Buku dan Kamu

buku dan kamu

Sumber gambar: google

Tanggal 1 Agustus. Seperti biasa, aku mengunjungi mereka, tumpukan buku yang berjejer rapi di rak-rak berdasarkan genrenya. Sudah menjadi kebiasaan setiap sebulan sekali aku harus membeli buku. Kata ayah, jangan pernah melewatkan satu hari pun tanpa membaca, bacalah meski hanya dari serobek koran yang kamu temukan di jalan! Maka, ini seperti sebuah doktrin dalam alam bawah sadarku. Barangkali bisa dikatakan membaca bukan sekedar hobi tapi kewajiban.

Sudah banyak buku yang aku habiskan. Berbagai genre ku lahap, romance, fantasy, drama, atau yang berbau agamis macam novel Kang Abik, pokoknya all about fiction book. Terkadang buku-buku motivasi, biografi, dan genre random lainnya. Beberapa dari mereka aku baca ulang. Terutama buku dengan tingkat kesusastraan yang tinggi.

As usual, aku harus antri dengan rapi di depan kasir. Aku agak tidak nyaman, seperti ada yang memperhatikanku dari tadi. Oh my God, orang itu mendekatiku, aku mulai curiga, ku pindahkan tas ranselku ke depan. Kata mama waspada itu harus. Waspada loh ya bukan su’udzon. Beda tipis sih sebenarnya.

“Hai, kamu yang waktu itu di taman kan?”

Oh Tuhan aku baru ingat dia orang yang menolongku saat itu, saat angin memporak-porandakan lembaran jurnal-jurnalku. “Ah iya, hai!”.

“Hey, buku yang kita ambil sama!”. Dia melihat ke tanganku.

Seketika aku melihat buku yang dia tunjukan. “Eh iya, hehe..”

Akhirnya dia mengantri di belakangku. Syukurlah, setidaknya aku tidak terlalu bosan karena ada teman ngobrol.

“Pulangnya ke arah mana?”, di pintu keluar toko itu dia bertanya dengan senyuman yang sangat manis.

“Oh, ke sana”, aku menjawab dengan menunjukan tangan ke arah yang ku maksud.

“Mau bareng?”

“Ah, apa? Eng.. enggak, enggak usah. Silakan duluan saja. Mmm.. aku ada yang harus dibeli dulu di toko sebrang sana.”

“Sungguh? Sudah pukul 20.18 loh. Atau aku antar kamu dulu ke toko itu?”.

“Eh, enggak, enggak usah. Aku biasa pulang jam segini kok. Tidak apa-apa, sungguh. Kamu duluan saja.” Ya Tuhan kok aku jadi gugup gini sih.

“Hmm.. baiklah. Hati-hati ya!”

“Iya, terima kasih. Kamu juga hati-hati!”

Dia pun menyalakan mesin motornya dan bersiap pergi.

“Eh iya, namaku Tian. Kamu?”

“Panggil saja Rumi.”

”Okay Rumi. Aku pergi, hati-hati! Bye!”

Itulah saat pertama kali kita berkenalan. Kesempatan kedua yang telah Tuhan berikan untuk bertemu. Sejak saat itu entah bagaimana ceritanya kita jadi sering bertemu. Obrolan kita tak jauh dari buku yang kita baca. Terkadang kita saling meminjam buku. Berdiskusi tentang pandangan terhadap tokoh dalam novel yang sama-sama kita baca. Tak jarang kita bersilat lidah karena beberapa pandangan yang tak sejalan. Kamu tau? Aku mulai merasa nyaman bersamamu, Tian.

“Mbak, silakan!”. Aku tersadar saat kasir di depan mempersilakan ku untuk menunjukan buku yang akan ku beli. Lagi-lagi aku melamunkanmu. Ternyata aku masih belum bisa membiasakan diri tanpamu.

Bogor, 1 Agustus 2016

Iklan

5 thoughts on “Buku dan Kamu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s