Bintang Harapan

4(1)3 Januari 2016, Ahad pertama di tahun 2016 ini aku isi dengan aktivitas positif. Rasanya rindu juga setelah hampir satu bulan aku tak menjumpai wajah-wajah polos tanpa dosa itu. Adik-adik yang selalu menanti kedatangan kakak-kakak pengajar. Pernah suatu Ahad aku benar-benar mendzolimi mereka. Aku telat hampir 2 jam. Biasalah Bogor dengan kemacetannya yang sering tak terprediksi. Aku turun dari angkot menuju gang kecil itu dengan perasaan bersalah dan khawatir, ‘Apakah adik-adik akan kecewa akan keterlambatan yang parah ini? Apakah adik-adik akan pergi karena sudah lelah menungguku? Dan apakah-apakah lainnya yang menjabarkan kekhawatiranku’. Bahagia tak terkira saat ku lihat wajah-wajah manis itu tersenyum, menghampiri, dan menciumi tanganku. Adik-adik tetap setia menunggu kedatanganku. Semangat mereka untuk menimba ilmu begitu tinggi. Aku merasa menjadi manusia yang sangat beruntung bisa mengenal malaikat-malaikat kecil ini. Alhamdulillah.

            Hari ini aku datang tak seperti biasanya, aku mengajak rekanku untuk membantu mengajar. Eva namanya. Seorang yang cukup aku kenal dengan baik dalam kurang lebih 4,5 tahun terkahir. Wanita Minang ini banyak memberiku pelajaran hidup. Tentang agama, kuliah, hubungan, sastra, bahkan kreasi dapur ala emak-emak –memasak-. Aku bahagia dan bersyukur karena Allah telah memberiku sahabat, hmm.. tidak-tidak, lebih dari itu, dia seperti saudaraku sendiri. Bahkan mamahku tak pernah absen menanyakan tentangnya setiap aku pulang ke rumah.

IMG_20150628_101502Basmalah, al-fatihah, dan doa memulai belajar kami ucapkan bersama untuk memulai pelajaran hari ini. Kami lanjutkan dengan membaca Al-Qur’an. Masih banyak yang harus aku perbaiki di sini. Pelafalannya, panjang pendeknya, tanda berhentinya, dan pengaturan napas yang masih tak terkendali. Ya, ini tugasku hingga adik-adik mampu dengan baik dan benar membaca kalamullah ini. Lucu melihat mereka menirukan apa yang aku contohkan. Misalnya saat aku mencontohkan bagaimana megucapkan huruf ‘kho’ yang benar. “Kho dik kho, keluar dari tenggorokan bagian atas, kho”, dengan perlahan aku menjelaskan. Mereka sampai terkekeh-kekeh batuk saking semangatnya mengikuti aku. Atau misalnya saat aku menconothkan bagaimana cara mengucapkan huruf ‘sho’. “Sho, lidah hampir menyentuh gigi bawah, bibirnya agak dimonyongkan ya dik, tapi jangan monyong-monyong banget”, instruksiku kepada adik-adik. Aku sampai tak dapat menahan tawa saat melihat wajah mereka menirukanku namun agak berlebihan. Alhamdulillah, aku bahagia, merekalah obat kemumetanku di akhir pekan.

Selesai membaca Al-Qur’an, kami lanjutkan dengan setor hapalan. Bervariasi hapalan yang mereka laporkan. Ada yang nambah satu baris, dua, tiga, setengah halaman, bahkan full satu halaman. Ya, tidak ada paksaan memang dalam setor hapalan ini, tak ada sanksi bagi yang hapalannya kurang ataupun hadiah bagi yang hapalannya banyak. Aku khawatir mereka tak melakukannya dengan ikhlas. Aku hanya memberi tahu mereka bahwa siapa saja yang mampu menghapal Al-Qur’an, maka Allah akan berikan hadiah kepadanya dan kepada kedua orangtuanya di akhirat kelak. Seperti yang disampaikan Nabi saw. dalam HR. Al-Hakim, “Siapa yang membaca Al Qur’an, mempelajarinya, dan mengamalkannya, maka dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari kiamat. Cahayanya seperti cahaya matahari dan kedua orang tuanya dipakaiakan dua jubah (kemuliaan) yang tidak pernah didapatkan di dunia. Keduanya bertanya, “Mengapa kami dipakaikan jubah ini?” Dijawab,”Karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Al Qur’an.” Barangkali inilah salah satu yang menjadi semangat adik-adik dalam menghapal Al-Qur’an. Masyaallah.
DSCF6164Di penghujung, kami isi dengan kreasi yang bukan sekedar kreasi, tapi juga berisi pengharapan dan mimpi. Kami membuat “Bintang Harapan”. Kami berharap mimpi-mimpi kami untuk tahun 2016 yang kami tulis di kertas dan kami lipat menjadi bintang ini, dapat benar-benar bersinar di bumi Allah. Tak sedikit dari adik-adik yang mempunyai mimpi-mimpi yang mulia. “Kak, kalau aku tulis ingin sholat 5 waktu gak bolong-bolong, boleh gak kak?”, celoteh salah satu adik manis di sisi kananku. “Kak, kalau mau hapal juz 30 di tahun ini bisa gak ya, kak?”, ungkap adik manis yang satunya lagi sedikit takut. “Kak, aku mau naik dari ranking 3 jadi ranking 1 pas kenaikan kelas”. Dan masih banyak lagi celotehan-celotehan mereka kepadaku tentang boleh atau tidak hal itu menjadi sebuah mimpi. Masyaallah, aku bahagia saat melihat tulisan-tulisan buah harapan mereka di kertas itu. Betapa besar asa yang Allah simpan dalam hati mereka. Semoga tak ada kata putus asa dan selalu ada jalan untuk mewujudkannya. Aamiin.
bintang harapanKini, bintang-bintang harapan itu tersimpan indah dalam sebuah wadah. Semoga kelak di penghujung tahun sesuai kesepakatan, ketika kami membuka kembali toples itu, susunan kalimat yang tertulis dalam kertas-kertas itu benar-benar telah mereka wujudkan. Dan siap membuat mimpi-mimpi baru lagi di tahun berikutnya. Semangat terus memperbaiki diri, dik! Jadilah inspirasi untuk setiap orang dimanapun kalian berada, seperti nama komunitas ini, “Komunitas Pohon Inspirasi”. Kakak sayang kalian karena Allah, insyaallah 🙂

Bogor, 4 Januari 2016

With love,

Munira Naylatama

Iklan

2 thoughts on “Bintang Harapan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s