Teguran Tuhan

Untitled

Ter, hari ini aku kembali ke perantauan. Sebenarnya aku sudah terlanjur betah di kampung kelahiran yang mungkin jika dibandingkan kemajuannya dengan di sini masih jauh. Tapi, kedamaiannya tak pernah terkalahkan. Kampung ini, bagian dari kota kecil ini, kamu juga tau, Ter. Di sini tempat aku pertama kali melihat dunia, melihat indah senyuman mamah, melihat bahagia bapa akan kehadiranku, melihat birunya langit yang Allah cipta, melihat hijaunya sawah yang menenangkan, di sinilah kisah hidupku dimulai.

Ter, aku merasa banyak sekali hal tidak baik yang aku alami hari ini sepanjang perjalanan. Mari, dengar ceritaku, Ter!

Aku memang sengaja naik angkot jurusan Cipanas. Tidak seperti biasanya yang langsung naik mobil Bogoran atau bus dari Asten atau Jebrod. Aku punya niat ingin membeli titipan teman sekosan, ubi Cilembu. Ternyata, Ter, aku masih harus naik angkot jurusan Puncak. Ini pertama kali aku melakukan perjalanan dengan gonta-ganti angkutan. Aku bingung, Ter. Akhirnya aku sok tau. Di angkot kuning jurusan Puncak ini hanya ada aku seorang. Aku merasa kasian juga sih melihat bapak sopir yang hanya membawa satu penumpang. Maka, saat ditanya, “Teh, turunnya dimana?”. Sambil agak gelagapan aku spontan menjawab, “emm.. di sana, Pak, di belokan mau ke Cibodas”. Aku bicara dalam hati, mati gue! Gimana ini, ada gak ya yang jual ubi di sekitaran sana. Dengan peuh harap aku berdoa, semoga ada Yaa Allah. Ter, tau gak? Ternyata gak ada, huhuhuhu :,( Sempat terpikir, apa aku sambung lagi ya dengan naik angkot? Tapi, saat aku hitung pengeluaran ongkos sampai sini, aku urungkan niat itu. Bisa gak makan seharian aku, Ter! Aku putuskan untuk berjalan kaki sambil tak putus harap semoga sepuluh langkah lagi ada penjual ubi. Sepuluh langkah pertama sudah berlalu tanpa jawaban akan harapan. Aku tak putus asa, mungkin Allah ingin aku berusaha lebih. Aku berharap kembali semoga di sepuluh langkah yang kedua aku temui penjual yang di cari. Hasilnya nihil, Ter. Sampai pada langkah berpuluh-puluh, dari kejauhan, di jalan agak menurun, aku melihat warung-warung kecil berjejer, senyum pun mulai mengembang. Alhamdulillah, yang dicari muncul juga.

Aku membeli ubi di warung kedua. Entah kenapa ia memberi pesona lebih terhadap penafsiranku. Mungkin tidak seperti warung lainnya, yang ia jual hanya ubi, tak ada campuran buah pisang, alpukat, atau sayuran-sayuran. Ibu penjualnya ramah, aku suka, Ter. Manis, semanis ubi Cilembu yang ia jual, hehe.

Rasanya ingin nyebrang dan kembali ke gubuk kecilku, Ter. Tapi, tak mungkin. Aku harus segera menyelesaikan tugas yang semakin hari semakin menumpuk. Aku tak boleh lari dari kenyataan hidup ini. Aku selalu ingat, Ter, katamu masalah itu dihadapi dan diselesaikan, bukan ditinggalkan. Aku merasa tugas-tugas itu adalah masalah bagiku, maka aku harus menghadapi dan menyelesaikannya, bukan? Baiklah, Ter, terimakasih untuk nasihatnya.

Aku naik bus dari sini (Puncak). Aku harus berdiri, tak ada kursi tersisa. Aku kadang heran, Ter, orang-orang di kanan dan kiri, depan dan belakangku kebanyakan laki-laki, pemuda. Gak ada apa rasa tenggang rasa dari mereka. Aku ini perempuan loh, barang bawaanku juga lumayan. Tau sendiri lah ya, Ter, kalau kemana-mana aku suka rempong dengan barang-barang yang harus aku bawa. Tapi, tak ada yang mau manawariku duduk barang sebentar. Alhasil, aku berdiri. Jalan berkelok-kelok menyulitkanku menyeimbangkan posisi berdiri. Tubuhku terbawa seretan bus ke kanan dan ke kiri, belum lagi kalau harus ngerem mendadak, kamu bisa bayangkan, Ter, serempong apa diriku.

Kaca spion sopir sepertinya memberi isyarat pada hati nurani bapak sopir. Pak sopir memanggilku dan mempersilakan duduk di kursi paling depan, kursi kondektur, berbagi dengan seorang yang memang sejak awal sudah ada di sana. Alhamdulillah, aku bersyukur meski hanya sedikit space setidaknya kakiku gak gemetar saking lelahnya berdiri.

Sampailah aku di Ciawi. Masih harus naik tiga angkutan lagi, Ter, agar aku sampai di kampus impianku (dulu). Aku naik angkot 01 agar sampai di Baranangsiang. Tiba-tiba aku merasa cacing-cacing dalam perut mulai memainkan konsernya. Baper, Ter, bawaan perut. Ternyata memang sudah saatnya aku makan siang. Apa daya aku mengejar waktu agar sempat untuk mengajar di TPA. Sabar ya lambung, aku isi dengan ubi dulu.

Berhubung sudah hampir jam 2 siang, aku mampir dulu ke Masjid Raya. Innalillahi, Ter, aku terjatuh dari tangga saat menuju ke tempat wudhu. Kaki kananku terkilir. Aku khawatir akan bengkak seperti dan susah berjalan seperti bulan Mei tahun lalu saat aku terjatuh di tangga perpustakaan kampus. Kaki yang sama, kaki kanan, membuatku sulit berjalan sekitar dua bulan lamanya. Ter, apa ini peringatan dari Allah atas kelakuan jailku tadi pagi ya? Tadi pagi aku ngejailin adik dengan kaki kanan ini. Aku banyak-banyak istighfar dan berdoa semoga kaki ini tak mengalami cidera yang parah.

Aku tertahan hujan lebat. Tak heran memang, namanya juga kota hujan. Payung selalu di bawa kemana pun pergi. Namun, tetap aku urungkan untuk pergi, sebab aku tau, payung saja tak akan efektif menahan cipratan hujan ke barang-barang yang aku bawa. Hingga ashar pun tiba, aku sholat dulu di masjid yang sama. Alhamdulillah, hujan reda seusai salam sholat ashar. Ter, aku bingung harus naik angkot apa pesan gojek saja, aku bingung apa harus ke kosan dulu untuk menyimpan barang-barang rempong ini atau langsung saja ke TPA. Jam memberiku inspirasi, rasanya aku harus langsung ke TPA dengan menggunakan gojek. Kalau tidak, aku kemungkinan telat dan tak sempat mengajar adik-adik kesayangan.

Aku masih harus naik angkot untuk benar-benar sampai di depan gang TPA yang aku tuju. Naiklah angkot 15 seperti biasanya. Aku heran loh loh loh kenapa malah belok ke kanan? Ter, boleh gak aku kesal? Harusnya kan sopirnya bilang dulu kalau dia gak akan belok kiri. Aku diturunkan lah di pertigaan, mana aku tetap harus bayar ongkos lagi, kan kezal, Ter, udah mah telat lagi. Tapi aku mikir, Ter, kayaknya ini teguran dari Allah lagi. Tadi ada pengemis dan aku gak ngasih mereka. Mungkin ini cara Allah menegurku agar tak sulit memberi. Mungkin Allah ingin membersihkan secuil harta yang aku miliki ini.

Lagi dan lagi aku banyak-banyak istighfar. Sepertinya memang Allah sayang banget sama aku, Ter (GeEr). Di satu sisi aku seneng, Ter. Allah langsung menegur ku atas kesalahan-kesalahan yang aku lakukan. Bukankah dulu juga Rasulullah langsung Allah tegur saat bermuka masam terhadap seorang buta, Abdullah bin Ummi Maktum? Masyaallah, betapa besar cinta Allah. Ter, aku harus lebih hati-hati dalam bertindak.

 

Bogor, 24 Februari 2016

Munira Naylatama

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s