Tiada Amanah yang Salah Berpundak

1433143359224

Ter, kamu tau kan setiap Selasa-Kamis sore aku menyisihkan waktu untuk mengajar ngaji adik-adik di TPA? Begitu pun dengan hari ini. Tak seperti biasanya aku berangkat sendiri. Partnerku sedang mencicipi kasih Allah lewat sakit yang ia alami. Aku pun berangkat menggunakan angkot, muter lewat Bubulak. Cukup melelahkan dan membuang waktu memang. Tapi, tak ada cara lain. Aku harus bersabar menghadapi kemacetan kota sejuta angkot ini dan merelakan usia ku berguguran begitu saja di sepanjang perjalanan. Sebenarnya, Ter, ini yang membuatku tidak di betah di tempat ini, kemacetan yang tiada ampun.
Mari kita skip bicara soal kemacetan yang tak kunjung usai. Kita mulai menceritakan apa yang aku ingin ceritakan di hari ini. Kamu siap menjadi pendengar ku seperti biasa kan, Ter? Aku tau jawabannya, YA.
Berhubung Dina, partner ngajarku yang tak dapat hadir, aku pun mengambil alih tugasnya di samping tugasku. Selain mengajar adik-adik yang agak besar (sekitar SD kelas 3-6), kini aku mengajar adik-adik imut usia sekitaran TK dan SD kelas 1-2. Tidak lebih rumit ternyata. Padahal di bayanganku adik-adik mungil ini akan lebih sulit untuk dikondisikan.
Tibalah pada si lucu berkerudung pink yang begitu bersemangat. Aku mulai menuntunnya dengan mengawali ta’awudz dan basmallah. Aku arahkan ia agar menyebutkan hurup yang aku tunjuk. Nampak terbata-bata bahkan lebih banyak macet karena belum begitu mengenal huruf. Maka, aku tawarkan adik itu untuk mengulang ke iqro sebelumnya. Awalnya ia menolak karena mungkin ingin balapan dengan teman-temannya. Namun, aku terus membujuknya. Sebab, aku pikir jika terus dibiarkan, khawatir ketika selesai iqro dan berpindah ke Al-Qur’an adik ini tetap tak dapat membaca dengan lancar. Alhamdulillah, akhirnya ia mau.
Sederhana memang, Ter, yang ingin aku bagi denganmu hari ini. Ceritaku tentang di kecil tadi. Aku jadi mikir, Ter. Sebenarnya tidak ada yang tidak bisa kita lakukan selama kita mau berjuang. Mungkin saat ini belum saatnya. Itu tandanya Allah ingin melihat perjuangan kita untuk menggapai keinginan tersebut. Tak apa jika harus berhenti sesaat, atau bahkan mundur dulu selangkah ke belakang, jika memang hal itu yang akan melejitkan langkah kita ke depannya. Bukan begitu, Ter?
Mulai sekarang aku tak akan pernah berputus asa dalam menggapai apa yang aku inginkan, apa yang aku harapkan, apa yang aku cita-citakan. Benar memang, ada titik di mana kita jenuh, lelah, capek, seakan tak mampu lagi melanjutkan langkah menuju apa yang ingin kita capai. Tapi, barangkali kita hanya perlu melangkah satu langkah lagi saja untuk mendapat apa yang kita usahakan itu. Jadi, Ter, aku tak akan pernah menyerah! Aku pasti mampu. Aku semakin yakin saat membaca ayat Al-Qur’an: laa yukallifullahu nafsan illaa wus’ahaa, yang artinya: “Allah tidak membebani seseorang melainkan dengan kesanggupannya” (Q.S. Al-Baqarah: 286).
Tetap semangat, Ter! Tidak ada amanah yang salah berpundak. Tidak ada ujian yang salah bertuan. Tidak ada beban yang salah bertangan. Allah yang memberi setiap kejadian dalam hidup kita, berarti Allah percaya kita mampu melewatinya. Jika Allah saja percaya kepada kita, apa kita patut untuk tidak percaya pada diri kita sendiri?

Bogor, 24 Februari 2016
Munira Naylatama

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s