Dia Hanya Singgah, Bukan Menetap

IMG_3172

Ter.. pernah gak kamu mempunyai sahabat-sahabat yang hebat yang selalu ada bersamamu, lalu tiba-tiba perlahan mereka mulai menjauh, meninggalkanmu?
Ter.. pernah gak kamu merasa benar-benar sendiri padahal banyak orang silih berganti berlalu-lalang di depanmu?
Ter.. pernah gak kamu berjalan sendirian tiba-tiba air matamu mengalir sederas hujan yang mengguyur naungan payungmu?
Ter.. benar adanya bahwa Continue reading “Dia Hanya Singgah, Bukan Menetap”

Bintang Harapan

4(1)3 Januari 2016, Ahad pertama di tahun 2016 ini aku isi dengan aktivitas positif. Rasanya rindu juga setelah hampir satu bulan aku tak menjumpai wajah-wajah polos tanpa dosa itu. Adik-adik yang selalu menanti kedatangan kakak-kakak pengajar. Pernah suatu Ahad aku benar-benar mendzolimi mereka. Aku telat hampir 2 jam. Biasalah Bogor dengan kemacetannya yang sering tak terprediksi. Aku turun dari angkot menuju gang kecil itu dengan perasaan bersalah dan khawatir, ‘Apakah Continue reading “Bintang Harapan”

Tingkatan Cinta

Tingkatan Cinta

Hati-hati dengan hati jangan sampai sakit hati. Begitulah steatment dari salah seorang teman. Hati, sensitif sekali memang benda yang satu ini. Mudah tersentuh, mudah tersakiti jika tak pandai menahan, mudah termasuki serpihan hati lain jika tak mampu menjaga kesucian. Apalagi wanita, harus pintar dan jeli menjaga hati. Jangan sampai ‘ia’ terisi oleh potongan hati yang belum pasti. Continue reading “Tingkatan Cinta”

#hampa

Tak mengerti dengan rasa ini

Tak biasa ia begini

Menangis lirih tanpa air mata

Tersenyum palsu dihiasi tangisan

Apa yg sebenarnya terjadi?

Jangan tanyakan pada ku!

Aku pun tak tau

Mungkinkah aku takut jika harus sendiri?

Bukankah keheningan yang aku cari?

Lantas, mengapa sekarang harus berlari dari sepi?

Jiwa menghilang entah lari kemana

Raga menanti dg kekosongan

Menjerit, memanggil kembali yang tak tau apa yang harus kembali

Dada bergemuruh riuh meratapi

Ada sesal yg tak dapat terdefinisi

Ada takut akan kematian yg pasti datang menghampiri

Entah kapan itu terjadi

Mayat hidup merasuki, berjalan tanpa arah tujuan pasti

Hanya ingin pergi, berlari, menjauhi semua

Namun ku tak tau harus kemana

Bahkan kehampaan semakin mendekat menapaki jalanku tadi

Mengapa ketakutan semakin menyelimuti?

Mengerdilkan diri!

Pergi! Pergi kau sepi!

Biarkan aku menari bersama lamunan diri

Terkubur dan tak kembali

Bogor, 20.03.15

Assalamualaikum Beijing kode pertemuan kita

AB

“Besok insyaallah mau ke Bogor”.

Singkat, namun mengirim berjuta harap. Itulah sebait kalimat yang sahabatku kirim via whatsapp. Vina, sesosok yang kurindu. Sahabatku sejak jaman seragam merah putih. Orang yang melankolis akut menurutku. Semua kenangan tentang aku dan kami masih dia ingat. Padahal terkadang aku sendiri tak ingat tentang aku bagaimana di masa lalu. Tapi, kerennya dia mengingat bahkan sampai hal terkecil. Seperti patung-patungan hello kitty yang ada di kamarnya. Saat aku tanya, “Nha (panggilan sayangku untuknya) itu patung-patungan beli dari mana?” Dia berdecak sambil setengah mentertawakanku, “Itu kan dari kamu, Nay (panggilan akrabnya untukku)”. Semakin aku mengingat tentangnya, semakin tak sabar untuk bertemu. Rasanya ingin segera esok datang menghampiri. (Izinkan aku untuk tetap hidup di esok hari Yaa Allah dan bertemu dengannya). Continue reading “Assalamualaikum Beijing kode pertemuan kita”