Sebelum Ia Berbelok Jauh

C360_2015-02-28-11-11-47-401 Langit Bogor terlihat seperti biasanya seminggu terakhir ini. Sekarang jam baru menunjukkan pukul 09.15 WIB, awan masih putih menghiasi langit yang biru. Tapi aku bisa menebak, 6-7 jam ke depan sang langit akan berubah suram. Beginilah khasnya daerah dengan julukan “kota hujan” ini, pagi hingga menjelang sore cerah menemani, dan penghujung hari dihampiri dengan curahan hujan hingga lelap menghantarkan pagi kembali.

Hari ini Jumat, 4 November 2015. Aku punya acara bulanan yang ingin sekali ku ikuti, pengajian rutin di masjid kampus yang biasa diadakan setiap ba’da ashar. Tapi, aku dilema. 5 menit yang lalu temanku, Sahra mengirim pesan di beberapa grup whatsapp dan line yang kebetulan aku ada di dalamnya. Isinya sama, ia meminta tolong pada kami, teman perempuannya, untuk mengantarnya ke toko kimia, membeli bahan untuk keperluan penelitiannya, letaknya di daerah kota. Maklum kampus kami letaknya di kabupaten yang jaraknya dengan kota lumayan jauh, apalagi jika harus naik angkutan umum, maka bisa 2 kali lipat waktu yang dibutuhkannya, karena macetnya yang luar biasa.

Tak banyak respon di grup-grup medsos itu. Adapun jawaban dari mereka yakni yang tak dapat membantunya dengan berbagai alasan. Sudah ku duga, tak lama Sahra kirim pesan pribadi padaku, memintaku untuk mengantarnya. Tapi, aku masih berat hati untuk meninggalkan acara pengajian bulanan tersebut. Akhirnya, aku tetap memilih untuk mengikuti inginku dan menolak permintaan Sahra. Dia bersedih, tapi dia pun tak dapat memaksa.

Sahra memang dekat denganku. Aku masih ingat sekitar 3 bulan lalu ia sering sekali main ke kosanku. Selalu menatapku, memperhatikanku ketika aku memakai kerudung. Hingga suatu hari ia berkata padaku, “Zilah, ajari aku untuk berkerudung syar’i!”. Masyaallah aku kaget sekaligus bahagia. Seorang fashionista seperti dia ingin berkerudung. Aku kira dia hanya bercanda, tapi tidak setelah esoknya dia kembali ke kosan ku dengan membawa kerudung untuk belajar memakainya. Sedikit demi sedikit dia mulai mempelajari Islam. Ikut mentoring bersamaku, ke pengajian-pengajian kampus, dan lebih sering membaca buku-buku Islami ketimbang majalah fashion yang biasanya tiap hari tak pernah tak ia baca. Aku sangat bersyukur.

Aku berangkat ke masjid kampus sebelum adzan ashar berkumandang, sengaja agar aku dapat ikut sholat berjamaah di masjid sana. Langit sudah agak mendung. Di tengah perjalanan aku melihat seorang wanita berkerudung hijau dibonceng seoarang laki-laki. Ya, walaupun aku melihatnya dari sudut belakang, tapi ia wanita yang tak asing lagi bagiku, ia Sahra. Aku kirim pesan segera kepadanya untuk meyakinkan, berharap perkiraanku tidak benar.

“Ra, kamu lagi dimana? Jadi ke toko kimianya? Jadinya bareng siapa?”.

Tak lama Sahra membalasnya, “Iya, Zil, aku jadi ke toko kimia karena aku sangat membutuhkan larutannya untuk penelitian besok dan waktunya mepet, karena besok Sabtu, tokonya tutup. Aku bareng Dani, Zil, teman kelasku”.

Sahra memang tak pernah berbohong, dia selalu mengatakan apa adanya. Ternyata benar yang ku lihat tadi. Aku sedih, benar-benar sedih. Aku juga kesal dan kecewa. Tapi tidak, aku harusnya marah pada diriku sendiri. Ini bukan mutlak kesalahan Sahra. Ini juga bagian dari kelalaianku sebagai seseorang teman. Sahra sudah berusaha dari tadi pagi untuk mencari tebengan perempuan, tapi kami mungkin memang terlalu egois mementingkan keinginan sendiri dibanding kebutuhan orang lain. Harusnya aku menyingkirkan egoku untuk tetap pergi ke pengajian dan mengantar Sahra ke kota. Rasanya percuma jika ilmuku terus bertambah, jika aku semakin sholihah, tapi tak bisa menjaga temanku yang sedang meniti ke jalan Allah ini. Aku merasa gagal! Aku benar-benar menyesal membiarkan Sahra pergi bersama teman laki-lakinya. Aku balas pesannya dengan penuh rasa bersalah, “Ra, serius kamu? Raaaa, maafkan aku ya, harusnya tadi aku mengiyakan permintaanmu. Maaf ya, Ra, maafkan aku yang belum bisa menjadi teman yang dengan baik menjagamu. Maaf ya, Ra. Aku pastikan ini untuk terakhir kalinya. Aku tak akan mengulangi kesalahan ini”.

***

                Wahai sahabat, jaga temanmu! Jangan sampai kamu menyesal setelah dia pergi meninggalkan jalan dakwah ini. Peganglah erat tangannya, tuntun dia kembali sebelum jauh berbelok. Bisa jadi perubahan negatif yang terjadi pada temanmu itu karena ada campur baur dirimu, walau kadang tak disengaja, walau kadang tak terhubung langsung. Ajak! Jaga! Melangkah bersama! Keep istiqomah sholihah 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s