Ijinkan Hatiku Menjadi Bagian Hidupmu

            Seminggu lalu Kirei mengenang perjuangannya melawan serangan virus yang semakin menggerogoti hatinya. Lumayan membaik memang, tapi tak bertahan lama. Hanya setia dengan harapan ada malaikat berwujud manusia yang rela mengorbankan organ hati untuknya. Tapi, itu mustahil sepertinya. Namun, ia yakin tak ada yang tak mungkin bagi ALLAH “kun fa yakun”.

            “Bunda, maafkan Rei ya, sekarang bunda harus lebih direpotkan karena mengantar dan menjemput Rei”.

Bunda dengan berjuta kekuataan menyembunyikan air mata yang bila boleh sudah membanjiri pipi keriputnya sedari tadi. Ibu mana yang tidak tergerus hatinya melihat anak sematawayangnya yang dulu ceria berlari ke sana ke mari kini hanya bisa terduduk pada sebuah kursi beroda dua, tak sanggup bahkan untuk berdiri. Meskipun demikian bunda masih bahagia karena anaknya dengan segala keterbatasannya sekarang, masih bersemangat untuk menjalani hidup. Sejatinya terlihat lebih ceria dari orang lain. Maka, bunda tak ingin mengecewakannya dengan menampakkan wajah sedih atau iba di depan Kirei. Kekuatan bunda adalah Kirei, begitupun sebaliknya, kekuatan Kirei adalah bunda.

“Tak apa sayang, bunda senang bisa mengantarkanmu. Jadi, waktu bunda denganmu lebih banyak, sayang”, terasa penuh cinta setiap huruf yang terlontar dari bibir bunda, mengisi tank energi dalam jiwa Kirei.

***

            Astaghfirullah!

            Seketika Kirei terbangun dari tidur. Matanya melirik jam dinding di sudut barat, masih menunjukkan jam 02.25 dini hari. Keringat bercucuran menetes di balik rambutnya yang tergerai, melewati dahi dan pipi. Napasnya terputus-putus, naik turun dengan ritme tak terkendali. Masih jelas terlihat sesosok yang tergambar dalam mimpinya. Gerangan apa yang terjadi padanya. Pertandakah ini? Astaghfirullah. Ia hanya bisa berdoa semoga sahabatnya itu baik-baik saja.

Bunda yang tidur di sampingnya ikut terbangun mendengar suara ketakutan dan kekhawatiran anak tercintanya. “Kenapa sayang, ada apa?”.

“Ummh, bunda, enggak ada apa-apa bund. Maaf, bunda jadi terbangun”, seolah menyembunyikan perasaan yang sebenarnya tak dapat tersembunyi.

“Mimpi buruk? Hmm, sudahlah jika Rei tak mau memberi tahu bunda”, seperti paham bahwa anaknya tak mampu untuk bercerita. “Ayo mau qiamul lail, nak? Kita ambil wudhu yuk!”, bunda membuka selimut, berdiri, dan memapah Kirei untuk mengambil wudhu bersama.

Satu sujud, dua sujud, sampai sekian sujud dilalui seakan lebih khusyuk. Benar-benar pasrah pada Sang Pemilik Hidup saat takbir digemakan, saat asma-NYA diucap bersahutan. Hanya desiran angin malam yang terasa, hanya sahutan jangkring yang terkadang diselingi suara katak setia menemani di waktu sebagian banyak orang lebih memilih untuk tidur nyenyak. Melampiaskan kelelahan fisiknya di siang tadi. Hanya orang-orang yang berkomitmenlah yang Tuhan pilih untuk bangkit dan menghadap-NYA. Maka, siapa gerangan yang akan menyia-nyiakan kesempatan untuk memunajatkan doa, mengetuk pintu langit, merugilah ia yang mengabaikannya membiarkan kesempatan itu berlalu.

Seuntai doa setelah salam ia sampaikan. Ia tahu medis memvonisnya tak lama untuk menatap langit berbintang, pelangi melengkung setelah hujan, dan bunga-bunga di depan taman rumah bermekaran. Namun, ia tidak takut akan hal itu, ia tidak takut akan kematian, kullu nafsin dzaa iqotul maut. Ia hanya khawatir pada satu hal, pada sesosok wanita yang sangat ia cintai, ia khawatir akan bunda melebihi rasa takut terhadap kematiannya. Jika hari-hari sebelumnya ia berdoa untuk bundanya agar tetap tegar ketika ia telah tiada, maka malam ini berbeda, entah kenapa ia lebih takut kehilangan seseorang yang bahkan bukan merupakan keluarganya. Mimpi. Ya, mimpinya masih menghantui. Ia menjerit dalam hati, bermunajat pada Penguasa Langit dan Bumi, mengetuk lapisan-lapisan pintu langit, berharap tidak terjadi apa-apa terhadap sahabatnya, Yasha.

***

            Seperti biasa, bunda mengantar Kirei sampai kelas, dan disambut dengan kedua sahabatnya, Syifa dan Eka. Ada yang berbeda! Yasha. Yasha tak ada bersama mereka. Biasanya mereka bertiga yang menyambut Kirei dan bunda. Lah sekarang hanya berdua. Seketika memorinya kembali ke belakang. Teringat mimpi yang malam tadi menghampirinya. Refleks lisannya berucap. “Yasha kemana, Fa, Ka?”

“Tau tuh orang, telat kali ya. Habis tadi malem dia baru balik jam 2-an dini hari. Biasa tugas laporan. Dia kan deadliners”, Eka menimpali dengan santai.

Lima belas menit berlalu. Kirei semakin resah. Ia benar-benar kepikiran mimpinya tadi malam terhadap kejadian hari ini. Namun, ia enggan untuk menceritakan pada sahabatnya itu. Kirei memang pandai untuk menyembunyikan perasaan. Tapi, rasa penasarannya tak tertahankan. Berbisiklah ia di sela jam pelajaran pada dua sahabatnya itu, “Hmm, Yasha kok masih belum datang ya?”.

“Iya ya, parah banget kalau telat nyampe jam segini”, Eka menjawab.

“Hmm, atau bisa jadi dia gak masuk, kecapean mungkin”, Syifa menimpali.

Kirei masih belum tenang. Namun, sebisa mungkin menenangkan diri.

Kelas pertama usai. Mereka hanya sampai keputusan bahwa Yasha tidak masuk kuliah karena mungkin kecapean. Janggal sih, biasanya Yasha memberi kabar kepada sahabat-sahabatnya ini. Sudahlah, positive thinking.

Suara handphone Kirei berdering. Segera ia lihat, berharap ada kabar dari Yasha. Oh, bunda. Paling bunda mengingatkan nanti sore jadwal periksanya ke rumah sakit.

“Assalamu’alaikum, bunda”.

“Wa’alaikumusalam, nak”, suara bunda berbeda, agak serak. Bunda melanjutkan bicara dengan hati-hati. “Kamu baik-baik saja, nak?”

“Iya, bunda Rei baik saja kok. Ada apa bunda? Mau mengingatkan Rei ya buat periksa nanti sore? Hmm, Rei ingat kok bunda, terima kasih ya”, Kirei mencoba menerka apa yang akan dikatakan bunda.

“Iya sayang, syukurlah. Emhh, namun ada lagi yang ingin bunda katakan”, bunda tersendak, seakan tak sanggup menceritakannya. Khawatir Kirei kaget dan malah terjadi hal buruk kepadanya.

“Iya bunda, apa? Katakanlah!”

“Umhh, bunda tidak dapat mengatakannya lewat telpon sayang. Kamu ada kelas setelah ini?”

“Kebetulan tidak, bund”.

“Kalau begitu, kamu ke rumah sakit sekarang ya, sayang. Minta diantar oleh Syifa dan Eka. Sini, biar bunda bicara pada mereka”.

“Oh begitu bund, baiklah. Bunda tidak usah repot-repot meminta kepada mereka. Biar Rei saja yang minta tolong langsung”.

“Ya sudah, sayang, bunda tunggu ya!”

Klik. Sambungan satelit jarak jauh pun terputus dengan ditekannya tombol off. Percakapan berakhir.

***

            Tanpa bicara, bunda langsung memeluk Kirei. Lalu dengan hati-hati bunda berbicara, berbisik, dengan tidak melepaskan pelukannya. “Sayang, Yasha kecelakaan, tabrakan motor. Tenang sayang, semua akan baik-baik saja”.

Astaghfirullah. Kirei tidak dapat berkata apa-apa, speechless. Seakan petir menyambar jantungnya. Deg! Sakit. Tubuhnya jatuh, lemas. Wajahnya pucat. Hanya dzikir yang dapat ia lantunkan dalam hati. Bunda, Syifa, dan Eka panik. Segera memanggil petugas rumah sakit.

Kembali. Suasana ini menemaninya seperti beberapa pekan lalu. Semua menjadi serba putih, kabel terpasang diman-mana, tangan, dada, dan hidungnya. Rasa O2 yang ia hirup berbeda, bersih, tak ada campuran senyawa-senyawa lain. Cairan di samping tempatnya berbaring terus menetes mengisi kebutuhan cairan di tubuhnya. Hal ini sudah menjadi biasa baginya akhir-akhir ini.

Sementara di ruang yang tak jauh dari tempatnya berbaring, seorang pemuda berparas Indo sedang berjuang mempertahankan hidupnya. Darah terus-terusan keluar, luka dimana-mana, detak jantung yang naik turun tak terkontrol. Di bawah sorotan lampu, dokter dan suster sedang ikut memperjuangkan takdir Tuhan yang tak dapat dielakkan lagi. Gunting, jahitan, hampir selesai memperbaiki luka robek yang tergores di kepalanya. Operasi selesai. Namun, Yasha masih belum sadarkan diri.

“Bunda, tolong antar aku bertemu Yasha”, pinta Kirei sambil memohon.

“Kirei sayang, tapi kamu masih belum boleh kemana-mana dulu, nak”.

“Bunda, tolong”, Kirei benar-benar memelas. “Bunda, tolong sebelum Kirei benar-benar tidak dapat menemuinya, sebelum bunda benar-benar tidak dapat mengantar Rei bertemu dengannya, sebelum ia yang justru menemui Rei untuk menaburkan bunga di atas tanah merah”.

Hati bunda menjerit, menangis. Akhirnya, bunda mengalah. Perlahan bunda mendorong kursi beroda dua itu menuju kamar tempat Yasha dirawat.

Kirei tetap duduk di kursi roda di samping kasur tempat Yasha berbaring kini, dengan didampingi bunda.

Kirei hanya bisa melihat sedih, kemudian berdoa di dalam hati. Yaa Allah… jika harus ada nyawa yang Kau ambil. Maka, ambil saja nyawaku. Jika harus ada insan yang berat menanggung kesakitan, cukuplah hamba. Yaa Allah Yang Maha Menyembuhkan, tolong kembalikan Yasha seperti semula. Sosok yang periang, penuh semangat, pantang menyerah. Sungguh, Kirei tak sanggup melihat Yasha yang sekarang. Tapi, dia yakin Yasha manusia yang tak mudah menyerah, saat ini dia pasti sedang berperang melawan kesakitannya, memperjuangkan hidupnya. Yasha, tolong bangun, Yash! Aku ingin melihat senyummu sebelum aku yang justru meninggalkanmu. Tolong sekali saja ijinkan aku mengucapkan ‘terimakasih’ karena kamu yang membuatku masih bisa bertahan sampai sekarang, dengan motivasi-motivasimu. Kamu pernah bilang, Tuhan itu Maha Baik. Jika kita berdoa, maka Tuhan pasti akan memberi. Jadi, tolong sekarang kamu bangun, Yash! Karena aku berdoa agar kamu dapat sadar untuk melihatku disini. Aku mohon, aku mohon.

            Kirei kini terunduk di atas kasur putih itu dengan tangan menutupi wajah, membendung air mata yang tak terbendung di balik pelupuk. Bukan, bukan karena putus asa Yasha tak akan bangun, karena ia yakin akan keteguhan Yasha. Justru ia putus asa pada dirinya sendiri, ia khawatir tidak dapat melihat Yasha sadar. Namun, sekejap langit memberi isyarat bahwa Tuhan tak akan membiarkan doa hamba-Nya hanya tergantung di langit-langit alam. Terasa suatu getaran, gerakan jari, dan beratnya gerakan pelupuk mata. Alhamdulillah. Yasha sadarkan diri.

Bibirnya bergerak namun tak bersuara. Seperti ada hal yang ingin disampaikan, namun berat tak terucap. Sekali, dua kali, ia menghela napas. Mencoba mengumpulkan tenaga menggerakkan pita suaranya. Bisamillah, terucap dalam hatinya untuk memulai bicara. “Rei”. Hanya itu.

Kirei tersenyum, benar-benar bahagia. Doanya Allah kabulkan. “Ya, Yasha. Aku di sini”.

“Ma..af mem-bu-at-mu kha-wa-tir”, penuh perjuangan Yasha mengucapkannya.

“Tidak, Yash, tidak! Kamu akan baik-baik saja. Kamu pasti bisa. Kamu jangan menyerah untuk berjuang”.

Yasha tersenyum. Kemudian melanjutkan perkataannya dengan terbata-bata, “Aku mau bicara sesuatu padamu. Tapi, kamu jangan kaget.”

“Ya, apa, Yash? Katakanlah! Aku mendengarkan”.

“Bunda”, Yasha melirik bunda yang ada di samping Kirei.

“Ya, nak”, bunda menjawab lembut.

“Bunda, bolehkah hati saya menjadi bagian dari hidup Kirei? Saya ingin selalu bersama dengan Kirei”. Yasha tak ingin melewatkan kesempatan bicaranya ini, ia menyatakan perasaannya terhadap Kirei. Ia sadar, bisa jadi ia pergi lebih dulu, atau mungkin gadis yang ia cintai ini yang pergi lebih dulu. Hanya Tuhan yang tahu. Yasha hanya tak ingin mati dalam rasa penasaran jika hal ini tidak ia sampaikan.

Entah apa yang Kirei rasakan. Jiwanya melayang, mencari-cari setiap huruf yang beterbangan untuk ia ucapkan. Begitupun bunda. Bunda tercengang kaget. Namun, sebelum sempat menjawab, keadaan malah memanik. Kirei merasa sakit tak tertahankan di organ hatinya.

Malam ini sepertinya akan menjadi malam yang berat untuk Kirei lalui, memperjuangkan hatinya agar tetap kuat menjalani hidup. Dokter sudah angkat tangan jika masih belum ada yang mau mendonorkan hati untuk Kirei. Jika saja besok masih belum ada yang mendonorkan hati, maka Kirei benar-benar tidak dapat menjawab pertanyaan Yasha tadi, bunda benar-benar akan kehilangan putri terkasihnya ini.

Lagi-lagi di belahan ruangan sana, Yasha kembali masuk ruang UGD.

***

            Pagi ini langit cerah serasa mendung bagi seseorang yang sedang berdiam diri sedari tadi di samping gundukan tanah merah, menabur bunga, memanjatkan doa pada Tuhan Yang Memberi Hidup dan Mati. Padahal, orang-orang berbaju hitam yang lain telah meninggalkan tempat itu sekitar satu jam yang lalu. Ia masih setia. Berbicara pada batu nisan yang tertancap di salah satu ujung gundukan tanah itu.

            Hatimu telah menjadi bagian hidupku, dan akan selalu bersamaku. Terimakasih. Aku berjanji akan menjaganya dengan penuh cinta, kata yang bahkan belum sempat aku katakan langsung padamu.

 

** selesai **

Bogor, 3 November 2013

10.31 WIB

Iklan

Jerit Hati Bunda

“Kirei Qolby”. Hening. Setiap mata berlarian mencari sosok yang disebut. Dosen Ekologi Hutan mengulang kembali menyebut nama itu, mengabsen. “Kirei Qolby, hadir?”

“Kirei sakit sudah 3 hari, Pak”. Seorang gadis berkacamata cokelat angkat bicara.

***

                “Fa, tunggu!”

“Eh Yasha, ada apa?”

Setengah berlari menghampiri, “Kirei sakit lagi? Dimana dia? Di rumah sakit mana?” Yasha benar-benar ingin mengetahui.

“Kemarin aku ke rumahnya, bundanya bilang penyakit Kirei semakin menjadi. Kirei sekarang dirawat di RS. Afiat ruang Kenanga 1. Aku dan Eka mau jenguk dia sekarang, kamu mau ikut, Yash?”.

“Benarkah? Iya aku ikut!”. Tanpa pikir panjang Yasha lengsung meng-iya-kan.

Awan tebal masih menghalangi sorotan sinar Sang Surya, seperti hari-hari sebelumnya di bulan September ini. Tak ada panas terik di tengah siang kini. Syifa, Eka, dan Yasha mulai jalan menuju RS. Afiat. Syifa dan Eka memang sahabat yang selalu setia menyemangati Kirei, bahkan di saat kondisinya seburuk sekarang.

Sampai di depan ruang inap, Syifa, Eka, dan Yasha disambut oleh bunda –begitu mereka memanggil ibunya Kirei, karena terlampau dekat seperti ibu sendiri–, namun sentuhannya kini dingin, tak sehangat biasanya.

“Assalamu’alaikum, bunda”, ketiga remaja itu mengucapkan salam sambil bergantian mencium tangan.

Terlihat sedikit memaksakan diri untuk tersenyum, bunda berusaha menyambut lembut. Menyembunyikan kesedihan yang mengguncang jiwanya kini. “Wa’alaikumusalam warohmatullah, nak”.

“Bagaimana kondisi Kirei, Bun?”, tanya Eka dengan hati-hati.

“Hmm, semakin memburuk, nak. Kirei belum bisa dijenguk dulu. Kita hanya bisa melihat dari balik kaca pintu untuk sekarang ini. Tidak keberatan kan Dek Syifa, Dek Eka, dan Dek….?”

“Yasha, bunda.”

“Ya, Dek Yasha.”

“Oh, tidak apa-apa, bun”. Jawab Eka mewakili dua orang temannya yang lain.

“Bunda, apa yang terjadi dengan Kirei?”, rasa penasaran Yasha tak tertahan.

Bunda mengajak ketiga remaja itu duduk di kursi samping ruang inap Kirei, Kenanga 1.

***

                “Bu, mohon maaf saya harus menyampaikan ini. Kondisi Kirei semakin memburuk. Menurut catatan atas pemeriksaan kami, ia hanya punya waktu sebentar lagi, sekitar 2 bulan untuk mampu bertahan jika memang masih belum ada yang bisa dan cocok untuk mendonorkan organ hati”. Dokter langganan Kirei menuturkan dengan hati-hati, agar maksud sampai namun kondisi tetap jerhin. Itu kata-kata terakhir yang sangat mengejutkan Bunda kemarin malam.

Malam itupun seperti kiamat bagi Bunda. Anak semata wayangnya divonis oleh dokter. Untungnya Bunda masih punya iman di hati. Bunda yakin urusan maut telah ALLAH tuliskan bahkan saat manusia belum kenal dunia. Hanya itu yang kini menguatkan Bunda.

Ya, wanita berperangai lembut ini memang sangat tegar. Bahkan saat 16 tahun yang lalu, ketika Bunda dan Kirei kecil ditinggal pergi begitu saja oleh ayahnya. Rumah tangganya memang pecah, tapi kekuatan hati Bunda mampu menopang kehancuran hatinya saat itu. Kekuatan Bunda hanya satu, Kirei. Namun, apa jadinya jika sumber kekuatannya itu kini seakan mulai menjauh karena penyakit yang kian hari kian menggerogoti, mematikan.

***

                “Bunda, tak usah khawatir. Yasha yakin Kirei mampu melalui ujian ini. Bukannya ALLAH tak akan membebani di luar kemampuan hamba-NYA?”. Yasha mencoba memberi topangan agar Bunda semakin tegar.

“Iya, nak. Bunda juga yakin. Bunda hanya sedih melihat Kirei yang ceria kini terkapar tak berdaya dengan segala macam kabel medis yang tertempel di tubuhnya. Bahkan untuk tersenyum pun tak bisa. Bunda rindu, rindu senyuman manisnya, Bunda rindu sapaannya yang setiap pagi menjadi suplemen penyemangat Bunda, Bunda rindu ucapan selamat malamnya yang selalu mendoakan Bunda kala akan tidur, Bunda rindu Kirei satu-satunya buah hati Bunda”, tangan Bunda dengan segera mengusap air mata yang keluar dari ujung pelupuk matanya. Pada kondisi seperti ini Bunda masih mencoba memberikan kesan kuat. Padahal dunia tahu betapa rapuhnya hati seorang ibu yang tahu kondisi anaknya berada dalam jangka waktu hidup tak lama. Jika harus memilih, sepertinya Bunda lebih rela menjadi orang yang terkapar di tempat tidur serba putih itu, dengan tempelan kabel-kabel, dengan inpusan yang mengaliri cairan tubuh setiap detik, dengan oksigen yang terhubung ke hidung dan mulut. Namun, sang takdir berkata lain.

Terlihat dari sudut kanan seorang Bapak berpakaian putih setengah berlari. Menoleh pada arah berlawanan, pintu ruangan Kenanga 1 terbuka dan seorang suster datang menghampiri empat orang insan yang dirudung duka di kursi panjang dua meter itu. Suster tersebut menghampiri Bunda. Entah apa yang terjadi. Dokter semakin mendekat ruangan tempat Kirei dirawat. Kini, Bunda, dokter, dan suster memasuki ruangan serba putih bernama Kenanga 1. Kondisi Kirei semakin memburuk. Bunda kembali menguatkan hati. Menjerit doa dalam qolbu pada ALLAH.

Sementara Yasha, Syifa, dan Eka masih tercengang, bertanya-tanya tanpa jawaban.

(bersambung)

Buku Catatan Kupu-Kupu

5 september 2013

Semua orang sibuk dengan aktivitasnya. Orang yang satu berbicara dengan orang yang lain, begitupun orang kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya. Menukar argumen yang kadang tak ada sinergis diantaranya. Kata-kata hanya terhambur tanpa makna. Keluar tanpa arti nyata.

Berbeda dengan pemandangan di sudut Barat. Mereka sibuk membidik, melihat sudut yang tertuju oleh jarum kompas. Sementara sisanya hanya duduk bercengkrama di bawah pohon Gmelina arborea dan pohon-pohon tetangganya, cukup meneduhkan di saat panas terik menyengat tanpa ampun ini.

Kirei, gadis berkerudung hijau lumut itu tengah asyik dengan pena dan buku catatan bersampul motif kupu-kupu yang setia menemaninya setiap saat. Satu dua kata, kalimat, paragraf, sampai lembaran-lembaran buku hariannya kini terisi dengan coretan-coretan pujangga. Entah saraf seperti apa yang merangkai otaknya sehingga begitu mudah rasanya setiap kata dirangkai dengan kata yang lain membentuk karangan yang mengalir indah. Hebatnya, tak perlu waktu lama untuk menyelesaikan semua itu. Kirei mengamati gerak-gerik teman-temannya, dengan segala kesibukan yang ada. Lalu, ia menyihir pemandangan tersebut dalam buku kecil yang selalu setia menemani.

“Kirei!”. Panggil kakak asisten. Ia langsung menutup buku catatannya dan menyimpannya di dekat pohon tempat ia meneduh tadi saat menunggu giliran praktikum, mengukur dimensi pohon. Segera ia menghampiri sumber suara yang memanggilnya tadi.

Hujan turun tanpa diduga memburu setiap orang yang di luar naungan atap. Bergegas semua orang mencari tempat berteduh. Kelompok praktikum yang sedari tadi melakukan pengukuran pohon berpindah tempat ke ruang laboratorium atas titah kakak-kakak asprak. Menyelamatkan diri dari kejaran hujan yang kian deras kini.

***

            “Mana ya? Seharusnya ada di sini”, gerutu Kirei dalam hati. Tangannya sibuk mencari di tas ransel hijau diiringi mata yang jeli melihat setiap sela-sela terdalam tasnya itu.

“Hai Kirei! Mencari sesuatu?”, tiba-tiba Yasha muncul dari samping kanannya.

“Hmm, iya Yash”, jawabnya singkat masih penas.aran mencari bukunya yang hilang.

“Buku catatan bermotif kupu-kupu?”, tanya Yasha dengan lembut.

“Hah, iya iya!”, Kirei tampak kaget, namun antusias.

“Ini”, sambil menyodorkan buku ke pemiliknya. “Aku menemukannya pekan kemarin sewaktu praktikum di Arboretum. Maaf, aku terpaksa membacanya karena ingin mengetahui siapa pemiliknya. Tak ada nama di cover. Baru kutemukan namamu di bagian tengah saat kau menuliskan pengaduanmu kepada Tuhan tentang penyakit yang menemanimu sampai saat ini”.

Kirei terlihat sangat kaget dengan ucapan Yasha. Speechless! Tak satupun kata terucap sebagai tanggapan. Hening. Suasana kini berubah. Hanya desiran angin yang terdengar lembut menyampaikan bahwa sebentar lagi hujan mungkin akan turun. Panorama langit pun ikut menyemangati dengan kumpulan awan gelapnya. Akhirnya, Yasha kembali angkat bicara, tak tahan dengan semua kebisuan itu. “Maaf, Rei, maaf banget. Aku tak bermaksud membaca apa yang selama ini kamu rahasiakan. Niatku hanya ingin tahu pemilik buku ini agar aku dapat mengembalikannya. Hanya itu. Tapi, tak apa apabila kamu tak memaafkan. Aku terima konsekuensi jika kamu harus marah padaku”. Wajah penyesalan dan rasa bersalah itu terasa tulus.

Kirei tetap tidak menjawab. Matanya sembab. Secercah air  menitik di sudut matanya.

(bersambung)

Mata Kuliah Olah-jantung

Dag dig dug, jantungnya serasa berdebar lebih cepat dari biasanya. Bagaimana tidak, profesor yang menguji merupakan orang yang benar-benar ahli pada bidangnya. Salah sedikit saja, kena tuh telinga dengan semprotan sindiran beliau. Profesornya manusia yang perfectionis memang.

Gadis berjilbab merah bata itu akrab dipanggil Kirei. Hari ini dia beserta dua orang anggota kelompoknya harus melakukan presentasi praktikum salah satu mata kuliah yang luar biasa sangar. Bukan karena pelajarannya yang susah, namun karena faktor dosen pengujinya. Panggil saja beliau Mr.X, orang yang benar-benar ahli di bidangnya. Bahkan banyak instansi serta universitas baik di dalam maupun di luar negeri yang meminta pendapatnya. Hal ini menyebabkan kelasnya sering ditinggal, dan mengganti jam kuliah di waktu lain.

“Sekarang silakan presentasi dari kelompok Gmelina bagian gubal!”, panggil sang profesor. Sontaklah jantungnya berdetak bahkan tiga kali lebih cepat dari biasanya. Derap langkah kaki mungil itu terkesan khawatir, air mukanya pucat, dan pita suaranya bergetar grogi. Kirei membuka presentasi dengan salam dan pendahuluan. Hanya setengah menit pertama rasa grogi itu muncul, selanjutnya ia berhasil mengatasi ketakutannya semenjak berangkat dari asrama menuju tempat praktikum ini. Mantap, lancar penyampaian bahasan darinya juga dua orang teman kelompoknya.

Tiba saatnya sesi pertanyaan, kembali jantungnya dag dig dug tidak karuan. Serangan apa lagi yang harus ia hadapi hanya untuk satu mata kuliah ini. Satu. Dua. Tiga. Pas! Tiga orang penanya sesuai yang dijatahkan.

Selesai. Semua pertanyaan berhasil dijawab semulus jalan tol, lancar. Presentasipun berakhir dengan senyum penutup. Seakan semua beban di pundak rontok tak tersisa. Sekarang saatnya balas dendam. Otak cerdiknya berpikir keras merumuskan pertanyaan dengan rangkaian kata yang pas untuk kelompok lain yang akan muncul. Balas dendam? Hmm, terkesan negatif memang. Namun, jika untuk kebaikan, sah-sah saja kan?!

Kumandang adzan ashar mengantar senja yang sebentar lagi menyapa. Diiringi semilir angin yang sejuk menampar pipi, menyibak kain kudung yang menjulur, membuatnya menari seirama dengan melodi yang diciptakan alam. Seiring itu jam pelajaran pun berakhir untuk hari ini. Kisah esok siap ia sambut dengan penuh penasaran atas misteri yang menjadi rahasia Tuhan untuk alam-Nya.