Angin dan Kamu

Gambar_Angin dan Kamu

Aku berjalan seorang diri pada pagi menjelang siang di suatu daerah yang dinanamakan ‘kota’. Tak seperti yang orang-orang katakan bahwa kota selalu terasa panas. Aneh, kini ku rasa sejuk menyelubungi diri.

Lihatlah! Dedaunan menguning jatuh mengiringi tapak kaki. Tengoklah! Burung-burung beterbangan bebas dengan sayap mengepak saling melintas di antara gundukan pohon di sisi kananku.

Aku sedang berjalan di pinggiran kampus hijau ini, memaknai setiap langkah bahwa ia adalah kuasa Tuhan. Sama seperti kisah ku dengan mu yang juga kuasa-Nya. Maka, ketika skenario-Nya tak sejalan dengan inginku, aku hanya bisa tersenyum, ikhlas. Barangkali Tuhan punya rencana lebih indah untuk ku dan kamu.

Angin semilir menyentuh lembut wajahku. Sejenak ku redupkan penglihatan. Mengembangkan tangan layak sayap-sayap burung yang beterbangan. Menghirup perlahan wangi dedaunan. Tak peduli anggapan orang yang melihat di pinggiran jalan. Kini aku terbuai dalam duniaku sendiri. Inilah caraku merasakan kenikmatan bisikan angin. Suatu yang tak nampak yang mampu mengirim hal magic yang kunamai kedamaian.

Sepertimu, kau kini tak nampak lagi di hadapanku, tapi percayalah, merasakanmu dalam dekapan jiwa merupakan sebuah kedamaian tersendiri untukku. Mungkin ini yang orang bilang “cinta kadang tak masuk akal”. Kini aku nampaknya ada pada level ‘ketidakmasukakalan’ itu. Sebab, aku tetap menyimpan harap tentang mu, bahkan di saat aku tak tahu apa yang kau rasa tentangku. Aku tak peduli! Yang ku tahu, Tuhan akan sesuai dengan prasangka hamba-Nya. Sehingga, aku selalu berprasangka baik akan dirimu.

Aku tak pernah melupakan sapaan angin. Bahkan jika ia menyibak jilbabku, atau memporandakan lembaran-lembaran buku yang sedang ku baca, atau menerbangkan tumpukan kertas tugas yang sedang ku kerjakan. Aku tak akan marah padanya. Sebab, di sana ada kenangan tentangmu yang sulit aku hilangkan, dan nyaris tak pernah terhapus, meski mungkin tak sekuat ini di memori mu.

Ingatkah? Perjumpaan pertama kita dulu? Saat itu aku sedang sibuk sendiri di suatu taman di kampus. Deadline tugas mengharuskanku kerja rodi bahkan tak sempat makan siang dan terpaksa duduk di bangku dekat tanaman mawar yang sedang merekah. Di sana aku bukan menikmati keindahan bunganya, aku pun tak sedang menunggu seseorang menjumpaiku. Tugas-tugas itulah yang menahanku dengan setumpuk lembaran-lembaran jurnal penuh coretan.

Kala itu musim penghujan mulai masuk bulannya. Seperti biasa, sorot matahari tak lagi sepanas musim kemarau. Langit sendu. Dan angin datang silih berganti, seperti pertanda hujan akan datang ke sini. Kamu ingat? Tak terduga angin yang cukup kencang menerbangkan tumpukan lembar-lembar tugasku yang hampir rampung. Sontak aku panik dan kesal karena jadi berantakan. Tak ada yang mau menolongku. Orang-orang sibuk lalu-lalang mengerjakan urusannya. Dan kamu, kamu yang saat itu –aku masih ingat– memakai kaos kerah biru dongker berpadu celana jeans, menghampiriku dengan setumpuk kertas tugasku yang tersusun rapi, meski memang secara urutan halaman belum sesuai.

Tatapan itu, tatapan pertama yang membuatku tenggelam di dalamnya, dan senyuman itu, ukiran indah sebuah bibir yang tak tergantikan. Barangkali saat itu alam bawah sadarku sudah masuk dalam jiwamu. Namun, alam sadarku menanggapinya dengan biasa. Aku mengambil tumpukan yang kamu sodorkan dan mengucapkan terima kasih. Hanya itu. Kamu pun berlalu melanjutkan perjalanan ke tempat yang akan kamu tuju. Tanpa sebelumnya kita sempat menanyakan nama masing-masing.

Aku tersadar dari lamunan saat sebuah batu menjahiliku dengan sandungan. Lututku berdarah. Beginilah resikonya berjalan dengan menutup mata. Sakit memang bekas sandungannya, namun aku malah tertawa. Menertawakan kelakuanku yang tersihir oleh kenangan tentangmu.

 

Bogor, 13 Juni 2016

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s