Bertransaksi dengan Tuhan

 

346090.TIF
346090.TIF

Hamas Abdullah, nama terbaik pemberian ummi dan abi untukku, yang kini lebih akrab dengan panggilan Hamas. Aku adalah seorang pemuda yang sedang menempuh pendidikan jurusan arsitek di salah satu kampus terbaik di kota kembang. Selain melakoni statusku sebagai mahasiswa tingkat akhir, aku menyibukkan diri dengan agenda luar kampus, karena organisasi dalam kampus sudah bukan masa ku lagi, ada generasi-generasi baru yang harus mencicipi nikmatnya berjuang di ranah mahasiswa. Setiap Senin-Jumat aku sedekahkan waktu dan sedikit ilmu yang ku miliki untuk mengajar adik-adik di TPA Al-Ikhlas. TPA sederhana yang memanfaatkan bangunan sekolah TK, tepat di belakang kampusku. Sabtunya aku yang mengisi jiwa dan pikiran ini dengan ilmu agama, jadwalku untuk halaqoh. Sementara, Minggu aku abdikan kembali diri ini di salah satu komunitas bentukan salah seorang alumni jurusan, belajar sambil bermain bersama adik-adik yang nasibnya tidak seberuntung kita yang jika ingin ini itu tinggal minta ke orang tua. Mereka adik-adik yang sejak kecil harus ikhlas berpisah dengan ayahnya atau ibunya atau keduanya, karena telah terlebih dahulu dipanggil oleh Allah. Sibuk memang dan menyita banyak waktu, tapi aku selalu terngiang pesan guru ngajiku saat SMA dulu, jika tidak menyibukkan diri dengan kebaikan, maka diri akan disibukkan dengan keburukan.

Pekan ini adalah pekan terkahir aku mengikuti Ujian Akhir Semester di bangku kuliah. Ini adalah UAS yang ke-7 untukku dan teman seangkatan. Seperti halnya yang lain, aku pun tak ingin UAS terakhir sepanjang usia ini memberi hasil yang buruk. Maka, aku bertekad untuk benar-benar fokus mempersiapkan dan menjalaninya. Aku terpaksa izin untuk off sementara dari segala rutinitas. Besok, Jumat, adalah hari yang paling menakutkan bagi seantero anak jurusan arsitek, sebab besok jadwal ujian mata kuliah yang mematikan. Tak dapat dipungkiri, aku pun merasa berat menghadapinya. Tapi, mau tak mau aku tetap harus melewati ujian itu. Persiapan yang matang adalah kunci kesuksesan menghadapinya. Sedari siang, ba’da ujian desain arsitektur 5, aku mulai membuka kembali catatan dan modul untuk besok. Belum sempat satu bab aku review, HP berdering, ternyata Ilyas, sahabatku.

“Hallo, assalamu’alaikum, Yas?”

“Wa’alaikumusalam warohmatullah, Hamas. Bro, please bantuan ane! Ane kejebak banjir di kosan. Ini lagi riweuh ngurusin barang-barang biar gak ikut hanyut.”

“Innalillahi… Ane sekarang ke kosan ente ya. Tunggu!”

“Eh.. enggak enggak, Bro, jangan! Maksud ane, ane mau minta tolong ke ente buat gantiin ane isi taklim adik-adik karang taruna. Taklim bulanan yang di masjid Ar-Rahman di Jl. Jakarta itu, dekat kantor ACT yang lama. Ente masih inget kan?”

“Oh iya iya ane inget kok. Ba’da maghrib kan, Yas? Ane ke kosan ente dulu atuh ya?”

“Udah jangan! Mending langsung aj ente cabut ke sana, ntar telat lagi. Ane bisa atasi kok, rame-rame ini dibantuin warga sekitar juga.”

“Oh, syukurlah kalau gitu, yaudah ane siap-siap dulu. Materinya tentang apa, Yas?”

“Materi yang dibahas di halaqoh kita di pekan kemarin, Mas.”

“Oke, Yas!”

“Alhamdulillah, nuhun ya, Mas, ente ngebantu banget. Hati-hati di jalan! Assalamu’alaikum.”

“Iya sami-sami, Yas. Wa’alaikumusalam warohmatullah.”

Tanpa pikir panjang aku segera bersiap menuju tempat tersebut. Segala catatan dan modul terpaksa harus ku diamkan dulu. Insyaallah, masih ada nanti malam untuk aku mereview kembali.

Senang rasanya bisa melihat wajah-wajah penuh semangat. Senyum sumringah dari jajaka-jajaka Kota Bandung calon pemimpin bangsa 20 tahun mendatang, insyaallah. Mereka adalah pemuda-pemuda pilihan yang Allah gerakan jiwa dan raganya untuk tetap istiqomah mengikuti halaqoh, mengkaji ilmu-ilmu Allah, mempelajari serta peduli terhadap isu-isu ummat terkini, saling nasihat menasihati dalam kebenaran, dan saling mencintai atas dasar ukhuwah. Sementara, banyak godaan di luar sana, bioskop yang megah dengan keseruan film-filmnya, konser-konser musik yang ramai dan meriah, trek-trek jalanan dengan motor-motor gagahnya, namun mereka tetap memilih di sini, mereka pautkan hatinya di masjid sederhana ini. Hobi dan kecintaan mereka terlanjur terurai deras di dalam rumah Allah diiringi merdu irama-irama lantunan kalamullah.

Sebenarnya betah untuk belama-lama di majelis ini. Namun, tiba-tiba logika mengatakan bahwa esok menanti untuk dipersiapkan. Tepat jam 9 malam ku gas kembali motor menuju kosan. Hujan cukup deras menjadi tantangan perjalanan. Sekitar 45 menit aku sampai kembali di hadapan buku-buku menumpuk yang memanggil-manggil untuk dibaca.

Selepas mencopot jas hujan, belum sempat duduk manis membuka buku, tiba-tiba BRUG! Suara keras mengejutkan, bahkan ikan-ikan di akuarium kecilku pun tebangun kaget dari tidur lelapnya dalam air. Segera aku cek ke luar. Innalillahi. Pohon besar samping mushola tumbang dan menimpa tempat ibadah satu-satunya di RT ini. Biarlah, aku pikir, nanti juga ada yang mengurusnya. Namun, sedetik kemudian, hati kecilku bicara, akankah aku menutup mata terhadap permasalahan yang sebenarnya bisa aku campuri untuk penyelesaiannya? Maka, kembali aku tinggalkan buku-buku itu dan pergi ke luar ikut bergotong royong bersama warga sekitar.

Tak terduga, jam 2 dini hari baru selesai. Nanggung jika harus tidur, nanti malah bablas. Akhirnya, sembari menanti subuh aku buka-buka kembali buku, mencoba mengingat dan memahami. Adzan subuh berkumandang tepat setelah bab 2 aku review, masih ada 4 bab yang sepertinya tidak akan sepat aku ulas kembali. Baiklah aku pasrah.

Tiba di kampus jam 07.45, ada waktu 45 menit lagi menuju pertempuran sengit bernama UAS terakhir. Tergoda untuk membuka kembali modul, mengulas bab yang belum terjamah. Namun, hati kecil berusul, sudah tak akan efektif dengan waktu yang sangat singkat ini, lebih baik ke mushola dan memohon pertolongan Allah. Kali ini lagi-lagi aku manut terhadap hati kecilku. Maka, ku langkahkan kaki menuju mushola fakultas yang tak jauh dari ruang ujian. Ku tunaikan sholat dhuha dan bermunajat benar-benar memohon pertolongan Allah, seperti seorang yang sedang terombang-ambing di tengah lautan lepas, tak ada apapun yang dapat menyelamatkan selain kasih sayang Allah.

Jam 08.15 pengawas sudah menginstruksikan kami untuk masuk kelas. Bismillah, ku masuki ruangan dengan segenap kepasrahan. Ujian pun dimulai. Ku baca sekilas semua soal, rasanya aku hanya dapat mnegerjakan 5 nomor pertama dari 30 nomor soal yang diberikan. Sampai di nomor 6 aku berpikir keras. Mencoba memasukkan rumus ini itu namun tetap tak kunjung cocok dengan pilihan jawaban yang tertera. Hingga akhirnya kantuk pun menyeruak membawaku dalam ketertundukkan, tidur.

“Waktu kalian 5 menit lagi. Periksa kembali semua jawaban!”, suara kakak pengawas membangunkanku dari lelapnya tidur. Aku kaget! Lalu, ku buka kembali lembaran-lembaran soal yang ku tinggal tidur tadi. Ajaib! Masyaallah, aku benar-benar dibuat lebih kaget lagi. Semua lembar jawaban telah terisi. Termenung sesaat dengan mata terbelalak.

“Baik, waktunya sudah habis. Silakan kumpulkan lembar jawaban dan soal di meja depan! Tidak ada yang mengerjakan lagi!”

Di luar ruangan, aku bertanya pada Shasha, orang yang duduk di bangku samping ku ketika ujian tadi. “Sha, tadi ada yang bantu mengerjakan kertas ujianku ya?”, tanyaku dengan wajah masih bertanya-tanya. “Lah, kamu ini kenapa, Mas, tadi kan kamu sendiri yang ngerjain itu soal. Lagian mana ada yang berani bantuin, pengawasnya galak gitu.”

                Masyaallah, Allahu akbar..

                Ternyata selama aku tidur, Allah menuntun tanganku untuk menulis jawaban. Sekarang aku paham apa maksud Allah dalam surat Muhammad ayat 7: “Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.”

                Alhamdulillah. Nilaiku di semester ini sempurna, IP 4 sesuai harapan Allah berikan.

 

Bogor, 11 Maret 2016

Munira Naylatama

Terinspirasi dari kisah nyata anak UI

yang diceritakan oleh murabbiyah

di pertemuan terakhir liqo

-dengan banyak perubahan-

 

(Sumber gambar: google)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s