal, ditambah ia mengidap penyakit lambung yang tidak boleh asal makan, apa dan kapan.

Hampir saja ia melupakan suatu hal. Saat kembali ke asrama, Rin melihat ada orang yang memegang schdule board ikut dalam antrian di suatu minimarket di samping kantin tempatnya makan tadi. Benda itu menghentikan langkahnya, membuatnya berpikir akan suatu hal yang telah lama ia catat dalam memori pikirannya. Ia mencari-cari.

Yes! Dapat! Akhirnya ia ingat. Beberapa bulan yang lalu saat ia akan kembali ke kampus, teman lamanya minta tolong untuk dibelikan benda yang membuatnya kini terhenti dan berpikir, schedule board. Tanpa pikir panjang, Rin memutar balik langkah, ia menuju toko dimana benda tadi dapat ia temukan.

Selepas Rin membeli barang pesanan itu, ia kembali ke asrama. Sendiri. Jalan yang ia lalui sudah biasa baginya, jadi tak heran jika ia berani berjalan sambil pandangan terfokus ke layar HPnya. Obrolan demi obrolan dalam grup di whatsapp ia baca dengan teliti. Barangkali ada ilmu baru yang ia dapatkan dari broadcast yang teman-temannya posting.

Rin tengah asyik dengan bacaannya, sambil tetap berjalan dan sesekali menatap ke depan, khawatir ada orang atau gangguan lainnya yang harus ia hindari di jalan. Tampak tak jauh segerombolan laki-laki berjalan berlawan arah. Sambil tetap melihat HP, Rin berjalan menepi, memberi jalan pada orang lain yang berhak melaluinya.

Tiba-tiba, astaghfirullah! Rin kesal. Ada seorang pemuda tadi menyenggol temannya ke arah Rin. Untung saja Rin menghindar. Tak kena, barangkali itu tanda kasih sayang Allah kepadanya. Pemuda itu tak tau malu, tanpa meminta maaf atau basa basi lainnya mereka berlalu begitu saja. Mereka menganggap itu bercandaan. Tapi Rin tidak menerima. Hal itu terasa sebuah pelecehan untuknya. Padahal ia tidak menghalangi atau mengganggu mereka. Padahal ia sudah sebisa mungkin menjaga aurat dan pandangannya.

Jika yang “menjaga” saja masih digoda, bagaimana dengan yang “mengumbar”?

Wahai saudariku, para wanita muslim, izinkan aku menyayangimu dengan mengingatkan kembali ayat cinta Allah Yang Maha Mencintai, salah satu ayat cinta-Nya dalam surat An-Nur ayat 31, yang artinya: “Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya….” (silakan baca kelanjutannya dalam Al-Qur’an).

Semoga Allah swt. senantiasa menjaga kita dari segala macam bahaya dan semoga kita dapat istiqomah menjalankan kewajiban yang menjadi ketetapan Allah swt. kepada seorang muslimah. Semata-mata bukan untuk menyusahkan, tapi karena Allah swt. sayang.

Bogor, 14 Maret 2015

@muniranaylatama

sumber gambar: google

Iklan

2 respons untuk ‘Jika yang “menjaga” saja masih digoda, bagaimana dengan yang “mengumbar”?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s