Dia Hanya Singgah, Bukan Menetap

IMG_3172

Ter.. pernah gak kamu mempunyai sahabat-sahabat yang hebat yang selalu ada bersamamu, lalu tiba-tiba perlahan mereka mulai menjauh, meninggalkanmu?
Ter.. pernah gak kamu merasa benar-benar sendiri padahal banyak orang silih berganti berlalu-lalang di depanmu?
Ter.. pernah gak kamu berjalan sendirian tiba-tiba air matamu mengalir sederas hujan yang mengguyur naungan payungmu?
Ter.. benar adanya bahwa rasanya ditinggalkan itu sangat sakit tak terkira. Bahkan di saat ramai pun kamu bisa merasa hampa. Kini aku mengerti, mengapa saat mamah sakit, bapa begitu sedihnya. Saat itu, Ter, kali pertamanya aku melihat bapa menangis sesenggukan sambil mengendarai motor –memboncengku- menuju ke rumah sakit. Mamah terbaring sakit tak berdaya, sekali pun untuk bicara. Seperti seorang yang pingsan, namun tetap sadarkan diri.
Betapa besar cinta bapa untuk mamah. Saat ku coba menghibur agar bapa tidak menangis, bapa bilang bahwa bapa hanya takut kehilangan mamah, walau memang bapa sadar semua yang ada di dunia ini milik Allah, semua yang hidup akan mati, seperti firman Allah Swt. dalam Al-Qur’an surat Ali-‘Imran ayat 185 kullu nafsiin dzaaa iqotulmauut bahwa “setiap yang bernyawa akan merasakan mati”. Hanya saja hati bapa terlalu lemah, tak sanggup untuk ditinggalkan.
Ter, aku membuktikannya. Betapa sakit diri yang ditinggal pergi. Dulu, kami masuk bareng-bareng, mengikuti MPKMB bersama-sama sampai GWW yang gagah pun goyah akibat kompaknya teriakan yel-yel kami. Dulu, kami pernah merasakan satu asrama, dibina bersama, ditempa diri dengan segala agenda-agenda luar biasa. Dulu, kami bahkan sempat makan satu wadah berbarengan, berteriak histeris saat mati lampu yang mendadak padahal besok ada ujian, menjahili teman yang sedang ulang tahun di pertengahan malam, bahkan berbuat nakal bareng-bareng sampai membuat kakak senior resident jengkel dan mendapat hukuman. Itulah kekonyolan yang tak akan terlupakan. Lebih dari itu, banyak sekali kisah yang tertoreh di bait hidup itu bersama mereka, sahabat. Sayangnya kenangan itu begitu lekat mengisi ruang memori yang mengakibatkanku kini harus berjuang mati-matian menelan kesendirian. Mereka perlahan, satu per satu mulai pergi, ada yang kembali ke kampung halaman ataupun menjelajah tempat baru dengan orang baru dan kisah baru.
Ter, apa kehidupan selalu begini? Jika ada pertemuan, maka mutlak ada perpisahan, begitu Ter? Ter, bukankah tak ada kejadian yang kebetulan di dunia ini? Bukankah Allah telah mengatur sedemikian rupa nasib hidup kita? Ada orang-orang yang sengaja ditakdirkan singgah di kehidupan kita, tapi tidak untuk menetap. Bantu aku, Ter, agar tetap kuat menjalani hidup ini, please jangan pernah tinggalkan aku! Karena seperti halnya bapa, aku pun tak akan sanggup ditinggalkan, hatiku terlalu payah untuk itu.

Bogor, 29 Februari 2016
Ditulis dengan linangan air mata -rindu-
Munira Naylatama

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s