Bertransaksi dengan Tuhan

 

346090.TIF
346090.TIF

Hamas Abdullah, nama terbaik pemberian ummi dan abi untukku, yang kini lebih akrab dengan panggilan Hamas. Aku adalah seorang pemuda yang sedang menempuh pendidikan jurusan arsitek di salah satu kampus terbaik di kota kembang. Selain melakoni statusku sebagai mahasiswa tingkat akhir, aku menyibukkan diri dengan agenda luar kampus, karena organisasi dalam kampus sudah bukan masa ku lagi, ada generasi-generasi baru yang harus mencicipi nikmatnya berjuang di ranah mahasiswa. Continue reading “Bertransaksi dengan Tuhan”

Iklan

Jika yang “menjaga” saja masih digoda, bagaimana dengan yang “mengumbar”?

siluet-akhwat

Saat itu ba’da maghrib. Langit tak menunjukkan tanda-tanda bahwa hujan akan turun. Tepat saat rasa lapar menyerang, Rin pergi keluar dari asrama untuk memenuhi hak fisiknya. Kantin samping asrama kampus menjadi pilihan tempat untuk ia menunaikan jadwal makan yang ke tiga di hari ini. Memang begitu, hidupnya terjadwal, ditambah ia mengidap penyakit lambung yang tidak boleh asal makan, apa dan kapan.

Hampir saja ia melupakan suatu hal. Saat kembali ke asrama, Rin melihat ada orang yang memegang schdule board ikut dalam antrian di suatu minimarket di samping kantin tempatnya makan tadi. Benda itu menghentikan langkahnya, membuatnya berpikir akan suatu hal yang telah lama ia catat dalam memori pikirannya. Ia mencari-cari. Continue reading “Jika yang “menjaga” saja masih digoda, bagaimana dengan yang “mengumbar”?”

Belajar Mujahadah dari Syetan

Godaan syaitan Mujahadah. Makna kata tersebut sepertinya sudah tak asing di kalangan kita, para pencari ilmu. Mujahadah dapat diartikan sebagai sungguh-sungguh. Seringkali diibaratkan sebagai kesungguh-sungguhan dalam memerangi musuh, musuh di sini dapat disimbolkan sebagai nafsu. Praktik mujahadah ini tidak semudah yang diucapkan. Karena hal terberat dalam hidup ini Continue reading “Belajar Mujahadah dari Syetan”

Hanya Segelas Air untuk Operasi

Tok tok tok

Terdengar suara ketukan pintu di depan rumah gedong nan asri itu. Sepanjang jalan setapak sekiar empat meter dari gerbang, tampak tanaman hias dan tanaman obat menyemai di samping kanan dan kirinya. Anehnya, di rumah sebesar ini tidak ada anjing penjaga yang aktif menggonggong saat ada tamu, ataupun satpam yang siap siaga dengan ketatnya terhadap siapapun yang berkunjung. Rumah ini terlihat benar-benar bersemi, layaknya bunga-bunga di depan terasnya.

Tak lama dari ketukan pintu yang disusul ucapan salam itu terlihat seorang ibu muda –sekitar 30 tahun dari parasnya– menjawab salam seraya membuka pintu. Di muka pintu tampak seorang anak berusia 15 tahun dengan tampang lusuh dan kumuh. Anak itu mengemis kasih seraya berkata, “Bu, tolonglah saya. Saya tersesat di kota ini, sangat kecapean. Bekal saya sudah habis. Sudikah ibu memberikan segelas air untuk minum saya?”.

Ibu pemilik rumah itu menjawabnya dengan ramah, tidak tampak kesombongan sedikitpun dalam sikapnya, walaupun jika dilihat dari keadaannya ia adalah orang berada. Ditemani segores senyum ibu muda itu menjawab, “Masyaallah nak, tentu saj boleh, mari masuk dulu!”.

Sang anak sumringah bahagia. Sejak tadi pagi, baru siang ini ia menemukan orang yang begitu baik. Mau percaya kepadanya. Tidak seperti beberapa orang yang sempat menolaknya karena melihat tampangnya yang begitu lusuh, tidak meyakinkan, bahkan mencurigakan. Namun, laksana oase di tengah panasnya padang pasir ibu bekepala tiga ini. Mendengar ajakan itu, si anak menjawab, “Terimakasih banyak, Bu. Biarlah saya menunggu di teras ini. Saya hanya membutuhkan satu gelas air untuk menghilangkan dahaga saya ini”.

Kemudian sang ibu masuk ke dalam rumah. Beberapa waktu kemudian ibu itu keluar dengan segelas air di tangan kanannya. Anak itu langsung meminumnya dengan diawali doa, syukur terhadap Tuhan atas rezekinya kini. Glek glek glek. Airpun mengalir membasahi bibirnya yang kering, menyapa lidah dan terus mengalir sampai teredarkan ke seluruh tubuhnya.

Alhamdulillah. Si anak mengakhiri minumnya. Kemudian menyerahkan gelas kosong kepada ibu itu sambil menatap dalam-dalam wajah bersahajanya dan berkata, “Terimakasih banyak, Bu. Semoga Tuhan membalas kebaikan ibu”.

Singkat cerita, 20 tahun kemudian si ibu tadi terserang penyakit ganas, kanker. Tubuhnya yang segar dulu, sekarang hanya tinggal tulang belulang. Kanker menggerogoti fisiknya. Sedikit demi sedikit harta yang ia miliki mulai habis guna pengobatan. Sekarang ia jatuh miskin. Sampai suatu hari, ia pergi ke rumah sakit dengan suaminya. Pihak rumah sakit dengan berat hati harus menolak permohonan penangguhan biaya operasi. Padahal ibu muda yang kini telah menjadi tua itu harus segera dioperasi. Tidak langsung pulang, mereka kemudian duduk di deretan bangku penunggu. Meratapi nasib.

Tidak disadari, ternyata sedari tadi ada seorang laki-laki mengamati percakapan suami istri tadi dengan petugas rumah sakit. Laki-laki itu menatap tajam dari jauh, mengamati wajah ibu tadi. Ya benar! Bisik hatinya. Laki-laki itu mendekat dan berbicara kepada petugas rumah sakit. Kemudian berbalik badan menghampiri ibu tua tadi yang sedang dipeluk suaminya. Ia menyapa, “Assalamu’alaikum”.

“Wa’alaikumussalam”, jawab suami istri itu berbarengan.

Laki-laki itu menatap tegas penuh keyakinan, menyalurkan energy optimis, seraya berkata, “Ibu, bapak, silakan untuk lanjutkan operasi. Mengenai biaya, jangan dipikirkan. Semuanya sudah saya selesaikan”.

Sontak, suami istri itu kaget, bercampur bahagia, dan bingung.

“Apakah itu benar? Mengapa anda melakukan itu semua?”, tanya sang ibu pada pemuda itu, menyelidik.

Pemuda tadi menjawab, “Apakah ibu ingat kejadian 20 tahun yang lalu? Ada seorang anak 15 tahun dengan penampilan lusuh dan kucel yang meminta segelas air untuk penghilang dahaganya? Saat itu si anak sempat merasa putus asa karena tak seorangpun mempedulikannya. Namun, saat anak itu mengunjungi rumah mewah tapi sederhana, ada seorang ibu muda yang mempedulikannya dengan memberikan segelas air untuk penghilang dahaganya. Lalu, sebelum pamit, si anak menatap dalam-dalam wajah ibu muda itu. Di dalam hatinya ia bersumpah akan selalu mengingat kebaikan ibu itu dan berusaha untuk membalasnya.” Tutur pemuda itu. “Apakah ibu mengingatnya?”, pemuda tadi bertanya ulang, menegaskan. Tanpa menunggu jawaban, ia melanjutkan, “Anak kecil lusuh itu adalah saya, Bu!”.

Tak dapat menjawab dengan kata-kata. Hanya deraian air mata haru yang keluar dari mata ibu tua itu, diiringi serantai syukur pada Tuhan yang telah menciptakan skenario hidup yang luar biasa ini.

Bogor, 17 Maret 2013

Semoga dapat menjadi inspirasi

“Berbuat baiklah dengan ikhlas kepada siapapun, kapanpun, dan dimanapun. Yakinlah bahwa kebaikan yang kita berikan pada dasarnya semua akan kembali kepada kita, bagaimanapun caranya, dalam waktu yang tak disangka-sangka.”